Dinkes Gelar Sarasehan, Saatnya Kulon Progo Bebas TBC Mulai dari Saya

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo menggelar sarasehan dalam rangka memperingati HUT TBC Sedunia 24 Maret 2019 dengan tema saatnya Kulon Progo bebas TBC mulai dari saya. (Foto: kulonprogokab.go.id)

Kulon Progo- Memperingati HUT TBC Sedunia, pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar sarasehan, Kamis, (04/04/2019). Hari TBC Sedunia jatuh setiap tanggal 24 Maret 2019 setiap tahunnya. Sarasehan kali ini mengangkat tema saatnya Kulon Progo bebas TBC mulai dari saya.

 Berlangsung di Aula Adikarto, kompleks Pemda Kulon Progo, sarasehan kali ini diikuti sekitar 120 orang dari pengelola pondok, asrama, panti asuhan, dan rutan di Kulon Progo. Hadir dalam sarasehan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah, Djulistyo, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, dr. Ananta Kogam Dwi Korawan. Selain itu, narasumber dalam acara ini dokter RSUD Wates Kulon Progo, Poliklinik Penyakit Dalam, dr. Zumrati Ahmad, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Departemen ilmu kesehatan anak, dr.Rina Triasih.

Dalam sambutannya, Djulistyo selaku Asisten Administrasi Umum Sekda, mengatakan kegiatan ini harus terus-menerus disosialisasikan. Harapannya, dengan adanya kegiatan seperti ini mampu meningkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit TBC serta penanggulangannya.

“Dalam penyelesaian kasus TBC, selain faktor internal ada juga faktor eksternal yang dapat mempermudah penularan TBC, di antaranya lingkungan yang tidak sehat yaitu ventilasi yang tidak baik, ukuran rumah yang tidak seimbang dengan jumlah penghuninya, serta perilaku hidup tidak sehat antara lain meludah di sembarang tempat,” jelasnya.

Mantan Kepala Dinas tersebut menambahkan kita perlu sebuah ruang lingkup kesepakatan bersama dengan para pengelola pondok pesantren, pengelola panti asuhan dan pengelola asrama yang ada di Kulon Progo. Untuk ikut berperan serta menanggulangi dan mencegah munculnya penyakit TBC.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Ananta Kogam Dwi Korawan, mengatakan sarasehan TBC adalah merupakan puncak acara peringatan hari TBC sedunia pada 24 Maret 2019.

“Kegiatan lain untuk menyambut hari TBC adalah dilakukan ketuk pintu dengan sasaran 63 penderita TBC dan 378 rumah disekitar penderita TBC di wilayah 21 puskesmas yang dilaksanakan pada Maret 2019,” jelasnya.

Selain itu dr. Ananta menambahkan latar belakang diadakan sarasehan ini adalah saat ini cakupan penemuan penderita TBC di Kulon Progo masih rendah, baru mencapai 60 persen. Pondok pesantren, panti asuhan dan rutan di Kulon Progo adalah kelompok yang rentan terjadi penularan penyakit TBC

“Hal ini perlu dilakukan karena pondok pesantren, asrama maupun panti asuhan merupakan tempat belajar, tempat tinggal, dan tempat berinteraksi antara penghuninya secara bersama-sama setiap hari,” jelasnya.

Dinkes Kulon Progo mengajak kepada semua pengelola pondok pesantren, pengelola panti asuhan dan pengelola asrama untuk bersama-sama berkomitmen menuju Kulon Progo bebas TBC. Dengan meningkatkan kualitas kesehatan, peningkatan gizi dan kesehatan reproduksi untuk anak-anak asuhannya dengan meningkatkan kesehatan lingkungan masing-masing. 

Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis

Tuberkulosis (Tb) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di RI. Data dari Global Tb Report Estimates of TB Burden 2014 menyebutkan, di Indonesia dengan populasi penduduk 254 juta, angka prevalensi Tb mencapai 1,6 juta penduduk dan angka kematian mencapai 100 ribu per tahun. Bila suatu kecamatan berpenduduk 100 ribu jiwa, diperkirakan ada 647 penduduk dengan Tb dan 41 orang meninggal dunia setiap tahunnya karena Tb. Angka yang cukup besar karena Tb dapat dicegah ataupun diobati.

Pada umumnya masyarakat mengetahui Tb melalui diagnosis dokter bahwa paru-parunya ada bercak, paru-paru basah, ada bisulnya atau ada cairan. Masyarakat perlu mengetahui Tb secara tepat dan benar agar dapat berperan aktif dalam penanggulangan Tb baik promosi, preventif, ataupun kuratif (Fainal Wirawan; 2017).

Faktanya, Tb masih menjadi salah satu dari empat penyebab teratas kematian di negara ini. Selain dari hasil survei prevalensi baru-baru ini yang menunjukkan prevalensi Tb jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, peningkatan kasus Tb kebal obat (MDR-TB – Multi Drug Tb Resistant), temuan kasus Tb dan MDR-TB di rumah sakit umum dan swasta masih belum memadai, dan rendahnya notifikasi kasus Tb di penyedia pelayanan kesehatan sektor swasta yang menjadikannya sebagai salah satu tantangan signifikan bagi program Tb nasional.

Oleh karena itu, diperlukan investasi mendalam keterlibatan tenaga kesehatan sektor swasta lebih lanjut dalam menemukan kasus yang tidak dilaporkan dan memperkecil kesenjangan dengan kasus yang terdeteksi. Selain itu, akses terhadap pelayanan berkualitas di daerah perkotaan dan daerah terpencil, terutama untuk kelompok penduduk rentan (misalnya anak-anak, penduduk daerah kumuh, pasien diabetes, dll.) masih terbatas.

Tantangan lainnya mencakup pemberian pelayanan kesehatan termasuk kualitas jaringan laboratorium, transportasi spesimen, rendahnya cakupan pelayanan bagi mereka yang terkena Tb dan HIV, rendahnya persentase MDR-TB yang terdeteksi, belum selarasnya pencatatan dan pelaporan, kurangnya jaminan pembiayaan bagi pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang (terutama untuk MDR-TB), dan rendahnya alokasi dana penanggulangan Tb oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.