Miyos Gongso, Keluranya Dua Buah Gamelan Milik Keraton Untuk Menyambut Maulid Nabi Muhammad

Para Perajurit Keraton Yogyakarta yakni Bregada Prajurit Jogokaryo dan Bregada Prajurit Prawirotomo mengawal dua buah gamelan Keraton Yogya, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga, Rabu malam (14/11). (Foto : Hanang Widiandhika)

KAUMAN, Keraton – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar ritual Miyos Gongso menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari Selasa (20/11) besok. Miyos Gongso ditandai dengan keluarnya dua gamelan pusaka, Kanjeng Kiai Naga Wilaga dan Kanjeng Kiai Guntur Madu. Prosesi pemindahan gamelan (Miyos Gangsa) milik Kraton Ngayogyakarta menuju ke Masjid Gedhe Kauman dilakukan pada Rabu (14/11) malam.

Pemindahan gamelan malam ini dikawal oleh dua Bregada Prajurit, yang tergabung dalam Bregada Prajurit Jogokaryo dan Bregada Prajurit Prawirotomo.Gamelan pusaka yang dibawa adalah gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga.

Kedua gamelan tersebut kemudian dimasukkan ke ruang yang berbeda yang ada di Masjid Kauman, untuk selanjutnya ditabuh oleh para pemain. Gamelan diarak dari Kraton menuju ke Masjid Kauman melewati Alun-Alun Utara yang juga sedang ada pasar malam perayaan Sekaten.

Namun sebelum kedua gamelan tersebut di masukkan di komplek Masjid Gede Kauman, dilakukan ritual penyerahan gamelan terlebih dahulu. Penyerahan tersebut di serahan dari keraton Yogyakarta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta.

KRT. Widyowinoto selaku wakil dari Kawedanan Hageng Punokawan Kridhamardowo Keraton Yogyakarta, atas perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan dua perangkat gamelan ini kepada Disperindag Kota Yogya, Maryustion Tonang.

Dengan dilakukan penyerahan ini, berarti tanggung jawab keamanan perayaan Sekaten sepenuhnya diserahkan kepada pihak Pemkot Yogyakarta.

Miyos Gongso, Suatu Tradisi Yang Harus Di Lestarikan

Pada kesempatan tersebut KRT. Widyowinoto menegaskan pentingnya tradisi Miyos Gongso yang masih bertahan hingga era sekarang. Menurutnya, tradisi tesebut menjadi awal dimulainya pagelaran Sekaten, sebagai sarana syiar agama Islam.

Ia menuturkan, Sekaten merupakan pendekatan para wali kepada masyarakat, dalam mensyiarkan agama Islam.Melalui tradisi itu, ajaran Islam kemudian bisa diterima dengan sangat baik.

“Dulu, kalau hendak dengarkan gamelan, masyarakat pasti melewati masjid dulu. Di situ, masyarakat diminta ucapkan kalimat Syahadad. Ajaran Islam pun bisa diterima dan berkembang dengan sangat pesat,” tuturnya.

Karena itu, Ia menganggap, budaya semacam ini harus dilestarikan, hingga generasi-generasi selanjutnya nanti.

Diiringi hujan yang mengguyur wilayah Yogyakarta, para abdi dalem yang malakukan iring-iringan tampak tetap semangat membawa perangkat gamelan.

Warga pun antusias menyaksikan prosesi ini. Meskipun di bawah guyuran hujan, area Alun-Alun Utara dan Masjid Kauman dipenuhi warga yang ingin menyaksikan prosesi Miyos Gangsa

Setelah ditabuh dalam sekitar 5 hari terus menerus dan bergantian dan berhenti disaat waktu sholat, hingga menjelang peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, kedua gamelan akan dibawa masuk lagi ke Kraton dalam prosesi Kondur Gangsa.