Jogja Bike, Cara Baru Nikmati Wisata Bersepeda di Kota Gudeg

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, merasakan sensasi bersepeda dari Kantor Dinas Pariwisata hingga Jalan Pasar Kembang. Ia turut mengapresiasi kehadiran Jogja Bike. (Hanang Widiandhika)

MALIOBORO, Gondomangan — Kawasan Malioboro Yogyakarta memang tidak ada matinya. Kawasan wisata ini selalu menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun manca. Banyak hal yang bisa ditemukan di kawasan ini, dari sajian tradisional lezat hingga jejeran penjual pernak-pernik.

Malioboro kini memang dirancang sebagai kawasan yang ramah untuk pejalan kaki. Kenyamanan tersebut kini bisa dirasakan oleh disabilitas, karena sekarang Malioboro juga dilengkapi dengan jalur untuk penyandang disabilitas.

Di ruas jalan sebelah timur juga disediakan bangku–bangku yang bisa digunakan untuk sekadar duduk melepas lelah, setelah lama berjalan atau pun bersantai sembari menikmati hiasan gemerlapnya lampu di sepanjang Malioboro yang seakan menambah kesan romantis dan syahdu.

Kenyamanan ini bertambah, karena sekarang di sepanjang jalan Malioboro tidak ada lagi kendaraan parkir di bahu jalan. Pemasangan beberapa Bollard Bulat Teraso yang diposisikan di sepanjang Malioboro menjadi sebabnya.

Keberadaan Bollard, baik yang berbentuk bulat maupun tabung, memiliki fungsi yang sama yakni menghalau kendaraan atau perabotan bergerak untuk naik bahkan masuk di area pedestrian tersebut.

Layanan ‘Jogja Bike’

Tak sampai di situ, pengunjung bakal dimanjakan dengan hadirnya Layanan bike sharing yang dinamakan ‘Jogja Bike’. Dengan adanya Jogja Bike, wisatawan dapat menikmati suasana Malioboro sembari bersepeda.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, yang sempat merasakan sensasi bersepeda dari Kantor Dinas Pariwisata hingga Jalan Pasar Kembang pun turut mengapresiasi kehadiran Jogja Bike. Menurut dia, Jogja Bike semakin memperkuat Yogyakarta sebagai smart city sekaligus mendukung perkembangan pariwisata.

“Semoga dengan adanya bike sharing ini semakin menambah opsi dan menarik wisatawan ke Kota Yogyakarta. Produk lokal yang digunakan juga tidak kalah dengan luar negeri. Bukti bahwa kita punya sumberdaya yang mumpuni untuk maju,” ujarnya.

Menurut Haryadi, sepeda sudah jamak digunakan di berbagai negara yang menjadi tujuan wisata, baik di Asia maupun Eropa untuk dimanfaatkan oleh wisatawan yang ingin menikmati suasana di suatu tempat secara langsung.

Pada tahap awal, layanan yang baru pertama kali ada di Yogyakarta tersebut akan dilengkapi dengan 20 unit sepeda dan akan segera ditambah menjadi 100 unit sepeda pada tahap berikutnya.

Wisatawan atau warga yang ingin memanfaatkan layanan sepeda harus terlebih dulu mengunduh aplikasi ‘Jogja Bike’ melalui telepon selular. Aplikasi tersebut berfungsi untuk membuka kunci sepeda.

“Gunakan sepeda ini dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Penggunaan sepeda ini mengajarkan masyarakat atau wisatawan untuk selalu bersikap disiplin dan amanah. Setelah digunakan, kembalikan ke tempat asalnya,” kata Haryadi.

Haryadi juga berpesan agar nantinya masyarakat maupun wisatawan bisa menggunakan Jogja Bike dengan penuh rasa tanggung jawab. Sejumlah 20 sepeda yang dioperasikan tahap awal merupakan hasil kolaborasi antara Pemkot Yogyakarta, pengembang aplikasi,dan Pertamina Foundation. Cukup banyak pihak yang ingin berkontribusi dalam pengembangan Jogja bike ke depan.

Add Comment