Dinas Pertanian Sleman Adakan Pelatihan Pengolahan Hortikultura

PELATIHAN PENGOLAHAN HORTIKULTURA : Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan melalui bidang Hortikultura dan Perkebunan mengadakan pelatihan (26/02/2019). Pelatihan pengolahan hasil tanaman Hortikultura dan Perkebunan ini berlangsung di balai Desa Sidorejo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. (Foto : pertanian.slemankab.go.id)

Godean, Sleman- Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan melalui bidang Hortikultura dan Perkebunan mengadakan pelatihan (26/02/2019). Pelatihan pengolahan hasil tanaman Hortikultura dan Perkebunan ini berlangsung di balai Desa Sidorejo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman.

Diikuti oleh 25 orang peserta, acara ini dibuka langsung oleh Kasi Bina Usaha hortikultura dan Perkebunan Ir. Siti Rochayah. Pelatihan tidak hanya dilaksanakan di Desa Sidorejo-Godean, pada hari yang sama juga diselenggarakan pelatihanserupa di Desa Sidomulyo-Godean.

Pelatihan dilaksanakan sebagai pertanggungjawaban dari tugas yg dipercayakan oleh pemerintah kecamatan maupun dewan. Pelatihan pengolahan dilaksanakan selama dua hari diikuti oleh Kelompok wanita tani maupun PKK. Beberapa narasumber yang hadir dalam pelatihan kali ini diantaranya ialah petugas Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan, kecamatan, PMHP, motivator dan BPTP.

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan peserta mampu membuat dan menciptakan olahan dari produk hortikultura dan perkebunan yang menjadikannya sebagai usaha yang mampu menaikkan taraf ekonomi peserta khususnya dan masyarakat umumnya.

Bidang Hortikultura dan Perkebunan hingga hari ini telah melaksanakan pelatihan angkatan ke-14. Pada bulan Januari 2019 melaksanakan sembilan kali pelatihan di wilayah Kecamatan Depok. Terdiri atas 8 pelatihan usulan pokok pikiran dewan dan 1 pelatihan usulan PUPM.

Sementara itu, pada bulan Februari ini Bidang Hortikultura melaksanakan 6 angkatan di berbagai wilayah. Antara lain, kecamatan Tempel, Kecamatan Godean dan Kecamatan Berbah. Adapun agenda pelatihan pada bulan Maret terdapat 8 angkatan di wilayah kecamatan Pakem dan 1 angkatan di kecamatan Moyudan.

Pengolahan dan Pemasaran Hortikultura

Dalam rangka pengembangan produk hortikultura yang bermutu dan berdaya saing di pasar domestik dan internasional, selain penerapan budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices/GAP), juga diperlukan penanganan pascapanen yang baik dan benar (Good Handling Practices/GHP). Kegiatan pascapanen produk hortikultura merupakan salah satu kegiatan dalam usahatani yang perlu mendapat perhatian, karena menyangkut upaya menekan kehilangan hasil baik dalam bobot maupun mutu dan memperpanjang kesegaran produk dan umur simpan (Direktorat Jenderal Hortikultura : 2018)

Diperkirakan menurut FAO tahun 1979 tingkat kerusakan dapat mencapai 30-50% bila penanganan saat panen kurang tepat. Tata kelola hasil hortikultura mendapat perhatian prioritas. Karakteristik produk sayuran dan buah-buahan yang mudah rusak, busuk dan susut perlu diatasi dengan teknologi hilir, mencakup penanganan pada saat panen, pasca panen, pengolahan, penyimpanan, sortasi, packaging dan lainnya.

Tahapan kegiatan pascapanen untuk setiap jenis komoditas hortikultura memerlukan penanganan yang berbeda sesuai karakter masing-masing produk. Secara umum, yang dilakukan di bangsal pascapanen antara lain sebagai berikut: penerimaan pasokan produk, pembongkaran muatan, diangin-anginkan (curring), pemeriksaan, dan pencatatan pasokan; sortasi (pemilahan produk); perompesan (trimming), pembersihan atau pencucian; pengkelasan (grading); perlakuan dengan fungisida (pilihan); pelilinan (waxing); pengepakan (packaging); fumigasi, pemeraman, yang merupakan beberapa perlakuan tambahan sebelum atau sesudah pengepakan; dan penyimpanan sebelum pengangkutan.

Mendukung proses ini, Direktorat Jenderal Hortikultura melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian pada tahun 2018 menfasilitasi sarana dan prasarana pascapanen (bangunan bangsal pascapanen) untuk komoditas sayuran terutama cabai, bawang, buah-buahan, serta komoditas hortikultura strategis lainnya di 27 Provinsi (60 Kabupaten/Kota) dengan 61 unit fasilitas bangsal pascapanen dan 61 unit sarana pascapanen. (Tri M)