Panen Perdana Kedelai Edamame oleh Petani Desa Argodadi

Petani Kecamatan Sedayu melakukan panen perdana kedelai edamame di bulak Klangon Argosari. Panen dilakukan dengan luasan lahan sekira 600 m2. (Foto: kec-sedayu.bantulkab.go.id)

Bantul-  Petani Desa Argodadi dan Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, memanen perdana kedelai edamame di bulak Klangon Argosari (04/01/2019). Panen dilakukan dengan luasan lahan sekira 600 m2 dilakukan oleh para petani dn didampingi oleh Camat Sedayu dan PPL. Kedelai edamame merupakan salah satu jenis kedelai varietas Jepang.

Bermitra dengan penyedia benih, PT Kenkyo Food Tech Industry, benih edamame ini diharapkan dapat tumbuh baik di lahan para petani. Camat Sedayu, Fauzan Mu’arifin, mengatakan, penanaman edamame ini digadang menjadi alternatif komoditas selain padi.

“Saya yang inisiatif mengembangkan edamame. Sebelumnya saya ajak petani untuk studi banding ke Temanggung melihat tanaman edamame. Kami ajak beberapa petani. Setelah dari lokasi mereka tambah mantap. Akhirnya hari ini jadi tanam perdana,” jelas Fauzan usai secara simbolis menanam benih edamame di lahan milik petani.

Menurutnya, kedelai edamame, memiliki kelebihan dibanding kedelai biasa. Polongannya lebih besar dan kira-kira sebesar jari. Selain itu, harganya juga bisa naik sekitar 3 sampai 4 kali lipat disbanding menanam kedelai biasa. Pengolagan pasca-panennya juga dirasa lebih sederhana.

“Karena ketika panen nanti kita tinggal memisahkan polong dengan batangnya. Sementara kan batangnya masih hijau. Dan nanti batangnya itu bisa dipakai untuk makanan ternak. Karena kalau kedelai biasa harus dikeringkan, diinjak-injak. Masih harus dipisahkan dari polongnya itu. Proses pasca-panennya lebih simpel edamame,” jelasnya.

Selanjutnya dilanjutkan petik kedelai dari pohonnya di malam harinya yang selanjutnya di pagi hari berikutnya akan dikirim ke perusahaan yang melakukan kerjasama. Harapannya penanaman edamame bisa luasan lahan tanam dan dapat menambah pendapatan petani.

Komoditas Pangan

Memasuki bulan Februari 2019 harga sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan. Mulai dari harga daging ayam, telur dan beras tercatat turun. Namun untuk harga beras relatif stagnan. Hal itu terlihat dari hasil survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS).

Berdasarkan survei PIHPS, harga rata-rata beras pada minggu pertama Februari 2019 dicatat seharga Rp 11.950 per kilogram (kg), harga ini sama dengan pekan sebelumnya namun lebih mahal dari harga sepanjang bulan Januari 2019 di Rp 11.900 per kg.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko menyatakan, minat pasar pada produk ayam saat ini memang sedang menurun dikarenakan mahalnya harga ayam dan periode beberapa bulan terakhir.

Tak hanya itu, komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai juga sedang mengalami penurunan harga. Masih dari data PIHPS, harga bawang merah pada periode awal pekan Februari di harga Rp 29.450 per kg, sedangkan sepanjang Januari berada di kisaran Rp 33.650 – Rp 30.950 per kg.

Kemudian harga cabai di awal Februari di Rp 27.050 per kg sedangkan selama Januari di kisaran Rp 32.550-Rp 27.850 per kg.  Ketua Asosiasi Hortikultura Nasional Anton Muslim Arbi menyatakan, penurunan harga komoditas hortikulutra pada periode ini utamanya disebabkan oleh masa panen di musim hujan ini.

Add Comment