Jalin Kerja Sama dengan UGM, PT. HPU Upayakan Kurangi Impor

Universitas Gadjah Mada dan PT. Harmoni Panca Utama (HPU) menjalin kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesepakatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama antara Rektor UGM, Panut Mulyono dan Presdir PT. Harmoni Panca Utama, Ahmad Kharis. (Foto: ugm.ac.id)

Sleman- Ahmad Kharis, Presdir PT. Harmoni Panca Utama, mengatakan bahwa penting adanya kerja sama antara perguruan tingi dengan dunia industri. Pasalnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat saja. Namun, juga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi kemajuan bangsa. Hal ini disampaikannya saat berlangsungnya kerja sama antara Universitas Gadjah Mada dan PT. Harmoni Panca Utama (HPU), Selasa (26/03/2019).

Berlangsung di Ruang Sidang Kantor Pusat Fakultas Teknik UGM, kerja sama kali ini dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Kesepakatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama antara Rektor UGM, Panut Mulyono dan Presdir PT. Harmoni Panca Utama, Ahmad Kharis, di Ruang Sidang Kantor Pusat Fakultas Teknik UGM.

“Yang sering ditanyakan adalah link and match antara perguruan tinggi dengan industri. Oleh karena itu, melalui forum ini diharapkan dapat mendorong perguruan tinggi dan industri meningkatkan riset guna kesejahteraan rakyat,” jelas Ahmad Kharis.

Melalui kerja sama antara perguruan tinggi dengan industri, lanjutnya, diharapkan dapat berkontribusi dalam mengurai persoalan bangsa. Salah satunya terkait usaha pemerintah untuk mengurangi impor. Dia menyebutkan Indonesia saat ini menjadi salah satu negara importir minyak terbesar di Asia Tenggara. Guna menekan laju impor tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan sumber daya alam yang ada dengan mengembangkan energi baru dan terbarukan.

“Mari kita bersama-sama membantu pemerintah secepatnya mengurangi impor dengan mengembangkan energi terbarukan. HPU akan terus berkontribusi pada negara dengan menambang batu bara secara efisien menjadi energi yang bagus bagi negara,” paparnya.

Rektor UGM, Panut Mulyono, menyampaikan apresiasi kepada PT. HPU atas kerja sama yang telah dijalin. Dia berharap kerja sama ini nantinya dapat semakin menguatkan kedua belah pihak dalam kiprahnya berkontribusi untuk membangun bangsa dan negara.

“Sinergi antara perguruan tinggi, dunia bisnis, serta pemerintah selalu diusahakan agar institusi bisa saling menguatkan dan mendekatkan sehingga yang dikerjakan benar-benar relevan dengan dunia industri,” katanya.

Panut menyebutkan Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan kekayaan alamnya. Namun, kekayaan alam yang ada belum mampu menyejahterakan masyarakatnya. Kondisi tersebut berbeda dengan Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura yang tidak memiliki kekayaan alam melimpah, tetapi memiliki perekonomian yang lebih baik.

“Kenapa itu bisa terjadi? Jawabannya karena Jepang, Korea Selatan, dan Singapura sangat kuat dalam mendidik anak bangsa menjadi SDM andal. Jadi, kuncinya adalah pendidikan yang menghasilkan SDM andal,” ucapnya.

Menekan Laju Impor

Pemerintah terus berupaya untuk menekan angka impor. Menteri Keuangan Sri Mulyani, tahun lalu mengatakan, secara umum kondisi perekonomian Indonesia selama 2018 membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, perlu dilakukan langkah yang efektif untuk mengurangi pengaruh eksternal yang berdampak pada Current Account Defisit (CAD) sebesar 3 persen.

Hal ini disebabkan pertumbuhan impor yang melonjak cukup tinggi dalam semester pertama 2018. Untuk mengurangi defisit neraca, langkah yang dilakukan adalah menekan laju impor. Sektor energi seperti yang dikelola PT Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara memiliki porsi cukup besar untuk impor. Oleh karena itu, nantinya akan diteliti daftar permintaan impor barang modal dari sektor energi dan sumber daya mineral.

Kedua, pemerintah akan melihat impor bahan baku dan barang konsumsi. Terutama untuk 500 komoditas barang konsumsi yang sebagian di antaranya bisa dihasilkan di dalam negeri. Bersama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan akan melakukan langkah terukur untuk mengebdalikan impor barang konsumsi dan bahan baku.

“Nanti instrumennya akan dilihat apa yang bisa dilakukan, apakah dengan Pph impor naik, ataukah tarif, atau dalam bentuk measure lain,” kata Sri Mulyani. Namun, pemerintah tak ingin mengorbankan angka pertumbuhan ekonomi yang sedikit banyak akan terdampak dari penurunan impor. Pemerintah akan mencari komoditas yang perannya kecil terhadap GDP. Sri Mulyani memastikan akan selektif komoditas apa yang akan ditekan impornya dan mendorong pelaku usaha lokal menambah angka ekspor. Dengan demikian, neraca perdagangan akan surplus dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.