Legalitas Usaha Bagi Industri Kreatif di Kulon Progo

LEGALITAS USAHA : Sosialisasi legalitas usaha (26-27 Februari 2019) oleh Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. (Foto : perdagangan.kulonprogokab.go.id)

Kokap, Kulon Progo – Menjawab tantangan industri 4.0 Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta mengadakan sosialisasi legalitas usaha (26-27 Februari 2019) . Dalam Sosialisasi ini terlihat hadir Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo Dr. Krissutanto didampingi Kepada Bidang Perindustrian Drs. Dewantoro.

Bertempat di Balai Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, acara ini diikuti oleh 30 peserta pelaku industri berbasis Logam Kimia dan Aneka. Peserta yang mengikuti acara ini diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan industri yang ada.

Sebagaimana diketahui, perkembangan industri di Indonesia memasuki tahapan ke 4. Dengan demikian, dunia industri memasuki era digitalisasi. Maka, pelaku industri mau tidak mau harus berkembang kearah digitalisasi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Industri Logam Kimia dan Aneka, Ade Wahyudiyanto, bahwa memasuki era digital, pelaku usaha industri harus berpacu dan kreatif.  Kreatifitas para pelaku usaha akan membuat industri kreatif  tidak kalah bersaing dengan produk-produk sejenis. Terutama  yang berasal dari luar Kulon Progo.

Untuk mengawali hal tersebut, Pemerintah Daerah Kulon Progo menekankan pentingnya legalitas usaha.Pada kegiatan tersebut juga dilakukan penyampaian proses perijinan menggunakan Online Single Submission (OSS) oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) yang dilakukan secara onlie melalui oss.go.id.

Dalam pelaksanaan alih teknologi digitalisasi industri juga dilakukan dalam pendataan potensi industri dan manajemen kelembagaan dalam pengelolaan usaha industri. Sehingga diharapkan pelaku industri juga dapat mengikuti perkembangan jaman.

Menyongsong Industri 4.0

Istilah Industry 4.0 pertama kali digemakan pada Hannover Fair, 4-8 April 2011. Istilah ini digunakan oleh pemerintah Jerman untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi.

Mengutip dari laman Forbes, revolusi industri generasi keempat bisa diartikan sebagai adanya ikut campur sebuah sistem cerdas dan otomasi dalam industri. Hal ini digerakkan oleh data melalui teknologi machine learning dan AI.

Indonesia dinilai menjadi negara di tingkat Asean yang memiliki optimisme tinggi terhadap kesiapan implementasi industri 4.0. Hal ini tercermin dari peluncuran peta jalan Making Indonesia 4.0 di April tahun lalu dan penerapan digitalisasi industri oleh sejumlah perusahaan manufaktur di dalam negeri.

“Dengan industri 4.0, Indonesia akan keluar sebagai salah satu bangsa juara pada tahun 2030. Bahkan, menurut PricewaterhouseCoopers (PwC), di saat itu kita bisa menjadi negara nomor tujuh dengan perekonomian terkuat di dunia. Maka yang harus kita dorong adalah optimisme,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat menjadi narasumber acara KADIN Entrepreneurship Forum di Jakarta, Rabu (27/2).

Menperin juga menyebutkan, berdasarkan hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, yakni sebesar 78%. Di atas Indonesia terdapat Vietnam sebesar 79%, sedangkan di bawah Indonesia ditempati Thailand sekitar 72%, Singapura 53%, Filipina 52% dan Malaysia 38%.

“Survei ini dilakukan kepada supplier teknologi dan manufaktur di Asean. Dari jawaban mereka, sebanyak 93 persen mengatakan bahwa industri 4.0 adalah peluang, kemudian tingkat kesadaran untuk menerapkan sebesar 81 persen, dan pertumbuhan dalam optimisme 63 persen,” paparnya.

Riset McKinsey juga menunjukkan, industri 4.0 akan berdampak signifikan pada sektor manufaktur di Indonesia. Misalnya, digitalisasi bakal mendorong pertambahan sebanyak USD150 miliar atas hasil ekonomi Indonesia pada tahun 2025. Sekitar seperempat dari angka tersebut, atau senilai USD38 miliar, dihasilkan oleh sektor manufaktur.

Untuk itu, guna mengoptimalkan kinerja industri manufaktur nasional, diperlukan upaya akselerasi penerapan teknologi digital. Adapun teknologi yang menjadi penentu keberhasilan pada adaptasi industri 4.0, antara lain Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intelligence, Mobility, Virtual and Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding. (Tri M)