Rektor UIN Sunan Kalijaga Dukung PTKIN Go International

Foto bersama Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi dengan Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, di acara The 10th Meeting Of AIUA International Conference yang berlangsung di Bengkulu pekan lalu. (Foto: uin-suka.ac.id)

Sleman- Rektor UIN Sunan Kailjaga, Prof. Yudian Wahyudi terus mengupayakan peningkatan kualitas Pendidikan Tinggi. Khususnya bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang ada di Indonesia. Menurutnya, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di PKTIN ialah dengan menjadikan pendidikan tinggi memiliki kualitas yang setara dengan universitas yang ada di kancah nasional maupun internasional.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam hal ini adalah anggota Asian Islamic Universities Association (AIUA), tetapi sekaligus dipercaya menjadi pengelola jurnal dan penjaminan mutu tingkat internasional di lingkup PT Islam se-Asia ini. Dengan demikian, UIN Sunan Kalijaga punya peran penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Islam di Indonesia, bahkan Asia. Demikian dikatakan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi, di tempat kerjanya, Kamis (11/04/2019).

“Jurnal internasional ini diperuntukkan bagi dosen atau mahasiswa, khususnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), agar bisa go internasional. Semoga ini bisa menjadi solusi bagi dosen yang akan mengajukan program doktor dan guru besar, dengan mengirim makalah dan mengikuti seminar internasional,” tutur Yudian yang juga Presiden AIUA.

Peningkatan kualitas pendidikan Islam di perguruan tinggi (PT) menjadi keharusan untuk eksis di era globalisasi sekarang ini. Berbagai upaya terus dilakukan dalam rangka menghadirkan pendidikan Islam yang bermutu dan kompetitif. Salah satunya dengan penjaminan mutu dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di level PT dan penerbitan jurnal internasional.

Menurut Yudian, PTKIN punya dua masalah akademik yang mendasar. Mereka terlatih menghapal tetapi tidak terlatih menulis. Untuk menulis disertasi, dari mereka 60% terancam droop out, karena rata-rata mereka dari pesantren yang tidak terlatih menulis. Problem kedua, terlatih bahasa Arab tetapi tidak terlatih bahasa Inggris, padahal sekarang ini ukuran publikasi internasional menggunakan bahasa Inggris. Dua hal ini menjadi “kuburan baru“ bagi dosen-dosen PTKIN untuk menjadi guru besar.

“Oleh karenanya dicari jalan keluar agar mereka diikutkan dalam international conference. Dari sana, makalah yang diajukan sudah mendapat koreksi dari reviewer. Kemudian dibuat lima jurnal internasional untuk meningkatkan angka kredit dosen di PTKIN. Ke lima jurnal terebut adalah Journal of Applied Science & Innovation Technology, Journal of Islamic Education, Journal of Islamic Finance, Journal Islamic Law dan Journal of Islamic Philosophy & Sufism, untuk menyalurkan publikasi internasional” kata Yudian yang baru mengikuti The 10th Meeting Of AIUA International Conference di Bengkulu pekan lalu.

Yudian menambahkan kegiatan ini adalah dalam rangka realisasi program kerja yang meliputi jaminan mutu, penerbitan jurnal internasional, training yang semacam TOT (Training Of Trainer). Karena kita melihat kelemahan mutu pendidikan Islam, makanya kita mulai dari sini supaya jaminan mutu ke tingkat internasional. “Selain itu, juga ada penerimaan anggota baru AIUA, yang memang sudah meluas bukan hanya ASEAN tetapi juga se-ASIA.” tuturnya.

Menjadi Bagian dari AIUA

Kegiatan AIUA, rutin dilakukan setiap tahunnya. Tahun ini, AIUA fokus pada implementasi peningkatan pendidikan, terutama kualitas SDM, untuk sementara di level PT. Semoga bisa saling menguatkan komitmen PT Islam di kawasan Asia. Sekarang sudah ada 68 PT Islam yang bergabung menjadi anggota AIUA dari 7 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunaidarussalam, Filipina, Maladewa dan India.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Sunan Kalijaga, Fahri Husein, menambahkan melalui Asian Islamic Quality Assurance (AIQA) PT Islam akan menjalani tahap asessment penjaminan mutu tingkat internasional. Kegiatan ini juga merupakan salah satu frame work dari enam program AIUA. “Kita sudah gelar training untuk tim asesornya, dengan menentukan pilot projectnya dan perguruan tingginya” kata Fahri Husain sebagai Executive Director AIQA.

“Dari amanah ini banyak yang diperoleh, yakni meningkatnya intensitas kerjasama perguruan tinggi asing dan jumlahnya makin banyak, join penelitian dan pengabdian antar kampus. Mobilitas mahasiwa dan dosen untuk ikut kegiatan berskala internasional terbuka, dan untuk memenuhi kebutuhan akreditasi dengan sembilan kriteria,” kata Fahri.