Tingkatkan Literasi Penerus Bangsa Melalui Membaca

Menurut Agus Santoso, literasi sangat dibutuhkan bagi masyarakat. Tingginya literasi masyarakat akan berdampak pada taraf hidup setiap individu. (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Kulon Progo- Tingkatkan semangat membaca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulon Progo tahun ini mengadakan pameran dan pesta buku murah. Tahun ini, kegiatan yang dilaksanakan dan bekerjasama dengan penerbit Diva Perss Yogyakarta bertujuan untuk meningkatkan budaya membaca bagi masyarakat.

“Tujuan dari kegiatan pameran dan pesta buku kali ini adalah peningkatan budaya membaca untuk masyarakat, peningkatan jumlah kunjungan di Perpusda kulon Progo, mendorong budaya literasi, harapannya menjadi pemicu, pemantik di masyarakat terselenggaranya budaya baca di masyarakat masing-masing,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan, Sarjana.

Menurut Kabid Perpustakaan yang juga sebagai panitia dalam pameran kali ini, tema yang diusung yakni Membaca Literasi untuk Kesejahteraan Masyarakat juga memiliki makna yang tidak terpisahkan dari semangat membaca masyarakat. Panitia ingin, adanya peningkatan semangat membaca dikalangan masyarakat.

Berlangsung selama 17 hari mulai 24 Juli sampai 9 Agustus 2019, acara ini diresmikan langsung oleh Kepala Dinas  Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo, Agus Santoso. Bertempat di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo Jl. Sugiman, Margosari, Pengasih, Kulon Progo, acara ini diresmikan pada Rabu (24/7/2019).

Menurut Agus Santoso, literasi sangat dibutuhkan bagi masyarakat. Tingginya literasi masyarakat akan berdampak pada taraf hidup setiap individu.

“Masyarakat harus mempunyai pengetahuan luas, ketrampilan dan lifeskill yang memadai sehingga diharapkan bisa membantu meningkatkan taraf hidupnya. Setiap desa diharapakan membuka akses informasi dan bacaan melalui Perpustakaan Desa. Perpustakaan desa harus bisa menjadi agen atau jembatan informasi dan pengetahuan, untuk mendorong pemberdayaan Perpustakaan desa,” kata Agus

Dalam pembukaan pameran buku juga dilakukan penyerahan bantuan sedekah buku dari Diva Press kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo. Kemudian diserahterimakan kepada lima perpustakaan Desa meliputi; Desa Tawangsari Pengasih, Kaligintung Temon, Demangrejo Temon, Tirtorahayu Galur, dan Desa Gulurejo Lendah.

Disamping itu juga dilakukan penyerahan buku dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo kepada Remaja Masjid At-Taubah Terbah Wates, Perpustakaan Masjid Selo Timur dan Perpustakaan Dukuh Menguri Hargotirto Kokap, Perpustakaan Dukuh Grindang Hargomulyo Kokap.

Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi  

Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan prilaku seseorang (Ane Permatasari; 2011).

Dalam analisisnya, Ane selaku Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ada banyak faktor kenapa literasi masyarakat Indonesia memilki persentase yang rendah. Menurut data dari UNESCO, masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun.

Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10-15 buku setahun (Republika, 12 September 2015).

Tingkat literasi kita juga hanya berada pada rangking 64 dari 65 negara yang disurvei. Satu fakta lagi yang miris tingkat membaca siswa Indoneisa hanya menempat urutan 57 dari 65 negara. UNDP merilis, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen.

Sebagai perbandingan, angka melek huruf di negeri jiran kita, Malaysia, mencapai 86,4 persen. Hal ini terkait dengan pendidikan kita yang masih belum maju. Sebagai gambaran, berdasarkan data UNESCO, Indonesia berada di urutan ke69 dari total 127 negara dalam indeks pembangunan pendidikan UNESCO.

Add Comment