Dukung Bahasa Lokal, Dinas Kebudayaan Kulon Progo Adakan Bimtek Sesorah

BIMTEK SESORAH : Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo (27/2/2019) menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra. (Foto : disbud.kulonprogokab.go.id)

Pengasih, Kulon Progo- Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo (27/2/2019) menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra. Bimtek kali ini berlangsung di Taman Budaya Kulon Progo, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.

Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta dari perwakilan guru SD, SMP, SMA, SMK dan perwakilan tokoh masyarkat dari 12 Kecamatan yang ada di Kulon Progo. Tujuan diadakannya kegiatan ini ialah untuk melestarikan bahasa lokal sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Dua narasumber yang hadir pada kegiatan kali ini ialah Eko Teguh Santosa dari Dinas Dikpora Kulon Progo dan R.Suhartana dari SMKI Yogyakarta. Eko menyampaikan dasar-dasar komunikasi dalam sesorah.Komunikasi merupakan hal yang mendasar untuk dikuasai bagi seseorang dalam sesorah. Dengan menguasai komunikasi dengan baik maka apa yang akan disampaikan akan mudah diikuti oleh audiens.

“Komunikasi itu penting dalam pidato atau sesorah. Maka kita harus menguasai dasar-dasar dalam komunikasi, agar materi apa yang kita bawa bisa sampai ke audiens,” jelas Eko saat mengisi materi.

Sementara Suhartana dalam materinya menyampaikan tentang salah kaprah di masyarakat dalam sesorah. Menurut Suhartana, saat ini sudah terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dalam sesorah yang dianggap benar di kalangan masyarakat.

“Jika salah kaprah ini terus berlanjut dan tidak ada yang meluruskan, maka selamanya kita dan generasi kita akan selalu salah dalam sesorah. Memang berat untuk meluruskan, dan malah kadang dianggap salah, tapi kita harus berani untuk meluruskan,” papar Suhartana.

Adanya kegiatan ini, Dinas Kebudayaan Kulon Progo berharap adanya semangat melestarikan budaya lokal di kalangan masyarakat. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan kembali sesorah kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Melestarikan Budaya Lokal

Sesorah atau pidato dalam bahasa jawa, saat ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat. Kalaupun masih ada, bisasanya sesorah digunakan pada waktu upacara adat resepsi pernikahan. Kondisi seperti ini tentu dirasa memprihatinkan oleh Pemerintah terutama Dinas Kebudayaan, karena Dinas Kebudayaan menjadi ujung tombak dalam pelestarian dan pengembangan kebudayan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Untung Waluya dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa pelestarian, pembinaan dan pengembangan budaya merupakan kebijakan Dinas Kebudayaan. Tujuannya ialah agar kebudayaan dan budi pekerti bisa diterapkan masyarakat khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harapannya dengan diadakan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra yang diikuti guru dan tokoh masyarakat ini nantinya akan lebih cepat di sosialisasikan kepada anak didik serta masyarakat.

Tahun lalu, Kabupaten Kulon Progo mengadakan lomba sesorah untuk anak-anak. Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Untung Waluyo di Wisma Dharmais Pengasih mengatakan, sesorah adalah bentuk pembelajaran budaya kepada anak-anak. Mereka diajari untuk bercerita tentang berbagai macam hal yang ada di masyarakat.

Menurut Untung, pemikiran mereka digugah untuk mengerti proses kesejarahan dan kebudayaan yang ada di sekitar mereka.

“Dengan anak anak seperti ini, mau tidak mau mereka akan memahami nilai tradisi yang ada di daerah, belajar bahasa jawa dan berani tampil didepan orang banyak. Untuk jangka panjangnya anak anak tumbuh secara wajar dan dewasa sehingga mampu menghadapi masa depan,” ungkapnya. (Tri M)