Bahas Potensi Desa, Ketua PPMB APMD Yogyakarta Terima Kunjungan Tim Pandiva Media

Kepala PPMB APMD Yogyakarta Analius Giawa (dua dari kiri) menerima kunjungan Tim Pandiva Media di kantornya, Jumat (12/7/2019). Kunjungan tersebut membahas tentang pengembangan potensi desa melalui institusi pendidikan.

Gondokusuman – Meski merupakan salah satu kunci pembangunan nasional, desa kerapkali disebut sebagai anak tiri dari kota. Padahal, berkat desa, roda perekonomian kota bergeliat. Karena desa pula, ekonomi negara bergerak dari satu daerah ke daerah lainnya. Melupakan pembangunan desa, sama saja dengan melupakan salah satu bagian krusial pembangunan moral dan fisik bangsa.

Dalam kunjungan yang dilakukan oleh Tim Pandiva Media Ke Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ”APMD” Yogyakarta pada Jumat (12/7/2019), Arif Giyanto selaku Pemimpin Umum Pandiva Media mengungkapkan perlunya institusi pendidikan terlibat untuk mendongkrak nilai tambah ekonomi lokal yang bermula dari desa.

”Pembangunan desa, perlu dikawal dengan sungguh-sungguh. Dan media memang sudah sewajarnya ikut berkontribusi pada porsinya masing-masing,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, Kepala PPMB (Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru) STPMD APMD Yogyakarta Analius Giawa  juga mengungkapkan sejumlah potensi daerah yang acap terlupakan oleh publik. Banyaknya potensi perekonomian ini tertutup oleh riuh rendah pembangunan kota. Oleh sebab itu, memang potensi daerah harus digali dengan banyaknya partisipasi dari masyarakat dan stakeholder yang ada di daerah terkait.

”Makanya perlunya kita membangun pemahaman bahwa desa adalah kunci membangun Indonesia. Membangun Indonesia bisa dimulai dari membangun desa. Makanya, sekarang ada UU Desa dan dana desa yang cukup besar itu diharapkan bisa menggenjot pembangunan desa dan daerahnya,” tuturnya.

Harus Ada Koneksi Institusi Pendidikan ke Pemda

Selama ini, kata Lius, STPMD dan APMD dianggap oleh orang awam sebagai sekolah penghasil camat belaka. Sangat disayangkan berbekal cap tersebut, STPMD nantinya menjadi kurang tersorot di tengah masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tantangan yang dihadapi APMD dalam menghadapi persaingan pendidikan tinggi di Kota Yogyakarta.

”Tantangan ini harus segera dijawab. Karena lulusan APMD ini bukan hanya jadi camat saja. Banyak lulusan dari sekolah kita ini menjadi partisipan penting dalam pengembangan dan pembangunan daerah. Output sekolah kita juga menghasilkan banyak intelektual yang berwawasan sosiologis, salah satunya adalah Pak Haedar Nashir yang sekarang menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah,” imbuh Lius.

Sehubungan dengan hal itu, Arif Giyanto pun menimpali bahwa wawasan mengenai desa dan pengembangan daerah juga mesti disampaikan dengan positif ke masyarakat. Dengan upaya tersebut, maka terjadi kontak informasi antara masyarakat, daerah terkait, dan APMD selaku institusi pendidikan yang menghasilkan tenaga-tenaga pengembangan daerah.

”Harus ada koneksi antara publikasi kegiatan output APMD dengan ekonomi rill yang sedang dikembangkan di daerah-daerah terkait. Cara-cara seperti ini bisa menguatkan kedekatan antara APMD selaku institusi pendidikan ke pemerintah daerah dan masyarakat langsung,” timpalnya. (Taufik)

Add Comment