Penyerapan Kinerja Lokal NYIA Belum Terkendali

Salah satu sesi dalam seminar bertema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal dan Peran Teknologi dalam mendukung NYIA pada 20 Februari kemarin di UII Yogyakarta,” di UII Yogyakarta, kemarin. (Foto: Agung Rahardja)

Yogyakarta, JOGJADAILY**Pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) telah dimulai, tahap perencanaan dan perancangan serta konstruksi telah berjalan. Komitmen untuk mengutamakan sumber daya lokal dalam proses pembangunan sudah melekat dalam kebijakan, namun perihal kinerja penyerapan sumber daya lokal masih menyisakan masalah.

Pengurus Ikatan Arsitek Indonesian (IAI) DIY Erlangga Winoto berharap NYIA akan menjadi magnet baru bagi investasi dan pengembangan ekonomi regional yang memberikan peluang kerja dan usaha serta pemanfaatan sumberdaya lokal. Hanya saja persoalan penyerapan sumber daya lokal sejauh tidak sepenuhnya dapat dievaluasi serta dikendalikan. Masalahnya jika kendali pemanfaatan sumber daya tidak dapat dievaluasi maka terdapat resiko bagi keberlangsungan dukungan masyarakat dalam pembangunan NYIA.
“Sebagai bentuk peran kami turut mendorong pembangunan maka berangkat dari persoalan diatas kami juga telah menggelar seminar bertema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal dan Peran Teknologi dalam mendukung NYIA pada 20 Februari kemarin di UII Yogyakarta,” terang pria yang akrab disapa Erwin, itu, Selasa (28/2)
Dalam kesempatan itu Ketua Jurusan Magister Arsitektur UII, Suparwoko, PhD (IAI) mengulas tentang NYIA dalam Konstelasi ruang keistimewaan dan gagasan pasca NYIA. Menurutnya penetapan status Keistimewaan DIY telah memberikan perubahan positif seperti pengembangan wilayah selatan dan NYIA. Dia menjelaskan dalam rangka pencapaian tujuan strategis mewujudkan masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera (RPJPD 2025) pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memastikan bahwa sumber daya di wilayah keistimewaan bisa dimanfaatkan sehingga dapat meratakan kesejahteraan.
“Salah satu faktor penting dalam penyerapan sumber daya lokal adalah pada ketepatan pemilihan teknologi. Namun demikian, teknologi baru yang lebih cepat, lebih murah dan lebih baik tidak serta merta menjamin beberapa tujuan pembangunan tercapai dengan cepat dan tepat. Syarat penting untuk kesiapan suatu wilayah dalam menerima teknologi baru adalah kesiapan sumber daya manusia,” katanya.
Ia mengatakan dalam era informasi komputasi, komunikasi dan informatika, peran teknologi sangat besar dalam kesuksesan kegiatan monitoring, evaluasi dan pengendalian kinerja organisasi. Peran TIK dalam pekembangan teknologi di bidang konstruksi diantaranya adalah Building Information Modeling (BIM). BIM diyakini juga dapat meningkatakan  kinerja transparansi, akuntabilitas dan partisipasi pembangunan pada proses
perancangan, pembangunan maupun operasi dan pemeliharaan.
“Fasilitas utama NYIA sudah mulai dibangun, beberapa fasilitas lain dan kompleks serta kawasan sekitarnya masih ada yang dalam tahap gagasan, sehingga potensi pemanfaatan teknologi BIM masih terbuka baik untuk tahap perencanaan, pembangunan, maupun sebagai pendukung bagi manajemen fasilitas di kawasan NYIA dan sekitarnya,” papar dia.
Erwin kembali mengatakan seminar tersebut bertujuan meksplorasi potensi pemanfaatan teknologi BIM di sektor jasa konstruksi di Indonesia. Tidak hanya untuk kendali kinerja sistem konstruksi namun juga sebagai optimalisasi bagi pemanfaatan sumberdaya lokal, baik dari sisi manusia maupun alam.
Acara tersebut merupakan tindak lanjut dari seri kegiatan Jogja Development Forum (JDF) yang telah dilaksanakan pada tahun 2017. Adapun inisiator seminar ini adalah UII, Balai PTK PUPR dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi DIY.  Seminar dihadiri dari setidaknya 35 perwakilan lembaga pemerintah, lembaga jasa kontruksi maupun kalangan akademika.