Sosialisasi Gemar Membaca di Kabupaten Kulon Progo

SAFARI MEMBACA : Penyerahan cinderamata Bupati Kulon Progo dr.Hasto Wardoyo kepada Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando di acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca. (perpusnas.go.id)

Wates, Kulon Progo- Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca. Safari kali ini berlangsung di Kabupaten Kulon Progo (06/03/2019) dan bertempat di ruang Adikarto komplek Pemda Kulon Progo.

Tidak hanya di Kabupaten ini, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) juga mengadakan Safari Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia. Tema yang diambil ialah Dengan mengambil tema “Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”.

Di Kabupaten Kulon Progo, safari ini diikuti oleh siswa, guru SMP dan SMA serta para pustakawan di Kabupaten Kulon Progo. Hadir dalam acara tersebut Bupati Kulon Progo dr.Hasto Wardoyo dan Kepala Dindikpora Drs. Sumarsana.

“Kami mengharapkan safari ini ada penyemangat dan nasehat dari kepala Perpustakaan Nasional RI. Mengenai gemar membaca, kami menyadari penuh membaca adalah kunci dari kesuksesan kita,” kata Hasto.

Bupati Kulon Progo menambahkan beberapa hal mengenai literasi kita masih sangat rendah, oleh karena itu berharap generasi muda ini dapat memberikan kontribusi.

“Secara global kita banyak ditolak tenaga kerjanya karena kualitasnya masih rendah serta memiliki kecenderungan tidak tahu, cepat bosan, tidak bisa bekerja sama, kurang jujur, kutu loncat, tidak memiliki integritas, tidak memiliki rasa humor, dan mundur tanpa berita,” jelas Hasto.

Sementara itu Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando yang juga hadir dalam acara kali ini mengatakan bahwa tahun 2018, Indonesia masuk urutan 16 dalam gerakan gemar membaca menurut universitas di London dalam 30 negara yang di survei.

“Sekarang kita berada di era industri 4.0. Saatnya menguasai assembling ilmu pengetahuan,” terang Muhammad Syarif.

Kepala Perpusnas mencontohkan bagaimana metode pembelajaran di Korea melalui pertanyaan kepada siswa tentang sebuah handphone dimana untuk mendapatkan nilai seratus harus melalui serangkaian tahapan pertanyaan yang bertingkat sehingga para siswa paham betul cara membuat handphone yang berkualitas dan berdaya jual.

“Kita harus merubah paradigma masyarakat tentang perpustakaan yang selama ini adalah hal yang ekslusif, kita harus merubah paradigma tersebut agar perpustakaan dapat dikenal luas oleh masyarakat,” kata Syarif.

Minat Baca Masyarakat

Priyo Sularso salah satu Pustakawan Muda dalam tulisannya menjelaskan bahwa rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia. Rendahnya minat membaca masyarakat akan membuat masyarakat tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia. Hal ini akan berdampak pada ketertinggalan bangsa itu sendiri terutama dalam hal ilmu pengetahuan.

Menurut Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Najwa Shihab, berdasarkan hasil survei, menyatakan bahwa saat ini minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Dari 61 negara, Indonesia menempati urutan ke-60 terkait dengan minat baca. Najwa melanjutkan, hasil survei berasal dari studi Most Littered Nation In the World 2016 yang dilakukan pada tahun 2016 lalu.

Persoalan inilah yang coba diatasi oleh Perpusnas RI melalui Safari Gerakan Membaca. Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca yang di Kulon Progo  juga menghadirkan beberapa narasumber.  Narasumber yang hadir ialah Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip D.I. Yogyakarta, Monika Nur Lastiyani, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulon Progo, Agus Santosa, Kepala Perpustakaan Desa Sidodadi, R. Tri Haryono.

“Agenda yang dilaksanakan untuk memasyarakatkan gemar membaca masih sangat kita perlukan, harapan kami membaca menjadi kebiasaan, sehingga ada niat dan dorongan membaca buku, harapannya jika mempunyai ilmu dan kemampuan untuk dapat dibagikan kepada orang lain,” kata Monika.

Tri Haryono menambahkan untuk tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk membaca terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa, baik buku sekolah atau umum sehingga membaca sebagai gaya hidup. (Tri M)

Add Comment