Bertandang ke Jogja, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Bakal Hadiri Kuliah Umum AAU

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Yuyu Sutisna menerima kunjungan Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo di Mabesau, Jumat (13/7/2018), membahas tindak lanjut kerja sama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) dengan TNI AU. (Dispenau)

AAU, Maguwoharjo — Guru Besar Universitas Chiba Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, akan menjadi narasumber utama pada Kuliah Umum Akademi Angkatan Udara (AAU), Senin (5/11/2018), di Gedung Sabang Merauke, mulai pukul 08.00. Kuliah Umum AAU mengangkat tema ‘Sumberdaya Manusia (SDM) sebagai Pelaksana/Aktor/Operator pada Sistem Ketahanan Nasional Era Revolusi Industri 4.0’.

“AAU akan mengadakan Kuliah Umum, besok, mengundang Prof Josaphat,” ujar Kepala Penerangan AAU, Mayor (Sus) Subiyah, hari ini.

Belum lama ini, AAU memang memiliki gubernur baru, Marsda Tatang Harlyansah. Ia concern pada pentingnya kesiapan lulusan AAU dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Pada era ini, nasionalisme generasi muda tetap merupakan keniscayaan bagi eksistensi suatu negara. Karena itu, penguatan nasionalisme mutlak mendapatkan prioritas untuk terus diupayakan.

“Taruna sebagai kader pemimpin terus mengasah diri untuk memahami hakikat dan mengikuti dinamika perkembangan Era Revolusi Industri 4.0. Pada saatnya memimpin, mereka telah siap menyongsong, beserta dinamika yang terjadi,” tandas Gubernur AAU, saat Akademi TNI menggelar temu wicara taruna TNI dan Akpol, Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta mahasiswa 2018 di AAU, Rabu (24/10/2018).

Lulusan AAU yang Peka Zaman

Dengan menghadirkan Prof Josaphat, wawasan para taruna AAU diharapkan dapat bertambah, dan kelak, saat lulus, dapat berkontribusi besar pada dunia angkatan udara yang peka zaman.

Prof Josaphat, biasa dipanggil ‘Josh’, dikenal sebagai pembuat radar andal berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki hak tinggal selamanya di Jepang, karena jasa-jasanya. Ia bahkan diangkat sebagai pegawai negeri di Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang. Kini, Prof Josh memimpin Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University.

Lahir di Bandung 48 tahun silam Prof Josh merupakan salah satu pemegang paten antena mikrostrip, yakni antena berbentuk cakram berdiameter 12 sentimeter dan tebal 1,6 milimeter yang dapat digunakan untuk berkomunikasi langsung dengan satelit. Ia juga penemu circularly polarized synthetic aperture untuk pesawat tanpa awak, small satellite, dan radar peramal cuaca tiga dimensi.

Josaphat membangun pusat riset di kampus Chiba University yang mempekerjakan 50 orang peneliti. Belakangan, ia mengembangkan pembuatan satelit berharga terjangkau, karena biasanya, satelit dibanderol pada kisaran Rp4 sampai dengan Rp5 triliun. Sementara Prof Josh dapat memproduksi satelit seharga Rp25 miliar dengan fungsi yang lebih baik.

Prof Josh dianggap berkompeten menjawab tantangan Sistem Ketahanan Nasional Era Revolusi Industri 4.0. Karena, pada era ini, didominasi oleh pola digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic, atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.

Pada konteks kemiliteran, terutama angkatan udara, alat utama sistem persenjataan (alutsista), khususnya pesawat tempur, kini telah dilengkapi dengan teknologi Generasi ke-4. AAU sebagai pelahir pimpinan-pimpinan TNI AU tentu saja berkewajiban untuk membekali para taruna dengan pengetahuan terbaik dari narasumber terpilih.

Add Comment