Kunjungi UII, Dubes Grigson: Warga Muslim Australia Membaur dan Berkontribusi pada Negara

Dubes Paul Grigson saat berkunjung ke UII. (Foto: Akun Twitter @DubesAustralia)
Dubes Paul Grigson saat berkunjung ke UII. (Foto: Akun Twitter @DubesAustralia)

Ngaglik, JOGJADAILY ** Saat berkunjung ke Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (25/2/2016), Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, menceritakan tentang keberadaan komunitas Muslim di Australia.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 500 ribu orang warga Australia yang beragama Islam. Dari jumlah tersebut, 40 persen di antaranya merupakan warga Muslim kelahiran Australia.

“Australia adalah negara yang sangat terbuka dengan kehadiran imigran. Kami dapat tumbuh dan berkembang seperti sekarang juga salah satunya karena kontribusi para imigran yang menetap di Australia, termasuk komunitas Muslim yang sudah sejak lama hidup berdampingan bersama warga Australia lainnya,” ujarnya dirilis Humas UII.

Di kota-kota besar, sambungnya, eksistensi umat Muslim telah membaur dengan baik bersama elemen warga Australia lain.

Dubes Grigson mengatakan bahwa kunjungan ke UII merupakan kesempatan sangat baik untuk mempererat hubungan antara Australia dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Ia berkomitmen untuk dapat meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan antara Australia dengan Indonesia. Langkah nyata yang dapat ditempuh seperti dengan mendorong pertukaran pelajar antara Indonesia dan Australia.

Ketika mengunjungi Candi Kimpulan di Kompleks Perpustakaan UII, secara khusus ia memberikan komentar, “Perawatan candi yang begitu baik di kampus ini menjadi contoh yang nyata tentang keberagaman dan toleransi yang hidup di negeri ini.”

Jembatan Penting

Rektor UII, Harsoyo, menuturkan, UII merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi Islam di Indonesia yang menjunjung tinggi intelektualitas, keberagaman, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai perguruan tinggi nasional tertua di Indonesia, UII menjadi titik pertemuan dari beragam golongan Islam yang ada di Indonesia.

“UII juga menjadi bukti nyata atas toleransi Islam yang damai. Tidak hanya berfokus pada tingkat lokal maupun domestik saja, namun UII juga telah menjadi salah satu jembatan penghubung antara Islam Indonesia dan dunia, khususnya negara-negara tetangga, seperti Australia,” papar Rektor.

Ia berpandangan, Australia merupakan salah satu jembatan penghubung yang penting, tidak hanya bagi institusi ataupun negara, namun juga bagi Islam sendiri.

Harmoni antara hubungan Barat dan Islam menjadi sangat penting, terutama pada kondisi politik dunia seperti sekarang ini. Oleh karena itu, lanjut Harsoyo, UII dan Australia memandang bahwa posisi Indonesia dan Australia sangatlah strategis dalam mendukung tercapainya harmonisasi tersebut.

“Hal ini dikarenakan Indonesia dan Australia memiliki nilai-nilai toleransi yang sangat tinggi dalam hal keberagaman budaya, suku, dan agama, serta melihat kesamaan kedua negara sebagai negara multikultur,” terang Harsoyo.

Duta Besar Australia berkesempatan menyampaikan kuliah umum dengan tema ‘Islam dan Australia’ di hadapan ratusan mahasiswa UII.

Dubes Grigson menjawab beberapa pertanyaan mahasiswa UII, seperti isu migrasi di Australia dan sikap Australia terhadap umat Muslim.

“Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para mahasiswa di sini merupakan salah satu yang terbaik selama saya bertugas sebagai Duta Besar di Indonesia,” ucapnya.