Peringatan Hari Sumpah Pemuda, dari ‘Coloring Jogja Kreatif’ Hingga ‘Jogja Kota Anak Muda’

Spanduk kegiatan ‘Sehat Bersepeda’ dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2018 RW 12 Muja Muju. (Arif Giyanto)

CFD SUDIRMAN, Jetis — Peringatan Hari Sumpah Pemuda selalu menarik diberitakan. Bukan hanya tentang harapan kehidupan lebih baik yang bertumpu pada berkualitas atau tidaknya generasi muda, tapi juga tentang kaum muda itu sendiri. Berbagai ekspresi muncul di Kota Yogyakarta, pertanda kota ini terus menggelegakkan ‘darah muda’ yang positif dan menginspirasi.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, misalnya, yang mengapresiasi konsep dan tema Car Free Day (CFD) Sudirman, Minggu (28/10/2018), ‘Coloring Jogja Kreatif’. Menurutnya, kreativitas warga Kota Yogyakarta yang mampu mewarnai kota tampak dalam konsep dan tema itu.

“CFD bisa menjadi wadah promosi potensi kreativitas yang dimiliki warga Kota Yogyakarta. Hal ini menjaga eksistensi dunia kreatif Yogyakarta,” ujarnya.

Heroe berpandangan, apabila warga mampu memanfaatkan industri kreatif semaksimal mungkin maka dapat menjadi indikator pertumbuhan ekonomi. Mengutip kalimatnya Wawali, ‘ladang bisnis yang baru’.

CFD dan kreativitas Jogja memang telah lama manunggal. Diluncurkan pertama kalinya pada Minggu (21/4/2013), bertajuk ‘Jogja Creative’ dan direncanakan digelar satu kali dalam sebulan, ruas jalan Jendral Sudirman dipilih sebagai venue-nya.

Sejak pukul 05.30, dari depan Toko Buku Gramedia hingga pertigaan McDonald Terban ditutup. Ruas jalan tersebut menjadi tempat bebas kendaraan dan dikhususkan untuk para pejalan kaki serta pengguna sepeda. Pengunjung lantas dapat menikmati berbagai kreativitas warga Kota Yogyakarta di sepanjang ruas jalan yang dipilih.

Tema ‘Jogja Creative’ sengaja dipilih untuk membedakan CFD di Kota Yogyakarta dengan kota-kota lain, seperti Solo, Surabaya, Jakarta, Semarang, Tangerang, Bandung, Malang, dan Bogor. Terlebih predikat keistimewaan Jogja yang tentu saja turut berpengaruh pada setiap gelaran CFD.

Kota Anak Muda

Seorang tokoh pranata kejogjaan, Affrio Sunarno, bahkan memberi identitas Kota Yogyakarta sebagai ‘Kota Anak Muda’. Sebutan ini bertemu momentum terbaiknya, ketika Hari Sumpah Pemuda diperingati.

“Bicara Sumpah Pemuda, tetap saja senyatanya soal usia yang bicara. Jogja ini Kota Anak Muda, kaya segala macam gagasan dari pikiran-pikiran dan tindakan yang merdeka. Basis budaya, wisata, dan pendidikan berkelindan dengan istimewa,” ucap Affrio antusias.

Perjalanan panjang sejarah bangsa ini dan bahkan ras manusia, sambungnya, menempatkan pemuda dalam peran penting tak terelakkan dan tak terbantahkan. Apabila sejarah dicatat sebagai perubahan dan perubahan, dalam arti baik atau buruk, senantiasa berbasis energi kreatif maka semua orang yang masih menyisakan energi kreatif dan kehendak untuk berubah adalah ‘pemuda’.

“Jadi, kalau kita punya keberanian untuk merasa muda, kenapa tidak mencoba melakukan sesuatu secara berbeda? Jangan berpikir dulu, apakah itu akan diterima atau dicerca. Kita hanya harus mengawalinya. Jatuh-bangun atau sukses-gagal sepantasnya diterima sebagai cerita. Jangan tergesa dikonotasikan sebagai bahagia atau derita. Pengalaman akan memperkaya jiwa dan mematangkan matra,” terangnya.

Affrio mengimbau kepada ‘bapak generatif’ atau generasi di atas para pemuda untuk terus memberikan dukungan terbaik.

“Sayangnya, buncahan dan gelegak energi anak muda Jogja tak beroleh wahana, tak beroleh wiyata untuk menemukan makna. Bapak generatif serta pemerintah dan pemerintah daerah mengidap generation lag sehingga gamang memberi ruang,” tutur alumnus Fisipol UGM tersebut.

Ia berharap terjadi paduan sinkronik antara generasi muda dan bapak generatif, pun pemerintah dan pemerintah daerah.

“Jadi, sebagai manusia yang masih berjiwa muda dan berangkat matang menua, sangat pada tempatnya untuk mengharap paduan sinkronik. Pemuda berekspresi merdeka dalam sebuah orkestrasi di mana musik dan lagu tidak kehilangan makna. Berkaryalah pemuda, setidaknya agar dirimu tak menjadi beban dan memalukan. Bijaklah ‘petua’ setidaknya jangan hanya puas dengan menjabat, toh semua bakal lewat,” pungkasnya.

Add Comment