Biennale Jogja Equator #5, Berangkat Dari Pinggiran

Konferensi Pers menuju penyelenggaraan Biennale Jogja Equator #5 tahun 2019 oleh Alia Swastika selaku Direktur YBY, Dan Akiq AW serta Arham Rahman sebagai Kurator Biennale Jogja VX. (Foto : Tri M).

Gondomanan, Yogyakarta- Biennale Jogja (BJ) adalah perhelatan besar seni rupa yang diselenggarakan setiap dua tahun diorganisasi oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Sejak tahun 2011, penyelenggaraan BJ berangkat dari satu tema besar yaitu EQUATOR (KHATULISTIWA). Rangkaian Biennale ini mematok batasan geografis tertentu di planet bumi, yakni kawasan yang terentang diantara  23.27 LU dan 23.27 LS.

Tahun ini, Biennale JogjaEquator #5 mengangkat tema spesifik mengenai isu pinggiran. Berangkat Dari Pinggiran, itulah tema yang diambil. Disampaikan pada saat jumpa pers dengan awak media, acara ini akan mempertemukan Indonesia dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Bertempat di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta, Alia Swastika selaku Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta menjelaskan bahwa kegiatan Biennale kali ini ingin melihat konsep bangsa di kawasan Asia Tenggara. Ia menjelaskan bahwa ada 3 kurator utama dalam kegiatan ini. Dua dari Indonesia dan satunya dari Thailand.

“Kita sekarang punya dua kurator, yaitu Arham Rahman dan Akiq AW. Dua kurator dari Indonesia ini yang membangun gagasan dengan Biennale Jogja. Bekerja sama dengan kurator dari Thailand, Penwadee Nophaket Manot,” jelas Alia.

Awal dan akhir tahun ini, menyambut Biennale Jogja Equator #5, yaitu Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi Biennale. FGD yang dilakukan Desember 2018 lalu, Biennale mengundang beberapa praktisi dan akademisi yang fokus pada kajian Asia Tenggara. FGD ini dilakukan untuk mendiskusikan pandangan mereka terkait dengan konteks, politik, sosial dan budaya.

Arham Rahman sebagai Kurator dalam kegiatan ini menjelaskan spesifik terkait dengan konsep pinggiran yang diangkat dalam kegiatan ini. Meskipun dirasa dilematis, tapi isu ini menjadi isu yang cukup menarik dalam Biennale tahun ini. Isu ini juga menjadi pembeda dengan penyelenggaraan Biennale tahun sebelumnya.

Menurutnya, dalam sebuah penyelenggaraan ia tidak mau terjebak dalam dua hal yakni terkait dengan eksotisasi  isu dan mengulang-ulang kembali isu yang sudah ada. Sehingga, tidak ada kebaruan dalam sebuah penyelenggaraan Biennale Jogja Equator #5.

Penyelenggaraan kali ini diharapkan menjadi titik awal pengembangan seni dan sejarah di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

“Edisi equator kali ini ingin membicarakan Asia Tenggara. Bahwa Asia Tenggara tidak harus terkait dengan konteks global China Amerika. Maka dengan pinggiran kita bisa sama-sama belajar. Biennale menjadi titik awal membicarakan itu,” tutur Alia Swastika menambahkan.

Konsep Pinggiran

“Kami tidak bermaksud melihat pinggiran dalan konteks geografis, tapi juga konteks konseptualnya,” jelas Arham Rahman.

Wacana terkait dengan pinggiran tidak hanya muncul dalam konteks geografis, tetapi juga muncul di dalam pusat itu sendiri. Ia juga menuturkan bahwa, bersama tim, mereka membuat kategorisasi gagasan  yang diangkat.

“Yang pertama subjek, yang kedua terkait dengan masalah isu. Dalam ranah praktik, memang banyak muncul secara geografis akan muncul di kawasan urban. Lalu, bagaimana kami mengaitkan dengan konteks asia tenggara?,” begitu Rahman menjelaskan lagi terkait dengan konsep pinggiran.

“Ada ikatan yang cukup kuat di kawasan Asia Tenggara sebelum konsep nation-state itu dikemukakan,” imbuhnya lagi. Hal yang memiliki kemiripan dibeberapa daerah di Asia Tenggara ialah sistem kosmologi, perhatiannya terhadap lingukungan.

Tema Berangkat Dari Pinggiran yang menjadi konsep utama dalam penyelenggaraan kalo ini memiliki berbagai tujuan.

“Pertama, Kami ingin melihat kawasan pinggiran membayangkan dunia global secara umum. Kedua, kami melihat pinggiran ini sebagai sarama untuk merefleksikan kondisi kita sekarang. Ketiga, ingin belajar dari perspektif pinggiran,” jelasnya lagi.

Dalam kegiatan ini, Biennale akan melibatkan 50 seniman untuk menjadi relawan. Seniman yang akan dilibatkan diutamakan memiliki konsen isu yang terkait dengan tema dan dekat dengan daerah pinggiran secara geografis. Diperkirakan, dari 50 seniman, 30 dari Indonesia dan 20 lainnya dari negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan bahkan Vietnam.

Akiq AW yang juga menjadi kurator juga memberi keterangan bahwa di Biennale kali ini memiliki ide bagaimana seniman melakukan perjalanan. Perjalanan yang akan dilakukan ialah perjalanan laut, sungai dan darat. (Tri M)