Seni Macapat Perlu Mendapat Perhatian

Suasana latihan kesenian macapat oleh Paguyuban, di Kantor DPD RI Perwakilan Yogyakarta, Rabu malam (20/3/2019).

Yogyakarta – Kesenian tradisional macapat kian redup. Padahal kesenian macapat merupakan warisan budaya Jawa yang dikenalkan oleh Walisongo sebagau siar dalam penyebaran agama Islam.

Jika dibandingkan dengan kesenian Jawa lainnya seperti beksan atau tarian kolosal dan wayang kulit, keberadaan macapat masih berada di bawahnya.

Dalam perkembangannya sekarang, macapat juga semakin terlupakan. Bahkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang memiliki anggaran khusus berupa dana istimewa (Danais) belum memberikan perhatiannya pada pengembangan seni warisan leluhur tersebut.

Tidak berkembangnya seni macapat tersebut diakui oleh sesepuh Paguyuban Macapat Yogyakarta, Romo Sarbini Sosrodiprodjo. Kendala utama seni macapat tidak berkembang adalah karena tidak adanya regenerasi dan keberpihakan anggaran.

“Itulah yang menjadi kendala utama tidak berkembangnya macapat,” katanya dalam Serasehan Budaya Jawa dan Pagelaran Macapat di Gedung DPD RI Perwakilan DIY, Rabu malam (20/3/2019).

Menurut dia, selama ini Danais belum memberi kontribusi signifikan terhadap macapat. Berbeda dengan pagelaran wayang kulit atau beksan. Seperti halnya wayang kulit dan beksan sudah beberapa kali manggung di luar negeri.

Romo Sarbini mengungkapkan wayang kulit dan beksan serta macapat, sama-sama warisan leluhur. Para Walisanga saat siar Islam di Tanah Jawa menggunakan kesenian itu agar mudah diterima masyarakat. Ia pun meminta agar pemangku kepentingan memberikan perhatian pada pelestarian dan perkembangan macapat.

“Kita sudah ngoprak-oprak (mendorong) Dinas Kebudayaan lho,” ujarnya.

Romo Sarbini menekuni macapat sejak puluhan tahun silam. Budayawan Emha Ainun Najib merupakan salah satu muridnya dalam bermacapat. Dia merintis mendirikan paguyuban macapat dari nol. “Sleman dan Kota Yogyakarta sudah terbentuk. Kita akan membentuknya di Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo,” jelasnya.

Perlahan-lahan puluhan dosen ikut bergabung dalam paguyuban macapat. Namun, untuk kaderisasi atau regenerasi di kalangan pemuda masih sangat terbatas. “Paguyuban macapat itu anggotanya 70 persen tiyang sepuh (orang tua). Perlu regenerasi agar macapat tidak hilang,” pintanya.

Sementara itu Anggota DPD RI Cholid Mahmud mengatakan, selama ini ada anggapan macapat berseberangan dengan Islam. Anggapan tersebut tidak beralasan karena justru walisanga saat siar Islam di Jawa menggunakan pendekatan kesenian, termasuk macapat.

Menurut dia, dalam ajaran Islam atau agama mana pun, hal yang buruk yang dilarang. Hal yang baik yang dianjurkan. “Nah, macapat tidak ada yang buruk,” imbuhnya.

Cholid mengatakan macapat mengandung pesan moral maupun falsafah hidup yang baik dalam berkehidupan. Kata-kata yang ada di dalam macapat menjadi piweling (mengingatkan), pitutur (menasehati) dan  piwulang (mengajarkan) tentang bagaimana manusia menjalani hidup.

Menurut wikipedia.org, macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa. Namun macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, Sunda, Palembang dan Banjarmasin.

Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga terutama di Jawa. Walisanga menggunakan kesenian termasuk kesenian untuk siar Islam. Namun di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.

Di Jawa, macapat memiliki metrum yang lebih pakem. Beberapa jenis tembang atau lagu macapat antara lain Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Durma, Mijil, Magetruh, Pucung, Jurudemung, Wirangrong, Balabak, Girisa dan lainnya.