Besok, Gus Mus Tausiyahkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di Jomblangan Banguntapan

KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. (Foto: NU Jawa Tengah)
KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. (Foto: NU Jawa Tengah)

Banguntapan, JOGJADAILY ** KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus rencananya akan hadir di Yogyakarta untuk menyampaikan tausiyahnya kepada umat Islam, khususnya kalangan warga nahdiyin.

“Kami akan mengadakan Pengajian Akbar pada Jumat tanggal 11 Maret 2016 besok dengan menghadirkan pembicara, yaitu Gus Mus,” ujar Sekretaris Panitia Acara, Barman, Selasa (8/3/2016).

Dijelaskan lebih lanjut bahwa acara tersebut akan dilaksanakan di halaman Masjid An-Noer Jomblangan, Banguntapan, mulai pukul 19.30.

Sedangkan mengenai tema acara, kata Barman, adalah ‘Menguatkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar’.

Diharapkan dengan kehadiran Gus Mus yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang Jawa Tengah tersebut, umat Islam Yogyakarta makin mantap dalam meningkatkan amar ma’ruf nahi munkar.

“Silakan masyarakat hadir karena acara tersebut gratis alias tidak dipungut biaya,” pungkas Barman.

Hadiri Seminar UII

Belum lama ini, Gus Mus juga hadir pada Seminar Nasional Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) bertajuk ‘Sinergi NU dan Muhammadiyah dalam Membangun Peradaban Rahmatan Lil ‘Alamin’, tepatnya Sabtu (6/2/2016), di Kampus Terpadu UII.

Gus Mus didapuk menjadi narasumber bersama Ketua PP Muhammadiyah, Profesor Syafiq A. Mughni.

Ketika itu, Gus Mus menyampaikan sinergisitas NU-Muhammadiyah dapat terwujud dan mampu membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Sinergi NU dan Muhammadiyah, menurut Gus Mus, telah terjalin sejak kedua pendiri, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama menuntut ilmu di Negeri Hijaz atau yang sekarang disebut Arab Saudi.

“Beliau berdua belajar kepada Kiai Ahmad Khotib al Minangkabawi, seorang ulama besar di Hijaz yang berasal dari Indonesia. Beliau memiliki pemikiran maju, kedalaman ilmu. Murid-muridnya banyak menjadi tokoh. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, keduanya yang paling menonjol,” paparnya.

Menurut tutur mantan Rais ‘Am PBNU ini, sebagai organisasi besar, menjadi hal biasa bila ada perbedaan-perbedaan. Meski demikian, perbedaan-perbedaan harus disikapi dengan bijak dan tidak menimbulkan perpecahan.

Gus Mus mencontohkan bagaimana KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan mendahulukan sikap bijak dalam memandang perbedaan di antara keduanya.

“Dalam menghadapi perbedaan yang sering terjadi di kalangan warga NU dan Muhammadiyah, mereka juga tidak kagetan. Perbedaan adalah fitrah maka dibutuhkan sikap yang menyegoro sebagaimana kedua tokoh tersebut,” terangnya.

Tiga Modal Utama

Kiai yang mahir berpuisi itu lantas memaparkan tiga modal utama sinergisitas NU dan Muhammadiyah.

“Kalau kita lihat, NU dan Muhammadiyah untuk bersinergi sudah memiliki modal yang sama. Pertama, karena NU dan Muhammadiyah mempunyai tradisi pendalaman ilmu keislaman,” ucapnya.

Baik pendiri NU maupun Muhammadiyah, sambungnya, memiliki ilmu keislaman yang autentik. Keduanya memiliki sanad ke atas, hingga sahabat Nabi Muhammad SAW. Beliau berdua sama-sama pernah belajar dari Muhammad Abduh tentang Al-Manar.

Modal kedua, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu, pendiri NU dan Muhammadiyah memiliki hubb al-watan. Tokoh dari dua ormas ini banyak menjadi pemimpin dan terlibat perjuangan kemerdekaan.

“Kedua organisasi ini sama-sama mencintai Indonesia. Tanah Indonesia menjadi rumah bersama bagi NU dan Muhammadiyah. Seorang pengamat pernah mengatakan kalau saja tidak ada NU dan Muhammadiyah maka tidak ada NKRI,” jelasnya.

Sementara modal ketiga, kedua organisasi memiliki ruh al-dakwah yang sama. Gus Mus menerangkan, NU dan Muhammadiyah berdakwah dengan semangat mengajak, bukan menghakimi. Dakwah dengan cara-cara bijaksana membuat penduduk Nusantara tempo dulu mau menerima ajaran Islam secara lapang dan damai.