Mundur Munggah Madhep Kali Wujudkan Winongo Wisata 2030

Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat menghadiri kerja bakti Kali Winongo. (Foto: Coki Anwar)
Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat menghadiri kerja bakti Kali Winongo. (Foto: Coki Anwar)

Tegalrejo, JOGJADAILY ** Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) dan masyarakat Yogyakarta menargetkan Winongo Wisata 2030, sebuah destinasi wisata sungai unggulan berbasis pelestarian dan konservasi.

Untuk mencapai cita-cita itu, FKWA khususnya Kota Yogyakarta, mencanangkan program M3K atau Mundur, Munggah, Madhep Kali Winongo.

“Ada beberapa rumah dan bangunan liar yang telanjur dibangun dan tidak sesuai dengan program M3K. Pihak FKWA bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum DIY dan Pemerintah Kota Yogyakata serta aparat kelurahan akan mengedukasi pemiliknya. Kami akan terus melakukan edukasi agar warga mau mundur, munggah, dan madhep Kali Winongo,” ujar Koordinator Zona Tengah FKWA, Oleg Yohan.

Saat ditemui dalam program kerja bakti, ia mengatakan, FKWA kembali menginisiasi pembenahan kawasan Sungai Winongo. Kerja bakti bersih Sungai Winongo atau disebut Merti Winongo 2016 akan berlangsung Maret hingga November 2016.

Kegiatan dilakukan selama 7 hari dalam satu paketnya dan melibatkan lebih dari 250 warga. Awal kegiatan bersih sungai Winongo ditandai dengan kerja bakti di sepanjang bantaran Sungai Winongo dengan momentum pembongkaran karamba secara sukarela oleh warga.

Warga secara sukarela membongkar karamba beton yang ditanam di tengah sungai berusia 10 tahun atau bahkan lebih.

“Karamba adalah salah satu penyebab kerusakan lingkungan di bantaran sungai,” ungkap Oleg.

Selain karamba, ada beberapa bangunan liar warga di bantaran Sungai Winongo yang menjadi sasaran. FKWA terus melakukan pendekatan secara persuasif kepada warga, khususnya warga yang memiliki bangunan di bantaran sungai.

Ia menerangkan, warga dan FKWA pasti tidak mau seperti daerah di mana sudah banyak bangunan liar berdiri, baru kemudian dilakukan pembongkaran.

“Lebih baik kalau ada satu dua bangunan liar berdiri di bantaran sungai, langsung kita peringatkan di awal, daripada sudah banyak berdiri, baru kita lakukan pendekatan,” ucapnya.

Oleg berharap, dengan banyaknya program yang dilakukan oleh banyak stakeholder di bantaran sungai akan mempercepat terwujudnya Winongo Wisata sebelum 2030.

Lintas Wilayah

Persiapan menuju Winongo Wisata 2030 terus dilakukan dengan sosialisasi kepada masyarakat di setiap titik ungkit. FKWA memiliki grand design pengelolaan Sungai Winongo. Banyak stakeholder seperti masyarakat, pengusaha, dan pemerintah yang akan terlibat.

Pengelolaan sungai Winongo akan dibagi dalam tiga segmen, melibatkan lintas wilayah yang dilalui Sungai Winongo, yakni Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan kabupaten Bantul.

Wilayah utara atau kabupaten Sleman merupakan daerah konservasi perlindungan hutan dan penanaman pohon. Wilayah Kota Yogyakarta dengan penataan kawasan rumah atau bangunan di bantaran Sungai Winongo yang tertuang di dalam Program M3K. Sedangkan wilayah selatan, Kabupaten Bantul, merupakan daerah suaka ikan.

Suaka ikan di Kabupaten Bantul akan menjadi sebuah indikator apakah kondisi Sungai Winongo sehat atau tidak.

“Ketika bantaran Sungai Winongo di wilayah Bantul hidup ikan apa saja, itu secara garis besar menunjukkan dan memastikan bahwa kualitas air yang ada di Sungai Winongo adalah jernih dan sehat,” simpul Oleg.

Apabila airnya sehat, ekosistem yang ada di sungai sehat menunjukkan warga masyarakat Yogyakarta sudah siap menyambut Winongo sebagai obyek wisata sekaligus pelestari lingkungan sungai di Yogyakarta.

Handarbeni Fasilitas Umum

Saat menghadiri kerja bakti warga bantaran Sungai Winongo di wilayah Tompeyan Tegalrejo, Minggu (6/3/2016) pagi, Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti berharap, warga di bantaran sungai bersama-sama memelihara sungai dan semua fasilitas yang telah dibangun.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Yogyakarta telah banyak membangun fasilitas umum (Fasum) bagi warga di bantaran sungai. Meski demikian, kalau tidak dijaga dan dipelihara oleh warga, semuanya akan mubazir.

“Saya berharap warga juga memiliki rasa handarbeni untuk menjaga dan merawat apa yang telah dibangun Pemerintah Kota Yogyakarta bersama stakeholder lain seperti FKWA. Jangan sampai kita hanya pandai membuat, tetapi tidak pandai untuk merawat,” tegas Haryadi.

Walikota meninjau kondisi terkini fasilitas umum di sepanjang titik ungkit Tombro (Tompeyan, Badran, Pringgokusuman) yang diresmikan pada 2012. Di titik ini telah dibangun Fasum berupa kolam renang dilengkapi kamar mandi, WC, cuci, gazebo, kolam pembudidayaan lele, tempat bermain anak-anak, dan ruang terbuka hijau.

Fasum terlihat dalam kondisi kurang terurus. Menurut beberapa warga, fasilitas umum seperti kolam renang, gazebo, dan lainnya, tidak digunakan lagi.

“Sudah lama kolamnya tidak digunakan lagi. Kolam lele juga sudah tidak dipakai. Gazebonya hanya seperti itu, kotor, dan untuk tiduran Gepeng (gelandangan dan pengemis—red),” tutur salah seorang warga.

Melihat kondisi seperti itu, Walikota memerintahkan lurah dan FKWA untuk mendata kembali Fasum yang rusak. Setelah didata, rencananya dalam waktu dekat akan segera diperbaiki. Harapannya, Fasum di Bantaran Winongo, khususnya di titik Tombro, bisa difungsikan kembali untuk tempat bermain dan rekreasi warga.