Menumbuhkembangkan Ekonomi Daerah Berbasis Santri Ala Pemkab Bantul

Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, berkunjung ke salah satu stand Ekspo Santri dan Festival Santri 2018 di Kompleks Masjid Agung Manunggal Bantul, Kamis malam (18/10/2018). (Diskominfo Bantul)

BABADAN, Bantul — Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada Senin (22/10/2018) disambut istimewa oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Bukan hanya menyasar seremonial, upaya penumbuhkembangan ekonomi daerah berbasis santri diembuskan melalui Ekspo Santri dan Festival Santri yang digelar di Kompleks Masjid Agung Manunggal Bantul.

Promosi kreasi bisnis para santri yang dimulai pada Kamis (18/10/2018) hingga tiba saat peringatan Hari Santri Nasional, diikuti oleh lebih dari 40 stand dari pondok-pondok pesantren di wilayah Kabupaten Bantul. Acara memang juga dimaksudkan untuk mempromosikan pondok pesantren sebagai bagian penting pendidikan keislaman generasi penerus bangsa.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih berharap, Ekspo Santri dan Festival Santri 2018 dapat memberi ruang gerak bagi santri untuk mengaktualisasikan aktivitas ekonomi. Selain itu, menjadi tonggak gerakan ekonomi santri yang harus diupayakan lestari (istiqomah).

“Kegiatan Ekspo dan Festival Santri harus dapat dijadikan sebagai sarana dan wadah pengembangan kreativitas dan inovasi para santri. Jiwa para pendahulu kita harus senantiasa kita tanamkan untuk mewujudkan Bangsa Indonesia yang lebih hebat dan lebih baik,” ujar Wakil Bupati, saat memberi sambutan pembukaan.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bantul, Didik Warsito, menambahkan, acara ini merupakan wahana penyaluran potensi dan kreativitas santri, sekaligus media untuk membangun sinergi antara pemerintah dan pesantren.

“Pagelaran ini sebagai media pemerintah untuk memantau sekaligus memberikan apresiasi perkembangan pesantren, khususnya di Kabupaten Bantul,” ucapnya.

Semangat perjuangan yang termaktub dalam Resolusi Jihad yang dikeluarkan para ulama dengan dimotori KH Hasyim Asy’ari, terang Didik, harus terus dipupuk. Tujuannya, terus membangun semangat nasionalisme. Santri diharapkan dapat handarbeni (merasa memiliki) dalam membangun negeri.

“Selain itu, kegiatan ini juga untuk meningkatkan syiar pondok pesantren, yang saat ini merupakan tujuan utama dalam pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Kadis Dikpora Bantul.

Ekspo Santri dan Festival Santri Kabupaten Bantul 2018 diawali dengan kesenian rodad khas pondok pesantren. Puncak acara HSN akan diramaikan kirab santri, dengan start Lapangan Paseban dan finish di Masjid Agung Bantul.

Ponpes Wirausaha

Kunci dari pemberdayaan ekonomi berbasis santri tentu saja ada pada kemampuan berwirausaha. Kesan bahwa selama ini pondok pesantren tidak mengenal bisnis, perlahan dapat ditinggalkan. Karena pada praktiknya, banyak pondok pesantren yang telah ‘berbisnis’, meski dalam kadar secukupnya.

Misalnya, program pembangunan pesantren wirausaha dan pendirian mushola di kawasan Puncak Bucu, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan. Inisiasi dilakukan Yayasan Bhinneka Bhakti Karya Insani (YB2KI) dan PKBM Bina Karya Ngelosari. Program dicanangkan lantaran perkembangan cukup pesat terjadi, sejak dimulainya pembangunan kawasan industri dan pariwisata terpadu.

Kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum pengajian non-sekolah. Santri belajar pada beberapa kiai atau guru dalam sehari semalam. Kurikulum ini, meski berjenjang, bersifat sangat fleksibel. Pembuatan kurikulum bersifat individual, oleh masing-masing santri.

Sistem pendidikan yang dinamai sistem lingkaran (pengajian halaqah) tersebut memberi kebebasan sepenuhnya kepada santri untuk membuat kurikulumnya sendiri, dengan jalan menentukan sendiri pengajian mana yang akan diikutinya.

Sementara model pengajaran yang diterapkan adalah model pendidikan formal, model pendidikan non formal, dan model pembelajaran klasikal, serta outing class (kelas lapangan). Model Pembelajaran formal mencakup materi Al-Quran, Al-Hadits, Bahasa Arab, Fiqih, Tauhid, dan Tarikh.

Model pembelajaran non-formal mencakup materi pelatihan soft skill dan aplikatif. Siswa belajar tentang ilmu pertanian, peternakan, olahraga, dan manajerial kemasyarakatan yang dibimbing praktisi pada bidangnya masing-masing.