Tri Kirana Muslidatun: Pokoknya Anak Harus Bisa Sekolah

Tri Kirana Muslidatun selaku Ketua LOTA Kota Yogya menghadiri acara penyerahan bantuan pendidikan kepada 111 siswa yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Yogyakarta. (Foto: Pemkot Yogyakarta)

Yogyakarta- Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Sosial Kota Yogya kembali menyalurkan bantuan dari Lembaga Orang Tua Asuh (L-OTA), 23 Oktober 2019. Bantuan itu diberikan kepada siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK di Kota Yogyakarta yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Tri Kirana Muslidatun selaku Ketua LOTA Kota Yogya sangat mengapresiasi adanya kegiatan sosial ini. Menurutnya, kepedulian pihak swasta maupun perseorangan di bidang pendidikan masih tetap dibutuhkan.

“Pokoknya bantuan ini harus digunakan untuk keperluan sekolah, misalnya untuk beli seragam, sepatu, tas, atau alat tulis, nggak boleh buat beli HP atau game, sampaikan juga ke orangtua untuk tidak menggunakan uangnya untuk hal lain” ujarnya.

Tri Kirana Muslidatun menyatakan bahwa penyerahan bantuan tersebut bertujuan untuk membantu siswa dari keluarga miskin supaya mereka tidak sampai memilih putus sekolah. Istri Walikota tersebut meminta agar penerima bantuan benar-benar memanfaatkan bantuan tersebut sebaik-baiknya untuk mendukung kegiatan belajar.

“Pokoknya anak harus bisa terus bersekolah dan menuntut ilmu setinggi mungkin. Setelahnya, pasti ada jalan,” katanya.

Bantuan Pendidikan Kepada Siswa

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Yogya, Agus Sudrajat mengatakan, ada 111 siswa yang memperoleh bantuan LOTA DIY. Bantuan tersebut diberikan antara lain kepada 81 SD, 25 siswa SMP dan 5 siswa SMK.

“Siswa SD akan memperoleh bantuan Rp 240 ribu/siswa, siswa SMP memperoleh Rp 360 ribu/siswa dan SMK memperoleh Rp 480 ribu/siswa,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan tersebut merupakan bentuk dari pengejewantahan spirit Segoro Amarto dalam memantapkan predikat Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan.

“Kota Yogya dikenal sebagai kota pendidikan sehingga diharapkan semua anak-anak dapat bersekolah, minimal bisa menyelesaikan hingga tingkat SMA atau wajib belajar sembilan tahun. Jangan sampai ada siswa di Yogya yang putus sekolah sebelum SMA,” ujarnya.

Bantuan tersebut merupakan hasil tali asih dari PT Sari Husada, Pamella Supermarket dan perorangan.

“Bantuan ini kami arahkan agar digunakan sebagai penunjang pendidikan. Seperti untuk membeli buku, tas atau sepatu” ungkapnya.

Menurutnya, predikat Kota Pendidikan di satu sisi merupakan kebanggan, namun di sisi lain hal ini memberikan tanggung jawab bagi pemerintah karena tidak semua anak memilik kesempatan yang sama karena ketidakmampuan secara ekonomi sehingga diperlukan sense of crisis semua pihak untu secara sadar mau bekerjasama mempersiapkan masa depan anak-anak melalui perluasan kesempatan bersekolah.

Add Comment