Era Revolusi Industri 4.0, Prof Josh: SDM sebagai Defence System Integrator

Pendiri Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Center for Environmental Remote Sensing Universitas Chiba Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, berbicara di depan para taruna-taruni Akademi Angkatan Udara (AAU), Senin (5/11/2018), tentang Era Revolusi 4.0. (Arif Giyanto)

AAU, Maguwoharjo—Berhadapan dengan era Revolusi Industri 4.0, diperlukan sumberdaya manusia (SDM) sebagai Defence System Integrator, seperti Network Centric Warfare (NCW) yang menggunakan satellite constellations untuk Indonesian Archipelago Defence System.

Hal tersebut disampaikan pendiri Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Center for Environmental Remote Sensing Universitas Chiba Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, di depan para taruna-taruni Akademi Angkatan Udara (AAU), Senin pagi (5/11/2018).

Kuliah Umum AAU yang digelar di Gedung Sabang Merauke kali ini mengangkat tema ‘Sumberdaya Manusia (SDM) sebagai Pelaksana/Aktor/Operator pada Sistem Ketahanan Nasional Era Revolusi Industri 4.0’.

“Artificial Intelligence, big data, hingga Internet of Things yang original menjadi pemersatu alutsista TNI untuk meningkatkan kekuatan pertahanan nasional,” ujar ‘Prof Josh’.

Menurutnya, calon-calon Pimpinan TNI AU harus memiliki pola pikir 4.0.

Ia menjelaskan, industri generasi ke-4 mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis yang mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan itu antara lain robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), teknologi nano, bioteknologi, teknologi komputer kuantum, blockchain (misalnya, Bitcoin), teknologi berbasis internet, dan printer 3D.

Untuk merespons Revolusi Industri 4.0, sambungnya, lembaga militer, terutama TNI AU, harus memiliki kualifikasi SDM yang critical thinking meski jelas tidak mengabaikan jalur komando. Selain itu, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan inovatif.

Belum lama ini, JMRSL pimpinan Prof Josh berkontribusi pada TNI AU. Flight test radar CP-SAR dalam misi Hinotori-X1 dipasang pada pesawat intai maritim Boeing 737-200 Surveillance Skadron Udara 5 TNI AU yang bermarkas di Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Kecanggihan CP-SAR mampu menembus awan dan gelapnya malam. CP-SAR bahkan bisa diberdayakan menjadi pelacak pesawat dan kapal perang siluman (stealth) dan radar AESA (Active Electronically Scanned Array).

Biasanya, pesawat intai maritim Boeing 737-200 menggunakan radar Motorola SLAMMR (Side Looking Airborne Modular Multi Mission Radar). Radar SLAMMR mampu mendeteksi keberadaan kapal hingga ukuran kecil dalam coverage sejauh 185 km pada ketinggian 9.150 meter dari permukaan laut.

‘Concern’ Gubernur AAU

Gubernur AAU yang baru saja dilantik, Marsda Tatang Harlyansah, memiliki perhatian khusus pada kesiapan lulusan AAU pada era Revolusi Industri 4.0. AAU sebagai wadah didik calon pimpinan TNI AU bertekad membekali para taruna dan taruni dengan pengetahuan terbaik, dari narasumber terpilih.

“Di Era Revolusi Industri 4.0, nasionalisme generasi muda tetap merupakan keniscayaan bagi eksistensi suatu negara. Karena itu, penguatan nasionalisme mutlak mendapatkan prioritas untuk terus diupayakan. Taruna sebagai kader pemimpin terus mengasah diri untuk memahami hakikat dan mengikuti dinamika perkembangan Era Revolusi Industri 4.0. Pada saatnya memimpin, mereka telah siap menyongsong, beserta dinamika yang terjadi,” ucapnya.

Add Comment