Berhasil Diterapkan di Gunungkidul dan Bantul, UGM-Korsel Lanjutkan Saemaul Undong


Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom,
diterima oleh Rektor UGM Panut Mulyono di Ruang Tamu Rektor UGM, Rabu (23/1/22019). (Humas UGM)

UGM, Sleman — Implementasi gerakan Saemaul Undong dinilai berhasil di Gunungkidul dan Bantul. Korea Selatan dan Universitas Gadjah Mada (UGM) siap melanjutkan program yang sudah ada. Kerja sama yang sudah dibangun sejak 2008 ini menjadi salah satu hubungan baik antara UGM dan Korea Selatan.

Bukan hanya Saemaul Undong, kerja sama antara Korea Selatan dan UGM juga dalam bidang pendidikan melalui pengembangan Korean Studies, kegiatan pertukaran mahasiswa dan dosen, riset, dan lainnya.

Hal tersebut menjadi agenda kunjungan Duta Besar (Dubes) Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom, di Ruang Tamu Rektor UGM, Rabu (23/1/22019). Dubes Korsel diterima oleh Rektor UGM Panut Mulyono.

“Harapannya, kerja sama yang sudah dilakukan bisa terus berlanjut dan semakin kuat di masa mendatang,” tutur Dubes Kim, dirilis Humas UGM.

Pada 2008 silam, di Daerah Istimewa Yogyakarta, implementasi awal gerakan Saemaul Undong telah dilaksanakan di tiga desa, yakni Kabupaten Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul, melalui kerja sama antara Pemerintah DIY dengan Provinsi Gyeongsangbuk-do Korea Selatan.

Dubes Korea Selatan menyampaikan terima kasih kepada UGM yang telah mengenalkan Saemaul Undong kepada masyarakat.

“Terima kasih pada UGM yang telah ikut mengenalkan Saemaul Undong,” katanya.

Dalam kunjungannya, Dubes Kim menyampaikan apresiasi kepada UGM yang telah bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Korea Selatan.

Kerja sama yang dilakukan Korea selatan dan UGM memang sudah terjalin cukup lama dengan perguruan-perguruan tinggi di Korea Selatan. Dengan adanya kerja sama dengan perguruan tinggi di korea ini, ia berharap bisa berlanjut dan semakin kuat di masa yang akan datang.

Sementara itu, Rektor UGM Panut Mulyono mengatakan. UGM memiliki jalinan kerja sama yang kuat dengan berbagai perguruan tinggi di Korea Selatan. Salah satunya, kerja sama dalam bidang pendidikan melalui pertukaran mahasiswa dan dosen.

Panut menambahkan, kerja sama antara Korea Selatan dan UGM bisa semakin erat dan semakin berkembang untuk ke depannya.

“Harapannya, pertukaran mahasiswa dan dosen dari UGM ke Korea Selatan bisa semakin meningkat. Begitu pun sebaliknya,” ucap Rektor.

Pada kesempatan itu, turut hadir Wakil Rektor UGM Bidang Kerja Sama dan Alumni, Paripurna; Ketua Pusat Studi Tri Sakti dan Saemaul Undong (PSTS) UGM, Mukhtasar Syamsuddin; Sekretaris Jurusan Departemen Bahasa Korea Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Suray Agung Nugroho; serta sejumlah dosen UGM yang menjadi alumni di berbagai perguruan tinggi Korea Selatan.

Pusat Studi Tri Sakti dan Saemaul Undong

Gerakan Saemaul Undong yang digagas Pemerintah Korea Selatan pada 1970 menjadi fondasi bagi pertumbuhan Korea Selatan dari negara miskin menuju salah satu perekonomian terbesar dunia, dan diakui sebagai salah satu program pembangunan nasional yang paling berhasil.

Hal ini mendorong lahirnya Pusat Studi Tri Sakti dan Saemaul Undong (PSTS) Fakultas Filsafat UGM untuk mengkaji gerakan ini secara khusus, sehingga nantinya dapat diimplementasikan secara luas dalam semangat membangun Indonesia dari pedesaan.

Hingga akhir tahun 1960-an, sebagian besar warga Korea Selatan masih hidup dalam kemiskinan dengan kesenjangan antara wilayah pedesaan dan perkotaan yang terus terus bertambah.

Kondisi ini membuat Negeri Ginseng berinisiatif membuat gerakan yang diberi nama ‘Saemaul Undong’, yaitu gerakan pembangunan yang digerakkan oleh masyarakat dengan menekankan semangat ketekunan, swadaya, dan kerja sama. Keberhasilan gerakan ini dapat dilihat dengan peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga secara drastis dari 825 dolar menjadi 4.602 dolar dalam kurun waktu 10 tahun.

Keberhasilan ini menjadikan Korea sebagai salah satu pionir gerakan pembangunan melalui pemberdayaan desa, suatu gerakan yang kemudian berusaha diimitasi oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Persamaan latar belakang sejarah antara Indonesia dan Korea Selatan memberikan harapan bahwa program serupa yang berhasil dijalankan di Korea dapat pula diimplementasikan di Indonesia. (Aziz Abdillah)

Add Comment