Dinas Pertanian Gunungkidul Lakukan Safari Panen Jagung

PANEN RAYA : Kepala Dinas Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul dan Kepala BPTP Yogyakarta melakukan safari panen jagung di Kecamatan Ngawen, Semin, dan Karangmojo (27/02/2019). (Foto: pertanian.gunungkidulkab.go.id)

Gunungkidul- Kepala Dinas Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul dan Kepala BPTP Yogyakarta melakukan safari panen jagung di Kecamatan Ngawen, Semin, dan Karangmojo (27/02/2019).  Safari ini dilakukan bertepatan dengan bulan musim panen serentak yakni bulan Februari. Panen raya dilakukan oleh petani sejak minggu kedua hingga minggu keempat di bulan Februari.

Bupati Gunungkidul, Badingah beberapa waktu lalu juga melakukan safari. Beliau mengatakan bahwa Gunungkidul merupakan salah satu penghasil jagung terbesar di DIY. Rata-rata luas tanaman jagung di Gunungkidul sendiri mencapai 51 hektare.

“Harapan kami jagung ini menjadi komoditas utama yang unggul di Gunungkidul. Dengan kondisi di musim panen ini, alhamdulillah jagung di sini sangat bagus sekali,” kata Badingah, saat melakukan panen raya perdana jagung hibrida di Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul, DIY.

Kecamatan Playen sendiri memiliki kontribusi cukup besar dalam produksi jagung di Gunungkidul. Di 2019 ini, luas tanam jagung di Kecamatan Playen mencapai 2.726 hektare.

Sementara itu, di Desa Bleberan juga memiliki potensi luas lahan jagung sebesar 748 hektare. Untuk itu, ia berharap produksi jagung akan terus meningkat.

“Kami optimistis bahwa produksi jagung tahun ini akan meningkat dibandingkan tahun lalu. Ini mudah-mudahan nantinya bisa mensejahterakan masyarakat Gunungkidul,” tambahnya.

Kalkulasi Produksi Jagung  di Beberapa Kecamatan

Di Kecamatan Ngawen lokasi panen berada di Desa Beji. Jenis  jagung yang ditanam adalah P. 36 dengan luas hamparan 5 ha. Sedangkan untuk hasil panen mencapai 10,2 ton/ha dengan harga jagung ditingkat petani Rp.3.000/kg.

Sedangkan di Kecamatan Semin, lokasi panen berada di Desa Sumberjo, varietas yang ditanam Bisi 99, luas hamparan 340 ha dan hasil panen mencapai 10,56 ton/ha. Terakhir, Desa Ngawis merupakan lokasi panen di Kecamatan Karangmojo. Gapoktan Ngawis memiliki luas penanaman jagung 200 ha dan mendapatkan bantuan benih untuk luasan 54 ha. Hasil panen mencapai 8,25 ton/ha dengan harga jagung per kg Rp 3.500,-.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, mengemukakan produksi jagung pada panenan MH 2018/2019 lebih baik dari tahun sebelumnya berkisar antara 8-10 ton/ha dari 8 lokasi yang sudah dipanen. Hal senada dibenarkan Kepala (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) BPTP Yogyakarta bahwa hal tersebut bisa disebabkan karena pada MH 2018/2019 curah hujan agak kurang tidak seperti tahun sebelumnya,

Namun meskipun begitu, ketersediaan air dan intensitas sinar matahari mencukupi untuk  pertumbuhan tanaman.  Sehingga proses fotosintesis bisa lebih optimal untuk menghasilkan produk asimilat yang tinggi. Harga jagung di Gunungkidul bervariasi antar kecamatan saat ini berkisar 3000-3.500/kg. Petani berharap harga tidak terus turun dibawah 3000/kg .

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto mengatakan, pemerintah terus berupaya dalam meningkatkan produktivitas jagung. Terlebih, kebutuhan jagung memang tertinggi tersebar di Pulau Jawa.

“Kebutuhan jagung paling banyak kan ada di Jawa. Jatim, Jateng dan Jabar. Maka saya menyambut sangat baik lahan di Gunungkidul dimanfaatkan untuk tanaman jagung,” kata Gatot.

Untuk itu, ia mengimbau agar pada musim hujan ini lahan yang ada di Gunungkidul dapat dimanfaatkan untuk tanaman jagung. Sehingga, pada musim kemarau nanti dapat dilakukan panen raya dengan hasil panen yang bagus dan tidak mengalami kerusakan akibat musim hujan.Lebih lanjut Gatot menyebutkan, kebutuhan jagung secara nasional mencapai 15,1 juta ton. Namun, hasil panen per tahun mencapai 30 juta ton. (Tri M)