Kisah Transaksi Jual Beli Sistem Barter Penjual Dawet dengan Petani

Proses transaksi jual beli Ibu Partiyah salah satu penjual dawet asal Mirisewu, Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo dengan para petani. Beliau masih menggunakan sistem barter dikarenakan para petani tidak membawa uang ketiga pergi ke sawah. (Foto: Dinas Pertanian Kulon Progo)

Kulon Progo- Kecanggihan teknologi, tidak membuat petani di wilayah Kulon Progo mengubah kebiasaan transaksinya. Berkembangnya dompet digital, dan sering digunakan oleh banyak orang hari ini, justru tidak digunakan oleh para petani.

Petani di Kulon Progo, yang sehari-harinya pergi ke sawah, masih menggunakan sistem barter. Transaksi ini dilakukan petani di Kulon Progo bersama dengan pnjual dawet.  Tradisi barter memang sudah sangat lama dipraktikkan di Indonesia.

Pedagang dawet menjajakan dagangannya kepada petani yang sedang melaksanakan panen padi di sawah. Karena para petani tidak membawa uang tunai maka sebagai alat tukar. Maka, dawet dibayar dengan Gabah hasil panen dengan takaran yang telah disepakati kedua belah pihak.

Demikian disampaikan Ibu Partiyah (57) salah satu penjual dawet asal Mirisewu, Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo, yang menjajakan dawetnya di Bulak Karangrejo, Karangwuni.

“Dulu diakhir tahun 90-an menjajakan dawet dari Ngentakrejo sampai di wilayah Karangwuni yang berjarak sekitar 30 km hanya dengan bersepeda onthel,” sambungnya.

Sekarang sudah menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi. Barter Dawet tidak hanya dengan Gabah saja, tetapi juga bisa dengan komoditas lainnya, tetapi biasanya Ibu Partiyah hanya berjualan dawet pada musim panen padi saja.

Menurutnya, sistem Barter ini memiliki kelebihan tertentu. Sistem barter mempermudah kedua pihak memperoleh barang atau jasa yang mereka butuhkan. Tanpa harus mengeluarkan uang.

Ibu Partiyah juga demikian, karena tidak memiliki lahan sawah yang menghasilkan beras, maka dengan barter kebutuhan beras untuk keluarga akan dapat tercukupi, bahkan dapat digunakan juga untuk keperluan kegiatan sosial lainnya.

Sistem Barter di Indonesia

Barter adalah kegiatan tukar menukar barang  yang terjadi tanpa perantaraan uang.  Tahap selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari siapa saja, orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya.

Sistem barter di Indonesia sudah ada sejak tahun 6000 masehi yang konon diperkenalkan oleh suku Mesopotamia. Sistem ini diadobsi oleh orang Fenisia. Barang-barang yang menjadi alat barter seperti tengkorak manusia dan garam.

Konon garam dulu dianggap sebagai barang berharga, bahkan gaji tentara Romawi pun dibayar dengan menggunakan garam. Praktik barter ini terjadi di Indonesia, bahkan hingga saat ini di daerah tertentu pun masih mengguanakan barter sebagai alat pembayaran.

Di beberapa tempat di Indonesia, beberapa masyarakat masih menggunakan sistem ini. Beberapa daerah yang bisa kita jumpai antara lain Pasar Warloka di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Pasar terapung Lok Baintan, Kalimantan Selatan, dan tentunya dengan penjual dawet di Kabupaten Kulon Progo.