Sosialisasi Penurunan Prevelensi Stunting Melalui Wayang Kulit

Kemkominfo RI Bekerjasama dengan Dinas Kominfo Gunungkidul menggunakan Wayang Kulit sebagai media untuk sosialiasi Penurunan Prevelensi Stunting. (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Gunungkidul- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI, bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gunungkidul menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dalam Rangka Penurunan Prevalensi Stunting, (23/03/2019).

Sosialisasi ini bertujuan untuk mendukung suksesnya program penurunan angka stunting di Indonesia. Berlangsung di Pendopo Kantor Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, sosialisasi kali ini menggunakan bedia Pertunjukan Rakyat seni pagelaran wayang kulit semalam suntuk, dengan dalang Ki Warseno Slenk.

Hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi beserta unsur Forkopimda Gunungkidul, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemenkominfo RI, Wiryanta, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, perwakilan Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya dan Camat Ngawen beserta unsur Forkopimca Kecamatan Ngawen.

Kelik Yunianto, selaku ketua panitia menyampaikan bahwa media Pertunjukan Rakyat dipilih karena memiliki sifat menghibur dan dapat menyampaikan pesan dalam suasana santai dan menyenangkan. Sehingga media ini bisa lebih efektif untuk menarik perhatian masyarakat. Selain itu pagelaran pertunjukan rakyat juga dimaksudkan sebagai upaya untuk melestarikan kesenian tradisional yang saat ini eksistensinya mulai tergerus oleh media massa modern dan media baru.

Lebih lanjut, Kelik, mengatakan tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang Stunting kepada masyarakat. Meningkatkan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dengan sasaran terwujudnya perilaku masyarakat Hidup Bersih dan Sehat dalam rangka penurunan prevalensi stunting.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kementerian Kominfo RI, yang telah memberikan perhatian dan kepeduliannya kepada masyarakat Gunungkidul, hal ini sangat penting disampaikan kepada masyarakat hingga tingkat bawah. Dinilai sangat tepat sekali sosialisasi dengan menggunakan seni budaya seperti ini.

“Ini akan memudahkan dalam penyampaian pesan kepada masyarakat, selain itu akan lebih efektif serta salah satu cara melestarikan budaya kita,” tutur Immawan.

Diharapkan semua pihak dapat mendukung pemerintah dalam menurunkan angka stunting yang masih ada, terlebih setelah diselenggarakan sosialisasi masyarakat agar lebih teredukasi sehingga akan lebih memahami dalam pencegahan stunting.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Wiryanta, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, yang ternyata angka stunting di Gunungkidul berada di bawah angka stunting secara nasional.

“Saya sangat bangga dengan keberadaan Gunungkidul saat ini, berkat kerja kerasnya banyak prestasi yang diraih, bukan hanya dalam menurunkan stunting saja,” ungkapnya.

Wiryanta, juga menyampaikan beberapa hal capaian pemerintah dan menyampaikan harapannya agar permasalahan stunting ini dapat diatasi secara bersama-sama dimulai dari perilaku hidup bersih dan sehat oleh masyarakat untuk menuju kesejahteraan hidup yang lebih baik. Pagelaran wayang kulit diawali dengan penyerahan secara simbolis wayang (Anoman) oleh Wakil Bupati, Immawan Wahyudi kepada Dalang Ki Warseno Slenk.

Stanting di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, saat ini 30,8 % atau sekitar 3 dari 10 anak Indonesia mengalami stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia 2 (dua) tahun.

Stunting bukanlah isu sederhana, faktor utama penyebab terjadinya stunting bukanlah faktor keturunan seperti yang selama ini menjadi paradigma di masyarakat. Namun, kendala lingkungan jauh lebih berperan dalam terjadinya stunting. Stunting, tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang. Dampak lanjutan dari stunting atau yang dikenal dengan fenomena Baker berefek pada kesehatan dan produktivitas anak, tingkat kecerdasan yang menurun, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa.

Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan. Penanganan stunting tidak hanya dari sisi kecukupan gizi namun juga perlu dibudayakan hidup sehat dengan melakukan langkah kecil melalui perubahan pola hidup dan pola makan ke arah yang lebih sehat, sehingga kekurangan gizi kronis dapat diatasi.

Untuk mengatasi permasalah kurang gizi kronis tersebut tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Kementerian atau Lembaga Pemerintah melalui para Menteri, Gubernur serta Kepala Daerah, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat, juga dapat harus memberikan dukungan, komitmen, dan peran-sertanya dalam bergotong royong meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang.