Wujudkan Ketahanan Pangan DIY

Bupati Gunungkidul Badingah, S.Sos didampingi Kepala BKPP DIY Ir. Arofa Noor Indriani gerakan tanam sayur dan buah untuk mendukung ketahanan pangan di Dusun Gading IV, Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul pada Kamis, (06/12/2018). (Foto: Humas DIY)

PLAYEN, Gunungkidul – Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik 2017, capaian skor Pola Pangan Harapan (PPH) DIY masih belum ideal. Untuk itu, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY melakukan program Gerakan Tanam Sayur dan Buah untuk mendukung ketahanan pangan.

Dalam kegiatan gerakan tanam sayur dan buah untuk mendukung ketahanan pangan di Dusun Gading IV, Desa Gading, Kecamatan Playen, Gunungkidul pada Kamis, (06/12/2018), Kepala BKPP DIY Ir. Arofa Noor Indriani, M.Si mengatalan, skor PPH DIY masih di angka 89, padahal idealnya 100.

“Tak hanya skor PPH, tingkat kualitas konsumsi pangan masyarakat di DIY pun masih belum sesuai dengan pola pangan harapan. Karena itu, melalui gerakan tanam ini, kami berharap bisa meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat agar bisa mendekati angka ideal,” imbuhnya.

Arofah menuturkan, persoalan lain dalam ketahanan pangan di DIY ialah permanfaatan lahan pekarangan yang sampai saat ini belum optimal. Padahal, dengan keaktifan masyarakat untuk memanfaatkan lahan sekitar rumah yang ada, ketahanan pangan bisa dicapai. Pemanfaatan pekarangan bisa untuk menanam sayur dan buah.

“Sayuran merupakan salah satu komoditas paling mudah mendongkrak PPH, dan bisa ditanam di pekarangan secara sederhana. Dengan mau memanfaatkan lahan pekarangan, minimal tiap keluarga bisa memenuhi kebutuhan sayur dan buah mereka sendiri. Kalau sudah begitu, fluktuasi harga bahan pangan tidak akan berpengaruh,” ujarnya.

Menurut Arofa, berbagai kegiatan untuk mendukung peningkatan konsumsi sayur di DIY harus terus dilakukan. Hal ini mengingat kondisi konsumsi sayur dan buah di DIY cenderung menurun. Tahun 2015, konsumsi sayur masyarakat DIY ialah 206 gram perkapita perhari, tahun 2016 naik jadi 227 gram perkapita perhari, tapi tahun 2017 turun 193 gram. Padahal angka idealnya, 300 gram perkapita perhari.

“Dengan kondisi ini, mari bersama mendukung apa yang sudah dilakukan, misalnya optimalisasi pemanfaatan pekarangan untuk tanam sayur dan buah. Karena tujuan gerakan ini ialah penyediaan sumber vitamin dan mineral yang beragam. Harapannya, diperoleh pola pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman atau (B2SA),” paparnya.

Potensi lahan pertanian yang besar

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Badingah, S.Sos mengatakan, Gunungkidul memiliki potensi besar terkait lahan pertanian. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun masih terus berupaya untuk menjadikan Gunungkidul sebagai sentra produksi tanaman pangan.

Tak heran jika sektor pertanian menjadi sektor prirotas dalam pembangunan dan pengembangan wilayah di Gunungkidul. Sektor pertanian juga masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga kami. Dan memang pendapatan terbesar kami juga dari sektor pertanian,” paparnya.

Terkait Gerakan Tanam Sayur dan Buah oleh BKPP DIY di Gunungkidul, Badingah mengaku sangat mendukung, utamanya untuk meningkatkan daya saing produk pertanian di Gunungkidul. Selain itu, dengan semakin banyak produksi bahan pangan, dapat mengurangi pasokan bahan pangan yang selama ini masih didatangkan dari luar daerah Gunungkidul.

“Selama ini, sejumlah bahan pangan sayur dan buah yang ada di Gunungkidul masih berasal dari luar daerah. Namun dengan ketersediaan air yang masih cukup, saya kita petani kami perlu didorong untuk menanam sayur dan buah. Apalagi produksi sayur dan buah nilai ekonomis tinggi karena merupakan produk pangam utama masyarakat,” katanya.

 

Add Comment