Mahasiswa UGM Bertandang Pemda DIY

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik Drs Umar Priyono MPd saat menerima kunjungan Mahasiswa Sospol UGM di Gedhong Pracimosono, Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (29/11/2018). (Foto: Humas DIY)

KEPATIHAN, Danurejan- Pemerintah Daerah DIY menerima kunjungan studi mahasiswa jurusan Manajemen Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM di Gedhong Pracimosono, Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (29/11/2018).

Dalam kunjungannya, Prof. Dr. Agus Pramusinto selaku dosen sekaligus ketua rombongan menyampaikan maksud kedatangannya, untuk saling berdiskusi mengenai Keistimewaan DIY.

“Biar sekaligus tahu bahwa Indonesia itu kompleks, dilihat dari pulau, pemerintah, dan kabupaten. Jadi, para mahasiswa semester I yang ada di sini biar paham bagaimana negara ini dikelola, terutama di Pemda DIY,” jelas Agus.

Sebelum memaparkan materi, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik Drs Umar Priyono MPd berpesan kepada 50 orang yang hadir untuk tanggap menjadi mahasiswa yang lebih kritis, responsif dan adaptif terhadap lingkungan sekitar.

“Kalau tidak begitu, kita nanti tidak menjadi bagian percaturan dunia,” tutur Umar mengawali paparan.

Yogyakarta mini Indonesia

Lanjut Umar memaparkan, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keistimewaan pada sumbu filosofi yang membentang pada garis koordinat antara Gunung Merapi – Laut Selatan. Di antara garis tersebut terdapat bangunan Tugu Pal Putih (Tugu Golong – Gilig) – Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat – Panggung Krapyak.

“Maka dari itu, DIY disebut juga sebagai The City of Philosophy  karena tata letak kotanya yang mempunyai sisi filosofi tersendiri,” lanjutnya dengan suasana cair.

Terbentuknya sumbu filosofi ini, papar Umar, merupakan buah pemikiran visioner Pangeran Mangkubumi  (Sri Sultan Hamengku Buwono I). Umar menyatakan, pemikiran Pangeran Mangkubumi luar biasa hingga mampu mendesain tata letak sumbu filosofi di apit dengan hulu-hilir sungai.

“Hal ini mengisyaratkan, agar DIY tumbuh subur dengan lahan yang gembur,” papar Umar mengimbuhkan.

Pantas saja, kata Umar, jika Yogyakarta disebut ‘mini Indonesia’ karena adanya aspek historis. Namun, aspek historis harus didukung kuat oleh misi kebudayaan. Hal ini sejalan karena pada 24 Oktober 2018 lalu Yogyakarta dinobatkan sebagai ibukota kebudayaan ASEAN.

“Pengukuhan ini sekaligus menunjukkan sebagai bukti bahwa kultural Yogyakarta begitu istimewa hingga ke mancanegara,” jelas Umar.

Di akhir paparannya, Umar memberikan pesan agar para mahasiswa masa kini terus mengingat akan sejarah bangsanya. “Karena bangsa yang kehilangan sejarah itu sama saja dengan kehilangan jati diri,” imbuhnya di hadapan para mahasiswa.

Lagi, Umar berpesan agar mahasiswa tidak cukup ilmu ketika berada di Kota Pelajar ini. “Jika ingin belajar apapun, belajarlah di Jogja. Bukan sekadar belajar akademis semata, namun juga belajar kehidupan di Jogja,” pungkasnya.

 

Add Comment