Bantul Bersih Sampah 2019

Bupati Bantul, Suharsono menyerahkan penghargaan sarana dan prasarana (sarpras) pengelolaan sampah bagi masyarakat. (Foto: Pemkab Bantul)

Bantul- Persoalan mengenai sampah menjadi persoalan serius. Di Kabupaten Bantul, permasalahan sampah seringkali mengganggu. Hal ini juga dijelaskan oleh  Bupati Bantul, Suharsono.

“Volume sampah semakin hari semakin banyak, penumpukan sampah kurang mendapat perhatian sehingga sulit untuk ditanggulangi. Dalam mewujudkan Bantul Bersih Sampah 2019,” jelasnya.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bantul telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya ialah pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah, penyuluhan pendidikan lingkungan hidup oleh perguruan tinggi yang berkolaborasi dengan Pemkab.Bantul, serta gotong-royong dan gropyok sampah di sungai maupun lokasi-lokasi strategis oleh segenap elemen masyarakat

Hal ini disampaikannya saat sambutan di acara penyerahan penghargaan sarana dan prasarana (sarpras) pengelolaan sampah bagi masyarakat Kab.Bantul bertempat di Pendopo Manggala Parasamya II, Senin (09/09/2019).

Bupati menambahkan mengenai Perda No.15 Tahun 2011 yang telah direvisi menjadi Perda No 2 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Adanya perda tersebut pengelolaan sampah menjadi kewajiban bagi setiap masyarakat.

“Beberapa waktu yang lalu diadakan karnaval pakaian daur ulang yang menyadarkan kita bahwa sampah mempunyai potensi. Dalam pembinaan bank sampah di Kab.Bantul telah dilakukan evaluasi serta memberikan apresiasi agar masyarakat semangat dalam mengelola sampah.” ungkapnya.

Upaya Penanggulangan Masalah Sampah

Komisioner Ombudsman DIY, Fajar Wahyu Kurniawan menyarankan lima poin untuk menangani masalah sampah di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul maupun Sleman.

Pertama, mengolah sampah menjadi energi. Poin ini yang paling direkomendasikan kepada Pemda DIY selaku pihak yang bertanggungjawab atas pengelolaan TPST Piyungan ini.

“Dilakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah. Rumusan atas kajian dari Mochamad Saymsiro, Warek 1 Universitas Janabadra,” kata Fajar di LO DIY, Yogyakarta, Kamis (28/3).

Kedua, mengolah sampah menggunakan mesin hidrotermal. Pengolahan ini menggunakan teknik, di mana sampah dimasukkan pada reaktor dengan suhu bertekanan tinggi.  Ketiga, pengolahan sampah dengan pembriketan dan biomasa yang berasal dari limbah hewan atau tumbuhan. Keempat yakni pengolahan sampah dengan cara pirolisis sampah ban.

Kelima, pengolahan sampah dengan cara pirolisi sampah plastik. Yang mana, dengan mendaur ulang kembali sampah plastik karena sulit terurai.

“Selain didaur ulang menjadi produk plastik, bisa juga dijadikan bahan bakar,” tambahnya.

Add Comment