Potensi Zakat Rp217 Triliun, UII Dorong Integrasi Filantropi Islam dan Ekonomi Riil

DEPOK, Sleman — Potensi zakat nasional di Indonesia mencapai 3,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar Rp217 triliun. Hal tersebut berbanding terbalik dengan pengumpulan dana zakat yang baru 1 persen atau sekitar Rp2,6 triliun.

“Hal yang sama terjadi pada sektor wakaf yang baru dapat menghimpun dana wakaf Rp147 miliar dari potensi per tahun Rp6 triliun,” ujar Wakil Rektor III Universitas Islam Indonesia (UII), Agus Taufiq, dalam Konferensi Filantropi Islam Internasional Asia Tenggara ke-6, di Eastparc Hotel, Selasa (24/4/2018), dirilis Humas UII.

Konferensi yang mengusung tema ‘Keunggulan Umat Melalui Pengintegrasian Filantropi Islam dan Keuangan Sosial Islam dalam Arus Utama Ekonomi ‘ ini terselenggara atas kerja sama UII, Institut Manajemen Zakat (IMZ), dan Center For Islamic Philantrophy and Social Finance (CIPSF).

Agus menambahkan, zakat dan infaq termasuk instrumen filantropi Islam yang aktif berperan dalam penuntasan kemiskinan masyarakat. Ia menilai, peran tersebut perlu dimaksimalkan, baik peran lembaga zakat dan wakaf, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.

Ia juga berharap, peran Lembaga Amil Zakat (LAZ), lembaga nazhir wakaf, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) bisa lebih baik lagi.

Ketua Prodi Ilmu Ekonomi UII, Akshyim Afandi, menjelaskan, perkembangan filantropi Islam cukup menjanjikan, yang tampak dari bermunculannya lembaga-lembaga penghimpun filantropi dari masyarakat. Selain itu, dari sisi akademis, kalangan akademisi semakin bersemangat mengkaji filantropi Islam dan mengintegrasikannya pada praktik ekonomi riil.

“Masih banyak masyarakat kita yang menilai elemen-elemen filantropi hanya sekadar kegiatan sedekah mencari pahala. Padahal, jika kegiatan ini bisa terintegrasi dengan sistem ekonomi rill, tentu dampaknya sangat luar biasa bagi kemajuan ekonomi negara kita,” paparnya.

Sejak 2013

Direktur IMZ, Kushardanta Susilabudi, memberi keterangan bahwa konferensi ini telah rutin diadakan setiap tahunnya, sejak 2013.

“Selama 6 tahun berturut-turut, kami mengadakan konferensi ini, 2013 di Jakarta, 2014 di Jakarta, 2015 di Bandung, 2016 di Bandung, 2017 di Malaka (Malaysia), dan 2018 di Yogyakarta,” ucapnya.

Tujuan konferensi, sambungnya, untuk mengakomodasi pemikiran para akademisi dan aktivis filantropi, sehingga bisa diimplementasikan dengan baik untuk kemajuan filantropi Islam.

Pada konferensi kali ini dipresentasikan 45 paper. Sebanyak 27 paper berasal dari berbagai akademisi perguruan tinggi Indonesia dan 19 lainnya merupakan karya akademisi Malaysia dan Brunei Darussalam.

Berkembangnya filantropi Islam yang semakin signifikan berhasil menarik perhatian banyak kalangan. Hal ini wajar, karena dalam praktiknya, elemen-elemen dari filantropi, seperti zakat dan wakaf terbukti dapat berkontribusi pada pengentasan kemiskinan masyarakat. Peran filantropi diharapkan dapat memaksimalkan potensi zakat dan mengintegrasikannya ke dalam sistem ekonomi riil.