Dalami Sejarah, Disbud Bantul Adakan Sosialisasi Sejarah Pangeran Diponegoro

Acara Sosialisasi Sejarah Pangeran Diponegoro bertempat di Goa Selarong oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. (Foto: Pemkab Bantul)

Bantul- Sejarah memang perlu disampaikan. Bahkan presiden pertama Indonesia yakni Soekarno berpesan bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Untuk meningkatkan pengetahuan sejarah Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul menggelar Sosialisasi Sejarah Pangeran Diponegoro bertempat di Goa Selarong, Selasa (27/08).

Sekretaris Dinas Kebudayaan Bantul, Indriyanto, mengatakan dalam sambutannya bahwa sosialisasi tersebut merupakan bagian dari program kerja yang harus disampaikan mengenai sejarah.

“Kemarin sudah dilakukan di Balai Desa Suroreso, Balai Desa Panggungharjo, sekarang di Goa Selarong, dan terakhir di di Wonokromo mengenai sejarah di masing-masing desa. Di Goa Selarong terdapat sejarah Pangeran diponegoro untuk kita pelajari jadi anak-anak kita, sebagai penerus terutama yang berada di lingkungan kita bisa mengerti,memanfaatkan untuk kedepan sejarah Pangeran Diponegoro punah.” Ujarnya.

Hadir pula dalam acara tersebut Sekretaris Dinas Kebudayaan Kab.Bantul Indriyanto, S.IP, Dinas Kominfo Bantul, Dinas Pariwisata, Kapolsek & Ranwil Pajangan, dan tamu undangan lainnya.

Sejarah Pangeran Diponegoro

Disamopaikan oleh Dosen Departemen Sejarah UGM Baharudin, bahwa jejak lelono Pangeran Diponegoro di wilayah Kab.Bantul. Pangeran Diponegoro melakukan laku lelono saat berusia 20 tahun yang terdiri dari 2 fase.

Fase pertama adalah fase keagamaan. Pangeran Diponegoro mengunjungi masjid-masjid dan pesantren-pesantren sehingga beliau mendapat julukan santri lelono. Fase kedua adalah fase spiritual.

Pangeran Diponegoro melakukan tirakat (menyepi), meditasi, menciptakan ketenangan diri, bersifat mistik dengan mengunjungi tempat-tempat keramat dan mistik dari wilayah Jogja Selatan, terutama Bantul.

Pangeran Diponegoro memulai laku lelono dari Tegalrejo ke Dongkelan, kemudian Goa Songkamal, kemudian ke Imogiri, Goa Siluman, kemudian naik ke Goa Surocolo, turun ke Mancingan, naik lagi ke Gua langse, Parangtritis, dan puncaknya di Parangkusumo.

Sepulangnya ke Samas, lalu ke Lipuro melewati Bantul, bermalam di Selarong kemudian lewat Kasongan pulang ke Tegalrejo. Laku lelono yang dilakukan merupakan contoh leluhur Pangeran Diponegoro yaitu Panembahan Senopati dan Sunan Agung.

Melanjutkan hal tersebut, Diah Komalasari memaparkan mengenai meneladani karakteristik Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro berjuang menegakkan keadilan saat masyarakat ditindas oleh Belanda sehingga mengganggu kemakmuran masyarakat. Selain itu, Pangeran Diponegoro memiliki kepribadian kuat, menolak kebijakan sewaa tanah kepada hak asing, pemersatu kaum bangsa, dan memperkenalkan agama Islam.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro oleh Yusna Hastini N. dan pengaruh nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro terhadap masyarakat oleh Lurah Gowosari, Masdjuki Rahmat.