BBGRM XV, Tiga Destinasi Wisata Baru Diluncurkan Kulon Progo

Pasangan turis mancanegara tampak berfoto di salah satu spot favorit Gunung Gilingan. (Patihombo.com)

KULONPROGO — Tiga destinasi wisata baru diluncurkan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo bersamaan dengan momentum Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XV dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-46 tahun 2018. Dua destinasi terdapat di Kecamatan Girimulyo, yakni Puncak Gunung Gilingan dan Watu Jendhul. Satu lagi adalah Gua Batu Jonggol, Kecamatan Pengasih.

Menurut Kepala Desa Purwosari, Purwito, obyek wisata rintisan Puncak Gunung Gilingan di Pedukuhan Patihombo, Desa Purwosari, merupakan salah satu tempat napak tilas Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

“Hingga saat ini masih ada bekas persinggahannya,” ujarnya saat peresmian, Kamis (12/4/2018), dirilis Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Sementara obyek wisata Rintisan Watu Jendhul, di Pedukuhan Bulu, Desa Giripurwo, sambung Purwito, merupakan tempat indah yang layak dikunjungi, karena banyak tempat atau spot foto menarik. Selain itu, pengunjung dapat melihat hijaunya alam perbukitan.

Destinasi ketiga, Gua Batu Jonggol, berada di Dusun Gunung Pentul, Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih. Menyajikan wisata sejarah, alam, dan budaya, gua ini berada di lokasi yang sangat strategis, karena berada di bawah Jalan Wates-Sermo, sehingga masyarakat tidak perlu berjalan jauh dari jalan.

Saat berada di depan pintu masuk gua, pengunjung dapat merasakan kesejukan hawa dari dalam gua. Terus masuk ke dalam gua, pengunjung dapat melihat stalagmit yang mengeras dan tumbuh di dinding gua. Bukan hanya itu, di dalam gua, pengunjung dapat menyaksikan sumur penampung air.

Sejarahnya, Gua Batu Jonggol dibangun sekitar 1940-1941, pada masa penjajahan belanda, dipimpin Nyan Pietier Nyanvin. Ketika itu, ada proyek penambangan mangaan. Sewaktu Jepang menjajah Indonesia, penambangan mangaan terhenti.

Pada 1955-1958 penambangan berjalan kembali dan dikerjakan dengan sistem kontrak oleh berbagai negara Malaysia, Jepang, dan Belanda. Penambangan berlanjut pada 1960-1965 oleh Pemborong besar dari Cina. Penambangan kembali berhenti saat Gestapu.

Diprakarsai Sumarsana dan Ahmat Efendi, pada Agustus 2016, bersama warga sekitar, Batu Jonggol yang memiliki panjang sekitar 80 meter, lebar 1,5 meter, tinggi hingga 3,5 meter, serta ketebalan sekitar 25 meter ini dibuka kembali untuk tujuan wisata.

Sentra Kerajinan Batik

Tim BBGRM XV dan HKG PKK ke-46 Kabupaten Kulon Progo juga mendorong berkembangnya produksi kerajinan batik di beberapa tempat, misalnya Kecamatan Lendah dan Kecamatan Panjatan.

Pada Kamis (19/4/2018), Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo dan Wakil Bupati Sutedjo meresmikan dua sentra kerajinan batik di Kecamatan Panjatan, yaitu Kerajinan Batik Tulis ‘Pesat’ di Pedukuhan Satu Ayem Tentrem, Desa Panjatan, dan Kerajinan Batik ‘Makmur Lestari’ di Pedukuhan I, Desa Kanoman.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo meresmikan dua sentra kerajinan batik di Kecamatan Panjatan, Kamis (19/4/2018). (Pemkab Kulon Progo)

“Kerajinan Batik di Kecamatan Panjatan yang mulai menggeliat ini hendaknya kita dorong terus dalam upaya menghidupkan perekonomian warga masyarakat sekitar, khususnya bagi kelompok pembatik maupun untuk pelaku usaha batik lainnya, sehingga nanti, usahanya dapat berjalan sukses; dan minta kepada Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kulon Progo untuk melakukan pendampingan serta pembinaan,” tandas Dokter Hasto.

Para pengrajin batik, harap Bupati Hasto, dapat lebih profesional dalam bekerja dan menghasilkan kain batik berkualitas.

“Hendaknya juga dilakukan pelatihan-pelatihan ke pelaku kerajinan batik yang sudah berpengalaman, seperti di sentra produksi kain batik yang ada Kecamatan Lendah,” pungkasnya.