Kondur Gongso, Pengembalian Dua Gamelan ke Keraton Yogyakarta

Ngaro Dhalem, Sri Sultan Hamengkubowono X saat menyebar udhik-udhik di Masjid Gede Kauman Yogyakarta, Selasa (21/11/2018). (Hanang Widiandhika)

KAUMAN, Kraton – Dua perangkat Gamelan milik Keraton, Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga, dibawa pulang kembali masuk ke dalam Keraton Yogyakarta dalam prosesi Kondur Gongso.

Ribuan masyarakat memadati area Alun-alun Utara dan Halaman Masjid Gedhe mengikuti prosesi ini.

Sebelumnya, dua gamelan pusaka tersebut ditabuh di Pagongan Lor dan Kidul Masjid Gedhe Kauman selama tujuh hari sejak Miyos Gongso, pada Rabu 14 November 2018 lalu.

Sebelum prosesi Kondur Gongso dimulai, Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X berkesempatan Nyebar Udhik-udhik di Pagongan Lor dan Kidul Masjid Gedhe Kauman didampingi menantu dalem.

“Prosesi ini menandai puncak perayaan Sekaten memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang rutin dijalankan Keraton Yogyakarta,” kata KRT. Widyowinoto selaku wakil dari Kawedanan Hageng Punokawan Kridhamardowo Keraton Yogyakarta, Selasa (20/11/2018).

Sebar udhik-udhik

Setelah Nyebar Udhik-udhik, Sri Sultan HB X selanjutnya masuk ke Masjid Gedhe Kauman. Di Serambi Masjid Gedhe menghadap ke Timur, Sultan HB X yang mengenakan busana surjan dengan motif bunga khusyuk mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dari abdi dalem penghulu.

Usai pembacaan riwayat Rasulullah SAW, Sultan HBX selanjutnya meninggalkan Kompleks Masjid Gedhe Kauman. Setelah itu, dua perangkat gamelan secara bersamaan dibawa ke dalam Keraton Yogyakarta melewati Alun-Alun Utara, Pagelaran, Siti Hinggil dikawal empat bregada prajurit.

Segenap even budaya yang dilangsungkan juga berpusat di area masjid Gede Keraton yang dimaksudkan bisa mendatangkan masyarakat untuk kemudian melakukan ibadah di masjid ini. Perayaan Sekaten oleh Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat ini merupakan bukti ikut andilnya Raja-raja Mataram dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa sejak dulu.