Lurah Wahyudi, Jadikan Desa Kontributor Penting Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan Dunia

MEMBASIS – Lurah Wahyudi ‘ngangkring’ dalam sebuah acara bertajuk Lorong Budaya 2016. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sewon, JOGJADAILY.COM ** Flamboyan, tapi bertangan dingin. Ia memimpin Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, dengan sudut pandang universal, tapi beraksi taktis-strategis. Bagi para pegiat perekonomian desa, namanya tak asing lagi. Siapa pun Anda, mari mengenal lebih jauh sosok fenomenal tersebut. Ia Wahyudi Anggoro Hadi.

Terpilih untuk masa bakti 2012-2018, Lurah Desa ini bukan hanya berprestasi hingga tingkat nasional. Ia jengkal per jengkal mengolah potensi desanya menjadi output bermanfaat dan berkelanjutan. Program ekonomis untuk pengelolaan sampah, kampung dolanan anak, Satu Rumah Satu Sarjana, hingga daur ulang jelantah menjadi solar berpadu padan dengan pelayanan birokrasi transparan dan bebas korupsi.

“Desa harus dapat menjadi rumah bagi semua bangsa. Mari menjadikan desa sebagai arena demokratisasi ekonomi dan politik, serta memastikan bahwa tiada seorang pun yang tertinggal dari perhatian negara,” ujar Wahyudi, Minggu (19/11/2017).

Dalam menjalankan amanah, tentu saja bukan tanpa tantangan dan ujian. Resistensi dan apresiasi silih berganti menghampiri Wahyudi sebagai reaksi yang terus ia maklumi.

“Selama ini, saya senantiasa meletakkan ketugasan saya menjadi Kepala Desa dalam konteks rekayasa sosial. Ketika kita letakkan dalam konteks rekayasa sosial maka tidak ada yang namanya tantangan,” ucapnya yakin.

Semua kecenderungan, sambung mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UGM itu, baik resistensi maupun apresiasi yang diberikan oleh warga atas perjalanan sejarah desa, ia diterima secara proporsional dan apa adanya, berikut dimaknai sebagai bagian dari proses perubahan.

“Konteks inilah yang menyebabkan tiadanya rasa putus asa, tatkala resistensi sedemikian kuat melawan,” katanya, penuh dedikasi.

Pada konteks tersebut pula, menurutnya, menjadikannya bisa berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran bahwa perbedaan, penolakan, bahkan mungkin, perlawanan yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak menghendaki perubahan, tidaklah menggugurkan kewajiban negara untuk memenuhi hak-hak sipilnya sebagai seorang warga negara.

“Konteks inilah yang menjadikan setiap apresiasi yang diberikan atas setiap capaian, tidak menjadikannya berhenti melakukan inovasi, tetapi menjadi kumpulan energi dan menjadikannya pijakan agar dapat melompat lebih tinggi,” ungkap Lurah Desa yang menggandeng Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menyusun rencana pembangunan desa serta kontrol anggaran itu.

Keluarga Besar Demokratis

Terlahir sebagai bungsu dari seorang ibu pedagang dolanan anak-anak dan seorang ayah yang berprofesi sebagai pustakawan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyudi kecil tumbuh dan berkembang bersama tujuh orang saudaranya dalam satu lingkungan keluarga yang demokratis.

Meski secara ekonomi hidup dalam keterbatasan, keluarga Wahyudi terbilang terpandang, karena empat dari tujuh orang saudaranya, berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi di UGM. Sesuatu yang sangat istimewa pada 1980-an, hingga pada 1997, Wahyudi pun berkesempatan merasakan kemewahan kuliah di kampus yang sama.

PELESTARI BUDAYA – Lurah Wahyudi bersama wayang. Ia konsisten melestarikan budaya leluhur. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sebagai seorang pustakawan, ayah Wahyudi berkesempatan memperoleh limpahan cakrawala pengetahuan. Hal itu menjadikannya sangat demokratis. Beliau memberikan keleluasaan bagi anak-anaknya untuk memilih jalan hidup apa yang ingin ditempuh.

Ada pula kisah tentang Wahyudi kecil yang berlimpah berkah kreativitas. Lingkungan perdesaan tempat ia tinggal memiliki tradisi dolanan anak yang kuat. Keberadaan para pengrajin dolanan anak, termasuk keluarganya, menyediakan ruang kreatif yang tiada berbatas. Wahyudi bisa mengeksplorasi alam dan lingkungan sekitar sebagai arena bertransaksi ide dan gagasan.

Wahyudi kecil juga berkelimpahan kemandirian dari lingkungan sekitar yang senantiasa mengembangkan narasi perlawanan atas interverensi negara yang hegenomik.

Dan yang tak kalah penting, ia berkelimpahan kasih dari lingkungan keluarga dan komunitas sekitarnya yang rata-rata memiliki keterbatasan ekonomi, di mana untuk dapat mempertahankan hidup, keluarga dan komunitasnya harus saling dukung, saling tolong, dan saling berbagi.

“Ibu mengajarkan perspektif kemanusiaan. Bapak mengajarkan perspektif demokrasi dan keterbukaan. Keluarga mengajarkan kreativitas dan kemandirian. Masyarakat sekitar mengajarkan narasi perlawanan. Pramoedya Ananta Toer mengajarkan keadilan, Frithjof Schuon mengajarkan transendensi, pesantren mengajarkan kesederhanaan dan penyerahan diri,” ringkas Wahyudi tentang pemberi pengaruh dominan dalam kehidupannya.

Desa, Kontributor Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan Dunia

Lebih dalam, Wahyudi berpandangan, dalam sepuluh tahun ke depan, ada tiga sumberdaya yang sangat mahal, yaitu udara bersih, air bersih, dan pangan sehat. Ketiganya ada di desa. Peran strategis desa saat ini bukan hanya sebagai penyangga ekonomi Indonesia, tetapi juga sebagai kontributor penting pembangunan ekonomi berkelanjutan dunia.

“Membangun kesadaran bahwa desa memiliki peran strategis, mutlak untuk terus dilakukan. Nasib desa tidak akan pernah berubah, kecuali warga masyarakat desa tersebut yang mengubahnya,” tuturnya.

Bagi Wahyudi, bantuan dan fasilitasi dari pihak luar lebih bersifat stimulan dan membantu pengembangan; bukan yang utama. Faktanya, ada desa yang berhasil menemu-kenali potensi lokal dan mengembangkannya menjadi produk dan layanan yang bisa bersaing dalam lingkup regional, bahkan nasional.

“Cerita-cerita sukses tersebut perlu terus digali dan diangkat ke permukaan, sebagai upaya untuk melakukan counter terhadap berita-berita negatif tentang penggunaan Dana Desa, sekaligus sebagai upaya membangun kesadaran kolektif bahwa desa bisa dan mampu memainkan peran-peran strategis dalam menyangga ekonomi Indonesia dan berperan penting dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan,” tandas Lurah Desa pemenang Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Nasional 2014 ini.