Rancang Kebun Botani untuk Konservasi Air, Desa Wonokerto Tawarkan Ekowisata Baru

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun meresmikan penanaman pohon Desa Wonokerto. (Foto: Humas Pemkab Sleman)
Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun meresmikan penanaman pohon Desa Wonokerto. (Foto: Humas Pemkab Sleman)

Turi, JOGJADAILY ** Desa Wonokerto Kecamatan Turi Kabupaten Sleman menjadi Desa Konservasi Mandiri dalam penanganan sumberdaya airnya. Hal tersebut disampaikan dosen Geometrika Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Djoko Soeprijadi, Selasa (22/3/2016).

Kesimpulan tersebut ia dapatkan dari hasil pemetaan air. Menurutnya, semakin tinggi suatu kawasan maka kecenderungan intensitas air semakin langka. Hal ini dialami kawasan Desa Wonokerto yang berada di dataran tinggi, karena Turi termasuk dalam wilayah lereng Gunung Merapi.

“Daerah dataran tinggi sebagai kawasan tangkapan air, sedangkan daerah bawah seperti kota Yogyakarta sebagai tandonnya. Karena, air dari atas mengalir ke daerah yang lebih rendah,” terang tim ahli pendamping penanganan sumberdaya air Desa Wonokerto tersebut, dirilis Humas Pemerintah Kabupaten Sleman.

Djoko menambahkan, skema penyelamatan mata air di Desa Wonokerto akan dilakukan penanaman berbagai jenis bambu di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) di Desa Wonokerto sebagai kebun botani atau arboretum. Langkah tersebut diambil, karena selain sebagai upaya konvservasi, juga dapat dimanfaatkan untuk edukasi.

“Kami memilih bambu, karena pertumbuhannya 30 persen lebih cepat dari kayu. Berbagai jenis bambu di Indonesia akan kami datangkan dan rencananya akan kami buat arboretum dengan pengelompokan dan penamaan masing-masing bambu yang harapannya nanti, kawasan ini mampu menjadi kawasan ekowisata,” terangnya.

Berkelanjutan

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun meresmikan penanaman pohon bersama Kapolsek, Camat, Kades setempat, serta komunitas warga Tionghoa.

Penanaman dilaksanakan dalam rangka mempertahankan kawasan resapan air dan penyelamatan sumberdaya air serta memperingati Hari Air Dunia.

Pemerintah Desa Wonokerto melaksanakan Program Penyelamatan Mata Air, Daerah Aliran Sungai (DAS), serta lahan Kritis.

“Air merupakan sumberdaya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak, sehingga perlu dikelola untuk dimanfaatkan secara efisien, adil, dan berkelanjutan,” kata Wakil Bupati.

Secara kuantitas, sambungnya, air hujan yang tersimpan dalam tanah cenderung semakin berkurang dan sebagian besar menjadi aliran permukaan yang akan berisiko terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

“Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya semakin banyaknya permukaan tanah yang ditutup dan perubahan fungsi daerah tangkapan air,” ucap Sri Muslimatun.

Secara kualitatif, tambahnya, air yang tersedia juga telah mengalami pencemaran, sehingga semakin menurunkan tingkat ketersediaan air bagi masyarakat. Penurunan kualitas air di antaranya disebabkan perilaku tidak bertanggung jawab dari masyarakat, seperti membuang sampah dan limbah rumah.