Kunjungi DIY, Pemerintah Belgia Tertarik Kembangkan Peternakan Sapi

Gubernur DIY Hamengku Buwono X menerima Wakil Presiden dan Menteri Ekonomi Industri, Inovasi, dan Teknologi dari wilayah Wallonia, Jean Claude Marcourt, di Kepatihan. (Foto: Humas DIY)
Gubernur DIY Hamengku Buwono X menerima Wakil Presiden dan Menteri Ekonomi Industri, Inovasi, dan Teknologi dari wilayah Wallonia, Jean Claude Marcourt, di Kepatihan. (Foto: Humas DIY)

Kepatihan, JOGJADAILY ** Pemerintah Belgia tertarik mengembangkan peternakan sapi di Indonesia. Untuk mewujudkannya, dijalinlah kerja sama universitas kedua negara.

Hal tersebut disampaikan Wakil Presiden dan Menteri Ekonomi Industri, Inovasi, dan Teknologi dari wilayah Wallonia, Jean Claude Marcourt, bersama 12 delegasi, saat berkunjung ke Gedhong Wilis Kepatihan, Rabu (16/3/2016), dirilis Humas DIY.

Marcourt berharap, dengan ada nya kerja sama antar-universitas, kedua negara bisa saling bertukar pengalaman, bertukar peneliti, dan hal lain berkait penelitian.

“Selain itu, mengingat bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, kami ingin membantu mencarikan solusi dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Ke depannya, kami harapkan Belgia bisa bekerja sama untuk mencarikan solusi-solusi terkait perubahan iklim melalui berbagai inisiatif termasuk pertukaran pelajar dan lain sebagainya,” ujarnya.

Ia berdiskusi dengan Gubernur DIY Hamengku Buwono X seputar kerja sama Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada dengan Faculty of Veterinary Medicine Liege University berkaitan dengan pengembangan sapi di Indonesia. Sebelumnya, Belgia telah bekerja sama di bidang peternakan dan pertanian.

“Hubungan erat yang sudah dijalin antara Indonesia dan Belgia memang sudah cukup lama. Saat ini, Belgia membawa misi ekonomi terbesar yang dipimpin oleh Putri Atrid ke Indonesia. Belgia membawa delegasi kurang lebih 300 orang yang terdiri dari pejabat tinggi Pemerintah Federal maupun Regional Belgia dalam misi ekonomi,” papar Marcourt.

Sementara itu, Gubernur DIY mengingatkan, apabila nanti pengembangan dengan suntik atau pun sebagainya, sapi harus berkualitas.

“Perlu diingat juga bahwa pola makan sapi di Indonesia adalah pola makan lokal, bukan pola makan yang penuh suplemen. Karena, akan menjadikan biaya pakan mahal, sehingga tidak cocok untuk peternak atau kelompok tani. Idealnya, populasi sapi itu tiga kali lipat jumlah penduduk, sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sehari-hari,” jelas Sultan.

Hilirisasi Riset UGM

Pada hari yang sama, dilakukan penandatanganan MoU antara UGM dengan University of Liege Belgia. Keduanya bersepakat memperkuat kerja sama. Kesepakatan dilakukan untuk memperluas kerja sama di bidang akademik dan penelitian.

“Saat ini, UGM tengah melakukan hilirisasi riset, bekerja sama dengan berbagai mitra industri. Kami juga berharap, nantinya bisa melakukan kerja sama dengan industri-industri di Belgia dalam upaya hilirisasi riset ini,” tutur Rektor UGM, Profesor Dwikorita Karnawati, dirilis Humas UGM.

Vice Rector International Relations University of Liege, Pascal Leroy, mengatakan, sebelumnya telah bekerja sama dengan Fakultas Peternakan UGM. Penguatan kerja sama bertujuan untuk memperlebar kerja sama di bidang-bidang lain, seperti pertukaran staf pengajar dan mahasiswa, kolaborasi riset, publikasi, penyelenggaraan seminar, konferensi, maupun simposium.

Pascal mengungkapkan, bersama UGM, pihaknya akan mengerjakan proyek kerja sama dalam program evaluasi plasma nutfah. Program ini melibatkan ternak sapi Indonesia dan sapi Belgian Blue di Indonesia.