Dorong Kemajuan Pengrajin Lokal, JIFFINA 2019 Hadir Kembali


ketua JIFFINA 2019 saat bertemu dengan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X, senin (11/3/2019), bertempat di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. (Humas Pemda DIY)

Kompleks Kepatihan, Yogyakata – Jogja Internasional Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2019, kembali hadir untuk mendorong kemajuan pengrajin lokal.

Bertemakan “The Inovation Lifestayle For Sustanaible Forest”, acara ini akan di selenggarakan di Jogja Expo Center pada 13-16 Maret 2019. Hal ini disampaikan oleh ketua JIFFINA 2019 usai bertemu dengan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X, senin (11/3/2019), bertempat di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X berharap, tampilan JIFFINA 2019 bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Kegiatan ini juga diharapkan memberi ruang untuk pengrajin lokal DIY, dan mampu mendorong  kerajianan lokal.

Endro selaku ketua komite menyampaikan peserta JIFFINA 2019 ini akan bertambah, dengan harapan pengunjung atau buyers pun akan meningkat. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi momen yang tepat dalam mendorong kemajuan bagi industri mebel dan kerajinan lokal.

“Harapan JIFFINA 2019 juga bisa menjadi barometer pameran internasional yang berada di daerah. Akan banyak pengunjung yang hadir dari dunia internasional sehingga mampu menggerakkan ekonomi lokal”, Kata Endro.

Endro pun menambahkan pada awal penyelenggaraannya sempat mengalami ketersendatan namun dengan berjalannya waktu JIFFINA mulai mengalami peningkatan tiap tahunnya. Oleh karena itu target penjualanpun diperkirakan akan naik dari tahun sebelumnya.

Pada tahun lalu, JIFFINA mencapai target sebesar 64 juta dollar AS. Untuk tahun ini JIFFINA menargetkan hingga 80 juta dollar AS, dengan perkiraan 4500 buyers. JIFFINA yang telah memasuki tahun ke empat ini akan diikuti oleh sekitar 300 perusahaan furnitur dan kerajinan yang akan menempati Gedung Jogja Expo Center.

“Kami berharap Pameran JIFFINA 2019 ini dapat meningkatkan potensi Indonesia sebagai market leader ekspor furnitur dan kerajinan di masa depan. Dan mampu meningkatkan komoditas ekspor Indonesia di sektor mebel dan kerajinan ke kancah Internasional.” Harapan Endro

Kerajinan Manding

Desa wisata Manding Bantul merupakan desa wisata sentral kerajinan kulit. Jadi kalau di Bandung ada Cibaduyut, di Jogja ada Manding. Awal mula kerajinan kulit muncul sekitar tahun 1947 yang diprakarsai oleh tiga orang pemuda.

Awalnya ketiganya merupakan karyawan di perusahaan kulit yang memproduksi pakaian dan pelana, hingga akhirnya mereka berinisiatif untuk membuka usaha sendiri. Hingga kini, sudah ada lebih dari 100 pengrajin kulit yang ada di desa Manding. Peminat kerajinan kulit dari desa manding inipun sudah merambah hingga mancanegara.

Wisatawan yang datang ke Desa Manding ini biasanya mereka berburu aksesoris berbahan kulit seperti tas, dompet, pigura, gantungan kunci, sabuk, sampai jaket kulit. Di sepanjang jalan, akan banyak ditemukan rumah-rumah penduduk yang sekaligus berfungsi sebagai showroom hasil kerajinan. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau dan bisa ditawar lebih murah lagi.

Desa Wisata Manding sangat mudah diakses karena lokasinya yang berada di jalan utama Jogja-Parangtritis km 11, tepatnya berada di Jl. DR Wahidin Sudiro Husodo, Manding, Sabdodadi, Bantul, sekitar 15 km dari pusat kota Jogja ke arah selatan menuju Pantai Parangtritis. Nanti akan ada gapura masuk yang bertuliskan MANDING dan dari situ sudah masuk lokasi desa wisata Manding.