Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia

Sesi seminar yang berlangsung di Interactive Center FISHUM UIN Sunan Kalijaga dengan tema; “Penguatan Integrasi-Interkoneksi, Memadukan Ilmu Sosial dan Studi Keagamaan,”. (Tri M)

Sleman- Prof. Amin Abdullah menyampaikan bahwa, di era disrupsi ini, Pendidikan Tinggi di Indonesia memiliki tantangan dan peluang. Hal ini disampaikannya saat menyampaikan materi seminar series, (24/04/2019).

Seminar yang berlangsung di Interactive Center Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kali ini mengangkat tema “Penguatan Integrasi-Interkoneksi, Memadukan Ilmu Sosial dan Studi Keagamaan,”.

Dua narasumber yang mengisi acara ini antara lain ialah Prof. Amin Abdullah, selaku Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedangkan narasumber yang kedua yakni Ahmad Norma Permata, selaku Dosen Sosiologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga.

Materi yang disampaikan Prof. Amin Abdullah menurutnya ditulis bersama dengan teman-teman Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Menurutnya, buku yang menjadi materi dalam seminar kali ini merupakan Fresh Ijtihad yang baru saja terbit minggu ini.

“Begitu saya selesai rektor tahun 2010, 2012 akhir atau 2013 saya mendapat surat dari salah satu lembaga keilmuan. Namanya Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.  Saya ditawari menjadi anggota,” begitu beliau menceritakan awal bergabung dengan AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Dalam materi yang dibagikan, ia menjelaskan bahwa perkembangan dunia Perguruan Tinggi sekarang semakin dibayang-bayangi oleh munculnya universitas kelas dunia dan universitas riset (reseach institutions of higher education). Ada yang menyebutnya sebagai munculnya generasi ketiga dari sejarah panjang evolusi perkembangan pendidikan tinggi di dunia.

Hal ini menjadi tantangan bagi Pendidikan Tinggi Islam yang ada di Indonesia sebagai negara dengan penduduk musli terbesar. Ada tiga kata kunci yang menggambarkan hubungan agama dan ilmu yang bercorak dialogis dan integrative, yaitu semipermeable (saling menembusi), intersubjective testability (keterujian intersubjektif), dan creative imagination (imajinasi kreatif).

Integrasi-interkoneksi Ilmu Pengetahuan

Hadir dalam dacara ini Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yudian Wahyudi. Dalam sambutannya sekaligus membuka acara beliau mengucapkan selamat atas terselenggaranya acara seminar kali ini. Menurutnya, tema dalam acara seminar kali ini merupakan tema yang menarik. Terkait dengan integrasi-interkoneksi.

Menurutnya, kajian terkait hal ini memiliki hubungan dengan tafsir ayat-ayat dan hadist dengan konteks masyarakat itu sendiri. Khususnya muslim di Indonesia yang secara kontekstual tidak bisa di samakan dengan masyarakat Arab. “Disinilah titik pentingnya Ilmu. Saya mengucapkan selamat untuk bapak-bapak ibu-ibu atas terselenggaranya seminar ini,” imbuhnya.

Sementara itu, narasumber kedua yakni Ahmad Norma Permata, menyampaikan materi terkait Metodologi Martabat Lima: Mekanisme Empirik Integrasi-Interkoneksi untuk Ilmu Sosial-Humaniora dan Studi Agama.

Dalam tulisannya ia mengatakan bahwa Membangun relasi simetris antara agama (​Dirasah Islamiyah) dan ilmu pengetahuan modern (​Science) menjadi salah satu tren paling produktif di kalangan intelektual muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesi.

Ada lima level integrasi interkoneksi Ilmu Sosial-Humaniora dan Studi Agama yang dapat diaplikasikan secara empirik di lapangan. Pertama, level logika retoris. Kedua, level logika komparatif. Ketiga, level logika triagulasi. Keempat, level logika integrasi. Dan yang terakhir, kelima yakni level logika interkoneksi.