Jejak Retnaningtyas Bangun Rejowinangun Tanpa Ampun

INOVATIF – Retnaningtyas saat menerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara dari Presiden. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kotagede, JOGJADAILY.COM ** Kelurahan Rejowinangun yang terletak di Kecamatan Kotagede sebelum tahun 2010 sempat mengalami perkembangan yang sangat lambat, karena gempa bumi tahun 2006. Gempa itu meluluhlantakkan sebagian Kotagede, termasuk Kelurahan Rejowinangun.

Dengan berbagai alasan, masyarakat di Kelurahan Rejowinangun cukup sulit untuk berkembang cepat, baik tata ekonomi maupun sosial-budaya, sehingga perlu penyegaran kegiatan yang relevan dengan karakter dan budaya masyarakat Rejowinangun.

Dalam tahap perkembangan dan dinamika yang terjadi di Kelurahan Rejowinangun, tidak akan terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat. Peran seorang lurah sebagai salah satu pejabat publik dan wakil pemerintah memiliki arti yang penting dalam kemajuan ekonomi maupun pembangunan lingkungan di sekitarnya.

Keberadaan seorang Retnaningtyas sebagai Lurah Rejowinangun saat itu cukup mampu membuat dinamika masyarakat di Kelurahan Rejowinangun menggeliat, memupuk asa dan menatap masa depan.

Keberhasilan tersebut tak terlepas dari ilmu yang selama ini diperolehnya selama menjalankan pendidikan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), kini bernama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Kreativitas, improvisasi, keuletan serta mau belajar dari orang lain dan pengalaman selama mengabdi kepada masyarakat menjadikannya semakin matang sebagai Srikandi Bangsa yang mumpuni.

“Saat saya sebagai Lurah Rejowinangun, tantangan terbesarnya adalah membangun kembali kepercayaan diri masyarakat paska gempa bumi. Dan itu tidak mudah. Butuh waktu lama membuat masyarakat Rejowinangun bangkit lagi,” cerita Eno, panggilan akrabnya.

Salah satu cara membangkitkan semangat masyarakat Rejowinangun adalah membuat inovasi yang digagas Retnaningtyas terhadap pola pembangunan di Kelurahan Rejowinangun, yaitu sistem kluster. Retna melihat dengan beragam alasan, yaitu tempat, struktural, dan kultural dari masing-masing individu masyarakat Kelurahan Rejowinangun, pembangunan yang terjadi tidak merata.

Sistem kluster mengefektifkan berbagai kegiatan dan pembinaan yang selama ini sangat sulit mencapai arus bawah, menuju sasaran yang tepat.

“Yang menjadi sasaran dari inovasi ini adalah warga Kelurahan Rejowinangun dengan manfaat dan keuntungan yang didapat oleh warga itu sendiri, baik secara kelompok maupun individu. Seorang lurah tidak mungkin mampu menjalankan program tanpa dukungan masyarakat maupun lembaga sosial kemasyarakatan, mulai RT, RW, PKK, BKM, dan LPMK. Mereka harus bersinergi membangun dan melaksanakan inovasi yang akan dijalankan demi kemajuan ekonomi maupun sosial budaya,” ujar Eno panjang lebar.

Pemetaan Potensi RW

Eno melihat wilayah Rejowinangun saat itu, atau sekitar tahun 2010, sangat biasa dan tidak ada pembeda dengan kelurahan yang lain. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah dengan memetakan setiap potensi yang ada di setiap RW di Rejowinangun.

Wilayah Rejowinangun yang terdiri dari 13 RW dan 49 RT ternyata menyimpan potensi besar. Setelah memetakan potensi berdasarkan keunggulan masing-masing wilayah bersama tokoh masyarakat maka terciptalah sistem kluster, yang membagi wilayah Rejowinangun menjadi 5 kluster, yaitu kluster budaya yang meliputi RW 01 sampai dengan RW 05, kluster kerajinan meliputi RW 06 dan RW 07, kluster herbal meliputi RW 08 dan RW 09, kluster kuliner yaitu RW 10, kluster Agro yaitu RW 11 sampai dengan RW 13.

Pola seperti ini dilakukan di tempat lain, sesuai potensi masing-masing wilayah, berdasarkan pemetaan sebelumnya, sehingga pola kluster dapat berjalan dengan baik.

Untuk membuat suatu kluster, dibutuhkan kesadaran dan keterlibatan partisipasi masing-masing warga masyarakat. Melalui beragam sosialisasi dan pertemuan rutin dari tingkat RT hingga RW, perlahan muncul kesadaran dari masyarakat yang diikuti tindakan nyata, yaitu setiap rumah wajib membuat ‘lumbung hidup’ dengan menanam lima pohon, baik sayuran, buah, dan herbal dengan media polybag di pot atau di lahan yang kurang produktif, khususnya di wilayah yang memiliki potensi dijadikan Kampung Agro.

Menurut Retnaningtyas, dengan menanam tanaman sayur dan buah di setiap rumah maka akan tercipta ketahanan pangan.

Langkah lainnya adalah mengembangkan potensi pangan lokal dengan penggunaan produk lokal dalam setiap jamuan. Setiap KK mengurangi 1 ons beras per hari dan diimbangi dengan produk lain non beras, dan membiasakan masyarakat sejak usia dini mengkonsumsi berbagai olahan pangan non beras. Selanjutnya, pembinaan dilakukan melalui beragam pelatihan dan pendampingan agar apa yang telah dilakukan tidak terhenti di tengah jalan.

Peraih Adhikarya Pangan Nusantara

Hal tersebut ternyata direspons masyarakat dengan antusias. Hasilnya, Retnaningtyas berhasil meraih Penghargaan Adhikarya Pangan Nusanatara kategori Pembina Ketahanan Pangan Tahun 2015.

Retnaningtyas merupakan satu-satunya lurah di Indonesia yang mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara kategori Pembina Ketahanan Pangan yang diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Hal ini bukan karena Rejowinangun mempunyai lahan sawah serta produksi pangan yang banyak, akan tetapi Retna berhasil membawa Rejowinangun menjalankan sistem ketahanan pangan.

Keberhasilan ini tidak membuat Retna berhenti melakukan inovasi. Inovasi keren lain yang berhasil diwujudkan serta mendapatkan penghargaan dari MURI Indonesia adalah pembuatan keripik daun varietas terbanyak. Keripik daun yang dibuat mencatat rekor dengan bahan daun dari 272 jenis tanaman.

“Dampak positif yang dihasilkan dengan pola kluster seperti ini adalah tumbuhnya UKM di wilayah Kelurahan Rejowinangun, peningkatan pendapatan dari berbagai sektor di setiap kluster, pemasaran produk semakin meluas,” ungkapnya.

Selain itu, sambung Retna, makin banyaknya kunjungan masyarakat ke Rejowinangun dapat berdampak pada peningkatan ekonomi, meningkatnya kerukunan dan kepedulian warga masyarakat, juga memudahkan SKPD maupun lembaga sosial masyarakat dalam membuat program kegiatan.

“Masyarakat semakin mandiri dalam berbagai kegiatan, tidak semata-mata bergantung pada bantuan,” tandas Retnaningtyas yang kini menjabat Sekretaris Kecamatan Tegalrejo tersebut.