Cakupan Imuninasi Lebihi Target Nasional, DIY Absen Program PIN 2016

Pencanangan PIN 2016 oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo. (Foto: Sekretariat Kabinet)
Pencanangan PIN 2016 oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo. (Foto: Sekretariat Kabinet)

Depok, JOGJADAILY ** Dokter anak Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (RS UGM), Fita Wirastuti, mengungkapkan, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio, 8-15 Maret 2016 secara gratis.

Imunisasi polio yang dilakukan pada balita usia 0-59 bulan merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mengeradikasi polio secara global pada 2020. Pemberian vaksin polio diharapkan mampu mencegah anak-anak Indonesia tertular virus polio dan mempertahankan status Indonesia yang bebas polio sejak 2014 lalu.

“Meskipun WHO telah memberikan sertifikasi bebas polio, namun risiko penyebaran penyakit ini masih cukup tinggi. Selama virus polio liar masih ada di dunia maka risiko terjadinya penularan tetap ada,” ujarnya Kamis (10/3/2016), dirilis Humas UGM.

Ia menyebut polio sebagai penyakit menular yang disebabkan infeksi virus poliomyelitis. Infeksi virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan secara permanen bahkan kematian. Penyebaran virus ini melalui kontak dengan makanan, minuman, maupun percikan ludah yang telah terkontaminasi virus polio.

Fita mengungkapkan, Indonesia masih berisiko tinggi terjangkit lagi penularan polio melalui importasi dari negara lain yang belum bebas polio. Saat ini, masih ada dua negara yang belum bebas polio, yaitu Afganistan dan Pakistan.

Karenanya, upaya-upaya pencegahan timbulnya kembali polio perlu dilakukan melalui imunisasi polio ini. Pasalnya, masih ada sejumlah daerah di Indonesia terutama kawasan Timur Indonesia yang memiliki cakupan imunisasi polio yang rendah.

“Melalui imunisasi ini diharapkan meningkatkan kekebalan anak sehingga dapat menaikkan kualitas dan kesehatan hidup masyarakat,” tandas Fita.

DIY Absen

Lebih lanjut, Fita memaparkan, PIN berlangsung serentak di seluruh provinsi, kecuali Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Absennya DIY dalam program PIN 2016 ini dikarenakan cakupan imunisasi sudah melebihi target nasional.

Menurutnya, pemerintah menargetkan cakupan imunisasi secara nasional hingga 95 persen, sementara cakupan imunisasi di DIY telah mencapai 98 persen. Di samping itu, DIY memiliki surveilans lingkungan yang baik dan tidak ditemukan virus polio liar.

Sejak 2007, sambungnya, DIY sudah tidak menggunakan vaksin polio tetes/oral. DIY telah menggunakan Inactived Polio Vaccien (IPV) atau vaksin polio injeksi. Vaksin ini merupakan virus polio yang telah dimatikan dan disuntikkkan pada balita.

“Mulai tahun 2007 lalu DIY sudah memasukkan vaksin polio suntik kedalam program imunisasi,” tutur Fita.

Vaksin polio suntik telah menjadi program imunisasi wajib di DIY. Vaksin diberikan sebanyak tiga kali dalam imunisasi dasar 9 bulan, yaitu pada usia 2,3, dan 4 bulan. Selanjutnya, vaksin akan diberikan kembali sebagi booster pada usia 18 bulan dan 2 tahun.

“Jadi, bagi para ibu yang memiliki anak balita di DIY tidak perlu ikut PIN Polio, karena vaksin ini sudah menjadi program imunisasi wajib di DIY,” pungkasnya.