Kampung Flory Tridadi Sleman, Wisata Agro Pemupuk Semangat Bertani Sejak 2015

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X berkeliling Kampung Flory Pangukan, Tridadi, Sleman. Kampung Flory menginspirasi kaum muda untuk bergiat pada pertanian. (Humas DIY)

TRIDADI, Sleman — Satu lagi destinasi wisata agro potensial di Kabupaten Sleman, tepatnya Desa Pangukan, Kecamatan Tridadi. Namanya, Kampung Flory. Dirintis pembangunannya sejak 2015, Kampung Flory terus memberi semangat generasi muda agar tertarik kembali kepada dunia pertanian, serta mampu memberikan kesejahteraan pada masyarakat sekitar.

Pembina Kampung Flory,  Sudihartono, menuturkan, melalui kerja sama yang terjalin dengan pemerintah daerah, Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dan perbankan, dalam 2,5 tahun, Kampung Flory berkembang menjadi desa wisata.

Secara konsep pengelolaan dan pengembangannya, Kampung Flory menciptakan sinergi antara sektor pariwisata, pertanian, pendidikan, kuliner, dan budaya. Bukan hanya itu, tempat wisata tersebut memiliki grup karawitan, alat musik angklung, dan Bregodo Mas Karebet.

Kampung Flory terbagi atas tiga zona, yakni Zona Taruna Tani Flory, Zona Desa Wisata Flory, dan Zona Agro Buah. Masing-masing seluas 1 Ha.

Proses pembangunan berlangsung selama 2,5 tahun serta menghabiskan dana sebesar Rp4,8 miliar, terdiri dari Dana Swadaya Kelompok sebesar Rp1,93 miliar rupiah dan Dana Bantuan Hibah sebesar Rp2,15 miliar.

Dalam perkembangannya, Kampung Flory telah menghasilkan kunjungan sebanyak 20 ribu hingga 25 ribu tamu dengan omset per bulan mencapai Rp1 miliar, bahkan lebih jika dalam musim liburan. Selain itu, sebanyak 120 orang telah direkrut sebagai tenaga kerja.

Salah satu hal unik di Kampung Flory adalah keberadaan Warung Ndelik yang menjual jajanan tradisional, dengan para penjual berpakaian tradisional dan alat pembayaran berupa koin pandel dari kayu. Nilai 1 pandel setara Rp1.000, 2 pandel bernilai Rp2.000, 5 pandel bernilai Rp5.000 dan 10 pandel bernilai Rp10 ribu.

Dirilis Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Sleman, Minggu (29/4/2018), Kampung Flory diluncurkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Aula Limasan. Launching ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Sri Sultan dan penanaman pohon kelengkeng merah.

“Desa mandiri sangat penting, karena dapat mengurangi kemiskinan di desa. Saya berharap agar pengelola dapat mengembangkan sistem manajemen yang baik, sehingga bantuan yang diterima dari pemerintah, perbankan, dan pihak lain dalam rangka mengembangkan Kampung Flory ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ekonomi desa dan seluruh masyarakat, sehingga bisa menumbuhkan desa mandiri dan berbudaya,” ujar Gubernur.

Ia berharap, Kampung Flory Tidak hanya memberikan lapangan kerja bagi anak-anak muda, tapi juga menumbuhkan minat anak muda untuk membangun desa.

“Saya juga berharap kepada semua Bupati yang ada di Provinsi DIY, terkait wilayah desa yang baru tumbuh, untuk tidak membebani retribusi. Dengan tanpa retribusi selama 5 sampai 7 tahun tersebut, diharapkan desa mampu memupuk modal, yang kemudian dengan itu, diharapkan ada investasi untuk membesarkan program yang sudah ada,” ungkap Sultan.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono dan Bupati Sleman Sri Purnomo saat Launching Kampung Flory. (Pemkab Sleman)

Serap Tenaga Kerja

Bupati Sleman, Sri Purnomo, menambahkan, sektor pariwisata menjadi sektor unggulan di Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman senantiasa mengembangkan pariwisata melalui pengembangan strategi promosi, serta pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat dan daerah. Kampung Flory adalah perwujudan dari salah satu program unggulan daerah dalam sektor pariwisata, yaitu desa wisata.

“Dengan dibukanya Kampung Flory, diharapkan dapat menyerap tenaga kerja, sehingga menjadi langkah startegis yang nyata dalam mengurangi pengangguran dan berpotensi membuka peluang usaha. Berbagai program potensi wisata yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman secara nyata telah meningkatkan jumlah wisata sebanyak 35,81 persen, yaitu 7,2 juta pada tahun 2017. Pada 2018, pemerintah menargetkan 8 juta wisatawan,” papar Bupati Sri.