Disbud Kulon Progo Gelar Macapat Rutin Tahunan di Makam Girigondo

Kelompok Dwija Budaya dari Temon tampil di kompleks makam Girigondo saat acara macapat rutin oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo. Tahun ini, macapat rutin akan dilakukan di kompleks makam Girigondo, Temon. (Foto: disbud.kulonprogokab.go.id)

Temon, Kulon Progo- Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulon Progo melaksanakan program tahunan yakni macapat rutin. Berbeda dari tahun sebelumnya, yang dilakukan secara keliling di setiap kecamatan, macapat rutin tahun ini hanya digelar di satu lokasi saja.

Lokasi yang akan dijadikan tempat acara macapat rutin ialah kompleks makam Girigondo, Temon. Penyelenggaraan macapat rutin di kompleks makam Girigondo di Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo,  dilaksanakan pada setiap malam Minggu Wage. Menurut Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Supriyadi, hari tersebut bertepatan dengan wiyosan Sri Paduka Paku Alam V yang menggagas berdirinya makam Girigondo.

“Mengapa malam Minggu Wage?. Karena, sebagai tetenger kepada Sri Paduka Paku Alam V yang telah menggagas berdirinya makam Girigondo. Selain itu, untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat keberadaan kompleks makan Girigondo,” jelas Supri.

Namun pada macapat rutin perdana kemarin pelaksanaannya digeser menjadi malam Sabtu Pon (08/03/2019) dikarenakan pada malam Minggu Wage bertepatan dengan haul Sri Paduka Paku Alam I – IX yang juga digelar di kompleks makam Girigondo. Agar kedua acara tersebut dapat berjalan dengan lancer, maka pelaksanaan macapat rutin yng diajukan. Untuk penampilan perdana macapat ritin ini dari kelompok macapat Dwija Budaya dari Temon.

Tercatat bahwa tahun 2019 ini, malam Minggu Wage hanya ada 9 kali, sedangkan kelompok yang akan tampil ada 11 kelompok, maka yang 2 kelompok akan tampil pada malam Sabtu Kliwon. Sabtu Kliwon dipilih karena bertepatan dengan surutnyaSri Paduka Paku Alam VIII.

“Yang jadi masalah, di tahun 2019 ini malam Minggu Wage hanya ada 9 kali, sedangkan kelompok yang akan tampil ada 11 kelompok, maka solusinya yang dua kelompok kami geser di malam Sabtu Kliwon. Sabtu Kliwon bertepatan dengan surutnya Sri Paduka Paku Alam VIII.” tutup Supri.

Sejarah Macapat

Secara umumnya kira-kira sesungguhnya macapat datang pada akhir masa Majapahit bersama munculnya pengaruh Walisanga, tapi hal ini namun dapat dikatakan untuk status di Jawa Tengah.

Sebab di Jawa Timur dengan Bali macapat dikenal sebelum datangnya Islam. Menjadi contoh terdapat bentuk tulisan dari Bali ataupun di Jawa Timur yang diketahui dengan judul Kidung Ranggalawé dibilang pernah selesai dicetak saat tahun 1334 Masehi.

Namun disamping itu , tarikh itu disangsikan karena karya ini teruntuk diketahui jenisnya yang lebih mutakhir dengan semua naskah yang mengandung teks itu bermula dari provinsi Bali. Sementara itu mengenai usia macapat, terutama hubungannya disertai kakawin, dengan yang lebih tua, terdapat dua pemikiran yang berbeda.

Prijohoetomo percaya sesungguhnya macapat merupakan turunan kakawin dengan tembang gedhé sebagai perantara. Pemikiran ini disangkal oleh Poerbatjaraka beserta Zoetmulder. Berdasarkan kedua pakar ini macapat sebagai metrum sajak asli Jawa lebih dulu umurnya ketimbang kakawin. Maka macapat baru tiba sesudah pengaruh India semakin pudar. (Tri M)