UIN Sunan Kalijaga Akan Jalin Riset Kolaboratif dengan Flinders University Australia

Penyerahan cinderamata oleh Prof Almakin dari LPPM UIN Sunan Kalijaga kepada Vice President & Executive Dean College of Humanities, Arts & Social Science; Professor Vanessa Lemm. Penyerahan ini merupakan bagian dari kunjungan resmi UIN ke Australia Rabu-Jum’at, 6-8 Maret 2019. (Foto: uin-suka.ac.id)

Sleman- Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), UIN Sunan Kalijaga merintis kerjasama dengan Flinders University Australia melalui program kemitraan “Jembatan”. Kerjasama tersebut dilaksanakan dengan kunjungan resmi ke Australia oleh delegasi LPPM yang dipimpin ketua LPPM Prof Dr. Phil Almakin, Rabu-Jum’at, 6-8 Maret 2019.

Upaya ini dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk meningkatkan kualitas diri menjadi world class university. Sebagai tuntutan zaman, kampus juga harus mampu melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi baik di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional.

Dalam kesempatan Itu, tim LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berada di Flinders University disambut oleh Vice President & Executive Dean College of Humanities, Arts & Social Science; Professor Vanessa Lemm dan Direktur International Engagement Flinders International, Matt Taverner.

Prof Almakin mengatakan kerjasama tersebut akan segera dilaksanakan tahun ini. Khususnya, dalam program riset dan publikasi kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa (Fellowship Project), serta Pengabdian Masyarakat dalam bentuk KKN. Untuk itu dalam bulan Juli, akan dilakukan pertemuan dengan Flinders University di UIN Yogyakarta untuk segera mengimplementasikan program tersebut.

Sementara itu, menurut Prof Vanessa, ia sangat bangga, karena Flinders akan menjadi bagian penting dari peningkatan kualitas akademis di Indonesia terutama di UIN Sunan Kalijaga. Kerjasama ini juga sangat penting untuk Flinders University dalam mengembangkan studi humanities di Asia Tenggara dan Studi Islam Kontemporer.

Saat ini Flinders telah mengembangkan studi Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara utama yang dapat memberi kontribusi arah studi ini. Dalam bidang studi agana dan studi Islam, UIN Yogyakarta akan banyak memberi kontribusi bagi Flinders, karena dalam bidang tersebut belum banyak dikembangkan.

Menurut sekertaris LPPM Moh Soehadha, rangkaian pertemuan dengan Flinders University sudah direncanakan jauh hari, untuk dilaksanakan secara marathon pada tanggal 6-8 Maret 2019 di kampus Flinders University, Adelaide, South Australia. Kerjasama yang segera diimplementasikan mulai Tahun 2019 itu antara lain adalah Riset dan Publikasi Kolaboratif, pengiriman mahasiswa S2 dan S3, Fellowship, dan pengabdian masyarakat (Community Engagement).

Menuju World Class University

World Class University (WCU) adalah suatu universitas yang memiliki SDM yang secara teratur mempublikasikan hasil-hasil penelitian mereka pada jurnal-jurnal paling top dalam disiplin ilmu masing-masing. Lulusan suatu WCU dapat secara mudah bekerja di (negara) mana saja di dunia. (Ambrose King, dalam Mohrman, 2005)

Beberapa langkah strategis diambil dalam upaya mewujudkan sinergi antara pelaksanaan program kerja dan renstra, visi dan misi UIN Sunan Kalijaga. Langkah tersebut perlu didukung dan berkoordinasi dengan semua civitas akademika serta unit-unit kerja. Oleh karena itu, perlu mewujudkan suatu wadah yang dapat memberikan arahan secara umum kepada unit maupun satuan organisasi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga.

DI Rapat Kerja (Raker) Tahun 2019 ini, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Yudian Wahyudi, mengarahkan setidaknya 40% prodi mengarah ke internasional. Apalagi  UIN Sunan Kalijaga telah menjadi markas penjaminan mutu Asian Islamic Universities Association (AIUA), sehingga diharapkan internasionalisasi semakin mudah.

AIUA merupakan asosiasi dari kampus-kampus Islam di Asia yang berperan dalam memperkuat dan menjembatani pengembangan pendidikan Islam di seluruh dunia. Asosiasi ini bertindak sebagai platform bagi anggotanya untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan universitas melalui kemitraan dan kolaboratif bidang akademik.

“Yang paling penting, kita harus memperbanyak program yang mengarah kepada 9 kriteria akreditasi yang merupakan tolak ukur untuk mengukur dan menetapkan kelayakan dan mutu perguruan tinggi. Raker juga merupakan sarana berbagi pengalaman, diskusi dan belajar dari para pemateri bagaimana strategi-strategi untuk meningkatkan reputasi internasional,” jelas Yudian yang juga merupakan Presiden AIUA. (Tri M)