Membangun Nilai Kemataraman, Kulon Progo Gelar Worksop Jemparingan Mataram


Jemparingan merupakan olah raga panahan khas Kerajaan Mataram. Berbeda dari panahan pada umumnya yang dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila (Pemkab Kulon Progo)

Pengasih, Kulon Progo – Nilai-nilai Kemataraman memiliki banyak aspek didalamnya, salah satunya Jemparingan. Melihat hal demikian, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Kebudayaan menggelar Worksop Jemparingan Mataram di kampung Jemparingan, Langen Progo, Pengasih, Kulon Progo. Selasa (5/2/2019)

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Untung Waluya saat ditemui sebelum acara jemparingan dibuka, menyampaiakan bahwa menjalankan dan menindak lanjuti amanat gubernur DIY tentang semangat mewujudkan Yogjakarta Istimewa.

“Salah satu amanat Yogyakarta Istimewa itu adalah membangun nilai–nilai Kemataraman. Nilai Kemataraman sendiri salah satunya adalah jemparingan, Jemparingan merupakan sarana untuk mewujudkan generasi muda khususnya anak untuk membangun jiwa berkarakater,” kata Untung.

Untung Waluya menambahkan, dengan jemparingan ini merupakan bagian tak terpisahkan untuk membina budi pekerti luhur, untuk generasi muda khususnya anak–anak.

Workshop Jemparingan tahun ini cukup meriah, karena dihadiri juga perwakilan peserta Jumparingan dari Bangkalan berjumlah empat orang. Peseta berasal dari Jawa tengah, Klaten, Surabaya, Bali, Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunung Kidul. Ajang jemparingan ini sebagai silaturrahmi, berharap menjadi media promosi yang efektif bagi pemerintah dan masyarakat Kulon Progo.

Dalam sambutannya Bupati Kulon Progo yang diwakilkan Asda I bidang Pemerintahan Kesra, Jumanto, mengatakan dalam workshop Jemparingan Mataram.

Bupati menyampaikan, olahraga panahan sekaligus untuk melestarian seni budaya jemparingan mataraman, yang masih berlangsung di daerah ini. Menujukan bahwa kita masih peduli jemparingan mataram yg merupakan seni tradisi dan budaya warisan leluhur bangsa, khususnya di DIY.

Dalam melestarian budaya jemparingan pemerintah kabupaten Kulon Progo berupaya lebih memfokuskan kepada anak–anak usia SD, SMP dan generasi muda lainya untuk berolahraga jemparingan.

Pemkab Kulon Progo juga sudah memasukan olahraga jemparingan ini dalam kurikulum Pendidikan karakter kemataraman. Sebagai kegiatan ekstrakulikuler di sekolah.

Bupati juga berharap, kepada generasi muda, agar tidak boleh terlarut dengan teknologi dan media sosial, tetapi juga harus mengenal lebih jauh filosofi jemparingan.  Nantinya generasi muda ini menjadi generasi emas, berkarakter, berbudaya,beretika dan tanggung jawab.

Workshop Jemparingan Mataram tahun ini bukan hanya diikuti oleh orang dewasa nanun juga anak-anak yang menggemari olahraga Jemparingan.

Salah satu pesertanya, Bintang, merasa senang dengan mengikuti acara tersebut.

“saya senang ikut Jemparingan karena cara mainnya asik, bisa belajar membidik, belajar ketenangan dan saya sering latihan disisni dengan teman–teman,” kata Bintang

Acara Workshop Jemparingan Mataram ini juga turut dihadiri Asda I bidang Pemerintahan Kesra, Jumanto, Ketua DPRD Kulon Progo Akhid Nuryati, Ketua DPRD Bangkalan Imron Rosyadi, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA), Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Untung Waluya, serta para Atlet Jemparingan Mataram.

Jemparingan Gaya Mataram

Jemparingan merupakan olah raga panahan khas Kerajaan Mataram. Berbeda dari panahan pada umumnya yang dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila. Hingga kini jemparingan masih lestari, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta.

Asal usul jemparingan di Kesultanan Yogyakarta, atau juga dikenal sebagai jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak kesatria.

Watak kesatria yang dimaksudkan adalah empat nilai yang harus disandang oleh warga Yogyakarta. Keempat nilai yang diperintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyatnya tersebut adalah sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Sawiji berarti berkonsentrasi, greget berarti semangat, sengguh berarti rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti bertanggung jawab.