Sepatu Asli Jogja Siap Bersaing Dengan Produk Import

Caption – Pemilik perusahaan Desle Shoes Haryamto saat menyerahkan hadiah kepada juara I sayembara design logo sepatu Desle,  Zendytya Yudhana Hermadi di hotel Tjokro, Jalan Menteri Supeno, Yogyakarta, Kamis (11/1). (Foto: Agung Rahardjo)

Depok, JOGJADAILY.COM ** Persaingan produk sepatu di era perdagangan bebas saat ini membuat produsen sepatu lokal terus berbenah diri. Salah satunya produsen sepatu bermerk Desle, akronim dari Depok – Sleman, yang merupakan produk sepatu asli Jogja.

Marketing Komunikasi Desle Shoes, Rahmat Suhada Fatony mengungkapkan perlunya kesiapan matang dalam memasuki era perdagangan bebas. Hal yang dilakukan adalah meningkatkan inovasi, baik dari segi kualitas, material, hingga logo.

“Perlu bagi kami melakukan berbagai inovasi, dari model, kualitas, sampai upgrading sumber daya manusia,” terang Rahmat, dalam keterangan pers di acara pemberian hadiah kepada para pemenang sayembara design logo Desle, di Hotel Tjokro Jalan Menteri Supeno, Yogyakarta, Kamis (11/1).

Menurut dia, suatu produk harus  bisa mengidentifikasikann kualitas dalam menghadapi gempuran produk-produk impor dan produk-produk sepatu bajakan (KW).

Ia menyebut, banyak orang yang membeli sepatu bajakan tidak lepas dari strategi penjual yang memperhalus kata bajakan dengan istilah KW. “Merosotnya moral (baik konsumen maupun penjual) dan keinginan (penjual) mendapatkan lebih besar pendapatan mengakibatkan penggunaan sepatu KW sangat meningkat di awal tahun 2017,” kata dia.

“Desle shoes selalu rutin memberikan program dan campagne ke sekolah atau pun hang out place untuk memupuk kembali dan mengerti menggunakan sepatu KW berarti juga ikut andil mendukung pembajakan,” katanya.

Ia menyebut, dalam persaingan saat ini, produsen tidak semata mata membuat produk yang berkualitas mutu dan design yang bagus, sisi edukasi kepada masyarakat dan konsumen untuk bangga dengan produk anak bangsa juga penting.

“Kompetitor bagi kami sebagai motifasi untuk kami lebih kreatif dan lebih dinamis dalam memberikan produk terbaik untuk konsumen dan masyarakat,” kata dia.

Ia pun menyebut, produknya sudah mampu tumbuh sampai 15 persen di DIY dan hingga 20 persen di wilayah Jawa Tengah.

Pemilik perusahaan Desle Shoes Haryamto menjelaskan, Desle sudah dipasarkan hingga Papua. Produk dibuat dengan pemikiran matang, dari desain, logo, filosofi, hingga material yang ramah lingkungan.

“Walau paten produk kami juga untuk aparel, seperti topi, kaos, ikat pinggang, hingga kaos kaki, saat ini kami masih fokus di sepatu,” kata dia. Pasalnya, membangun bisnis sepatu tidak mudah sehingga saat ini ia memilih fokus menguatkan brand sepatu.

Lomba Design Relogo Desle Shoes sendiri dilaksanakan satu tahun sejak awal 2017 lalu resmi berakhir. Terpilih 20 pemenang dengan total  hadiah Rp100 juta.

Salah satu desain akhirnya dipilih sebagai juara yakni karya Zendytya Yudhana Hermadi seorang freelancer asal Malang Jawa Timur. Ia mendapatkan hadiah senilai  Rp.50 juta dengan karya  sederhana mengambil ide motif batik parang.

Haryamto mengaku perubahan logo brand merupakan hal yang sangat penting dilakukan saat ini. Pasalnya menurut dia, desain logo lama membuat brand asli Indonesia tersebut sulit mengembangkan diri karena kesan kaku yang tercipta.

“Kami ingin berkembang, berkreasi. Kami putuskan untuk mengubah logo dengan harapan semakin menempatkan Desle di hati para konsumen,” ungkapnya.

Meski demikian, apakah desain pemenang juara pertama yang akan digunakan, Haryamto mengaku masih akan dipikirkan bersama tim produksi terlebih dahulu. “Terpenting hak paten desain sudah ada pada kami, nanti apakah akan langsung digunakan atau menanti hal lain diputuskan bersama tim. Yang jelas, kami memberikan apresiasi pada para pemenang hari ini,” tandas dia.