Merajut Kebersamaan Bersama Bahtiar Nashir

JOGJA –  Umat Islam di Kotagede Yogyakarta akan menggelar pengajian akbar dengan penceramah Ustad Bachtiar Nasir yang merupakan tokoh pembela muslim Palestina, usai salat Jumat, (22/12) besok. Tabligh akbar jugaakan diisi dengan pembaretan anggota komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Kota Yogyakarta.

“Pengajian dan pembaretan dilakukan di masjid Gede  Mataram Kotagede, Yogyakarta,” kata panitia dan komandan Kokam Kotagede, Pramudya Ananto, Kamis (21/12).

Tema pengajian yang digelar di wilayah lahir nya Islam Mataram ini adalah “Persatuan umat untuk merajut kebersamaan”. Masyarakat Kotagede masih sangat menjunjung tinggi budaya lokal tanpa kemusyrikan. Perkembangan Islam di daerah itu terbilang pesat dan hingga kini masih dipegang erat.

Bachtiar menyatakan kesiapan hadir dalam acara tabligh akbar itu. Ia juga menyinggung soal sejarah Islam Mataram dari peralihan Mataram Hindu. Di zaman milenial ini justru banyak tantangan bagi umat muslim menghadapi percaturan dunia.

“Menjaga kesatuan umat untuk kebersamaan sangat penting di zaman milenial ini,” kata dia.

Sejarah peralihan dari Hindu Mataram ke Islam Mataram di Kotagede menjadi contoh harmoni antar umat beragama. Tidak ada konflik yang terjadi.  Bahkan bangunan berornamen Hindu masih terjaga.

“Masjid Gede Mataram Kotagede masih ada ornamen agama Hindu,” kata Muhammad Nasir Chirzin, tokoh agama dan budaya Kotagede.

Ia menyebut, di daerah Kotagede masyarakatnya sangat kompleks soal agama. Kerukunan antar penganut agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Konghucu, aliran kepercayaan dan lainnya dinilai sangat harmoni. Harmoni dalam kehidupan di Kotagede sangat terjaga karena masyarakatnya sadar pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.

Nasir menyatakan,  Kotagede sebagai sebuah kota lama tentu memiliki dinamika dan sejarah yang panjang. Sebagai sebuah kota besar dan maju pada masa Panembahan Senopati Kotagede tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tentu saja Kotagede juga menjadi satu pusat kebudayaan dan agama.

Keberadaan Muhammadiyah di Kotagede juga menjadi suatu sejarah yang menarik, Kotagede bisa disebut sebagai salah satu “as-sabiqunal awwalun” di dalam Muhammadiyah. Artinya ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, beberapa warga Kotagede mulai mengikuti dan mulai menjalankan Muhammadiyah di daerah ini.

Sekarang Muhammadiyah semakin tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Kotagede.  Bahkan semakin berkembang dengan berbagai kegiatan dan amal usahanya. Begitu juga orhamisasi otonomnya juga bisa berjalan seiring dengan pertumbuhan Muhammadiyah.