Dukung Kemajuan UMKM, BPR Bank Bantul Lakukan Pemberdayaan

Kegiatan Pemberdayaan UMKM di Aula Balai Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul oleh kegiatan Pemberdayaan UMKM di Aula Balai Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. (Foto: bantulkab.go.id)

Bantul- Perusahaan Daerah (PD) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menggelar kegiatan Pemberdayaan UMKM di Aula Balai Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Selasa (26/03/2019). Kegiatan ini merupakan upaya BPR Bantul untuk memajukan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Menurut Direktur Utama PD BPR Bank Bantul, Aristini Sriyatun, Bank Bantul kerja sama dengan UMKM ini sudah dimulai sejak tahun 2003. Kerja sama yang diberikan antara lain ialah dalam bidang kredit modal dengan sistem kelompok kelompok.

PD BPR Bank Bantul tidak hanya menerima kredit tetapi juga membina untuk menabung. Tabungan yang ada di Bank Bantul kemudian setiap tahunnya diundi. Dari hasil undian tersebut, nasabah akan menerima beberapa hadiah yang disediakan. Misalnya, mobil, sepeda motor serta barang-barang elektronik.

“Jika kita menabung di Bank Perkreditan Rakyat Bantul itu lingkupnya kecil hanya se-Kabupaten Bantul, tapi kalau kita menambung di bank-bank umum lingkupnya se-Indonesia. Jadi, harapan untuk mendapatkan hadiah lebih tinggi dibandingan dengan bank umum,” ujar Aristini Sriyatun.

Ia berharap, dengan acara pemberdayaan UMKM ini, bisa memberikan motivasi kepada pelaku usaha UMKM agar lebih berkembang.

Bank Bantul berdiri memiliki tujuan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang. Bank Bantul juga bertujuan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pelayanan perbankan.

Keberadaan UMKM

Sek­tor produktif UMKM dapat mem­pekerjakan lebih dari 107,6 juta penduduk Indonesia dan berkontribusi 60,6 persen ter­hadap PDB Indonesia. Kuatnya UMKM dalam membangun perekonomian Indonesia karena keunggulannya di beberapa faktor yakni kemampuan fokus yang spesifik, fleksibilitas nasional, biaya rendah, dan kecepatan inovasi. UMKM harus terus didorong dan dikembangkan dengan dukungan penuh dari pemerintah.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan United Nation Population Fund, memprediksi jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia pada 2018 sebanyak 58,97 juta orang. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2018 diprediksi mencapai 265 juta jiwa.

Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemkop UKM) Yuana Sutyowati tahun lalu menyatakan bahwa jumlah usaha mikro ada sebanyak 58,91 juta unit, usaha kecil 59.260 unit dan usaha besar 4.987 unit. Lanjut Yuana Jumlah wirausaha wanita mencapai 14,3 juta orang, dimana jumlah ini meningkat 1,6 juta orang dari jumlah 12,7 juta orang tahun sebelumnya.

UMKM hadir sebagai sebuah solusi dari sistem perekonomian yang sehat karena UMKM merupakan salah satu sektor industri yang tidak terkena dampak krisis global yang melanda dunia. Oleh karena itu, peran UMKM ini cukup besar untuk tumbuhnya Ekonomi di Negara Indonesia.

Kontribusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap produk domestic bruto memang mengalami peningkatan dan menggeliat dalam 5 tahun terakhir. Hal itu dikarenakan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memberikan peluang untuk pebisnis kecil berkembang. Kementrian telah mencatat bahwa kontribusi disektor UMKM meningkat mulai dari 57.84 persen menjadi 60,34 persen.

Tidak sampai disini saja, ternyata sektor UMKM juga mampu menyerap tenaga kerja didalam negeri. Dilihat dari segi tenaga kerja UMKM tumbuh dari 96,99 menjadi 97,22 persen dalam 5 tahun terakhir. Hal itu tentu bisa membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih baik.