Desa Selomartani, Satu dari 12 Kampung Siaga Bencana di Kabupaten Sleman

Sesi simulasi siaga bencana di Desa Selomartani. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pengukuhan Kampung Siaga Bencana di Desa Selomartani Minggu (17/03/2019). (Foto: slemankab.go.id)

Kalasan, Sleman- Bupati Sleman, Sri Purnomo, kukuhkan Desa Selomartani sebagai Kampung Siaga Bencana (KSB), Minggu (17/03/2019). Bertempat di Lapangan Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, kegiatan ini diinisiasi oleh Dinas Sosial DIY bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman. Selain itu, kegiatan ini juga dalam rangka HUT Taruna Siaga Bencana (Tagana) ke 15.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam X. Ada sebanyak 50 warga Desa Selomartani dikukuhkan sebagai relawan KSB. Selain itu juga diisi oleh sarasehan dengan pembicara dari Kemnterian Sosial RI, Margo Wiyono, Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi, dan Bupati Sleman, Sri Purnomo. Saat ini di DIY ada sebanyak 50 KSB yang telah dikukuhkan. Sedangkan di Kabupaten Sleman ada 12 KSB.

Sri Purnomo berharap dengan pengukuhan Desa Selomartani sebagai KSB masyarakat memiliki kesiapsiagaan dan ketrampilan dalam mengurangi risiko ketika terjadi bencana. Menurutnya hal tersebut sangat penting, mengingat Kabupaten Sleman memiliki berbagai macam potensi bencana alam.

“Kabupaten Sleman ini punya tujuh potensi bencana, diantaranya erupsi gunung berapi, banjir, gempa bumi, puting beliung, kekeringan, tanah longsor dan kebakaran. Kecuali tsunami, karena kita jauh dari laut.  Maka masyarakat harus punya kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana,” ucapnya.

Maka, menurut Sri Purnomo bencana alam sudah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sleman. Sehingga membentuk KSB di Kabupaten Sleman terbilang mudah. Karena masyarakat Kabupaten Sleman sudah cukup akrab dengan berbagai macam bencana di wilayahnya.

“Ini adalah model penanggulangan bencana berbasis masyarakat,” jelasnya.

Sementara Drs. Untung Sukaryadi, selaku Kepala Dinas Sosial DIY mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat dalam mengahadapi bencana tidak hanya untuk orang dewasa saja, namun harus ditanamkan sejak dini. Setidaknya anak-anak tersebut dapat melindungi dirinya sendiri ketika terjadi bencana.

“Maka kami ada Tagana Masuk Sekolah. Ditanamkan mulai dari PAUD sampai mahasiswa. Nanti juga ada Tagana Masuk Kampus”, ungkapnya.

Siap Siaga Hadapi Bencana

Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi mengatakan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana harus ditanamkan sejak dini. Setidaknya, anak-anak dapat melindungi dirinya sendiri ketika terjadi bencana.

“Maka itu, kami ada Tagana Masuk Sekolah, ditanamkan mulai dari PAUD sampai mahasiswa. Nanti juga ada Tagana Masuk Kampus,” kata Untung di Lapangan Desa Selomartani dalam acara yang sama.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Tahun 2018 dalam 1 (satu) tahun, terjadi hampir 2500 bencana di Indonesia.  Setiap kejadian bencana, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban dan menderita.

Beberapa bulan ke belakang, Indonesia dilanda duka akibat adanya bencana alam yang menimpa dua wilayahnya. Di akhir bulan Juli hingga Agustus, Lombok, Nusa Tenggara Barat mengalami rangkaian gempa bumi. Sebulan kemudian, tepatnya, 28 September 2018, terjadi gempa bumi di Donggala, Sulawesi Tengah. Kedua gempa ini memberikan dampak berupa kerusakan rumah dan berbagai fasilitas serta memakan korban jiwa.

Bahaya alam yang berubah menjadi bencana, seperti gempa bumi, potensial terjadi di Indonesia sebagai akibat dari letak geografis negara kita. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di Ring of Fire dengan banyaknya gunung berapi serta pertemuan empat lempeng tektonik: lempeng Benua Asia, Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. Oleh karena itu, aktivitas magmatik atau bergeraknya lempeng bumi dapat mengarah pada terjadinya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami. (Tri M)