Cegah Diabetes dengan Warisan Kearifan Lokal

Konsumsi kalori yang melebihi kebutuhan kita kemudian meningkatkan risiko munculnya penyakit degeneratif seperti asam urat, kolesterol, hipertensi dan diabetes mellitus. (Foto: nps.org.au)

Diabetes merupakan kelainan metabolisme kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Diabetes sendiri terdapat 2 tipe. Tipe 1 merupakan diabetes yang disebabkan karena keturunan, dimana penderitanya tidak dapat memproduksi insulin. Sementara tipe 2 disebabkan karena kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau karena kurang efektifnya insulin yang diproduksi tubuh. Penyebab diabetes tipe 2 seringkali dikaitkan dengan perilaku hidup kurang sehat, seperti diet tinggi kalori, merokok dan kurang olah raga. Seiring dengan gaya hidup modern masyarakat yang cenderung kurang sehat, dari tahun ke tahun jumlah penderita diabetes pun semakin meningkat.

Laporan Survailans Terpadu Penyakit (STP) Puskesmas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2017 menunjukkan bahwa penyakit diabetes mellitus menduduki urutan keempat penyakit yang paling banyak diderita masyarakat. Pada tahun 2016 terdapat 9473 kasus diabetes dan pada tahun berikutnya terdapat 5161 kasus diabetes baru di DIY. Data ini menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu penyakit kronis berbahaya dengan angka penderita yang besar di DIY. Tidak hanya di Jogja, diabetes merupakan salah satu penyakit penyebab kematian utama di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2016 lalu saja, terdapat 1,6 juta kematian yang disebabkan oleh diabetes di dunia.

Tidak dapat dipungkiri jika globalisasi dengan pelan dan pasti telah mengubah gaya hidup kita. Kebiasaan makan di rumah telah bergeser dengan jajan di luar. Makanan tradisional seperti kedelai, umbi-umbian atau jagung dianggap sebagai makanan masyarakat berstatus sosial rendah. Akibatnya makanan instan dan restoran cepat saji yang menawarkan makanan dan minuman tinggi kalori menjadi lebih diminati masyarakat.

Konsumsi kalori yang melebihi kebutuhan kita kemudian meningkatkan risiko munculnya penyakit degeneratif seperti asam urat, kolesterol, hipertensi dan diabetes mellitus. Kondisi tersebut diperparah dengan kesibukan manusia modern yang membuatnya lebih banyak duduk dibanding bergerak. Alih-alih berolah-raga, masyarakat modern, khususnya anak muda, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk nongkrong di kafe. Karena alasan itulah kemudian prevalensi penderita diabetes di usia muda menjadi meningkat.

Diabetes merupakan penyakit dengan risiko komplikasi seperti darah tinggi, kebutaan, amputasi tubuh, gagal ginjal hingga serangan jantung. Belum lagi, penderita diabetes usia muda juga rawan akan penyakit kejiwaan yang dipicu stress karena penyakit komplikasinya. Di lain pihak, karena diabetes (tipe 2) merupakan penyakit yang muncul karena gaya hidup tidak sehat, maka pencegahannya pun dapat dilakukan dengan mengatur gaya hidup yang sehat. Olah raga, tidak merokok dan mengatur pola konsumsi makanan dan minuman kita.

Salah satu pola diet pencegah diabetes yang baik adalah dengan memanfaatkan pangan tradisional yang tentu saja dengan tetap menekankan keseimbangan dan variasi gizinya. Beberapa sumber karbohidrat pangan lokal yang baik untuk mencegah diabetes di antaranya adalah ubi jalar dan jagung. Ubi jalar dan jagung memiliki nilai glikemik yang rendah, yaitu sekitar 44 dan 46. Semakin rendah nilai glikemiknya, semakin lambat makanan tersebut diproses menjadi gula. Dengan diet makanan yang rendah nilai glikemiknya, lonjakan kadar gula darah dapat dikontrol. Untuk keseimbangan gizi, sayuran hijau, kacang-kacangan dan ikan juga harus dikonsumsi. Sayuran hijau seperti bayam dan sawi, selain kaya akan vitamin, mineral dan nutrisi esensial lainnya juga rendah kalorinya sehingga baik untuk mengendalikan kadar gula darah. Kacang-kacangan, kacang tanah atau mete misalnya, juga pilihan pangan yang baik untuk mencegah diabetes. Kacang bukan hanya kaya akan protein, namun juga mengandung karbohidrat kompleks dengan nilai glikemik rendah, dan kaya akan magnesium yang berperan untuk menjaga kestabilan kadar gula darah.

Selain sumber pangan yang sehat, Indonesia juga mempunyai ethno-medicine luar biasa namun terlupakan oleh masyarakat modern. Jamu tradisional telah turun temurun dipercaya dapat mencegah berbagai penyakit termasuk kencing manis atau diabetes. Kandungan bahan aktif berbagai jenis jamu pun telah digali dengan pendekatan ilmiah. Brotowali misalnya, pernah diteliti kemampuannya untuk menurunkan kadar gula darah pada tikus yang dibuat diabetes (hiperglikemik).

Sambiloto mempunyai kandungan senyawa aktif andrografolid sebagai anti diabetes, dan juga kaya senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Daun salam juga kaya akan berbagai senyawa, eugenol, tannin dan flavonoid, yang mampu menurunkan kadar gula darah kelinci sebagai hewan coba. Selain itu kayu manis juga telah banyak digunakan orang sebagai obat tradisional penyakit diabetes. Kayu manis mengandung senyawa kumarin yang dapat menurunkan kadar gula darah dan terbukti secara ilmiah meningkatkan sensitivitas hormon insulin. Dimana semakin sensitif maka semakin kecil pula jumlah insulin yang dibutuhkan tubuh untuk menyetabilkan kadar gula darah tubuh.

Begitu banyak warisan kearifan lokal yang telah secara turun temurun dimanfaatkan orang untuk menjaga kesehatannya, namun terlupakan karena modernisasi. Di lain pihak, penyakit diabetes dan komplikasinya membutuhkan biaya pengobatan sangat mahal. Diabetes bukan saja akan menjadi beban ekonomi penderitanya, tapi juga masyarakat dan pemerintah dengan program jaminan kesehatan nasionalnya. Oleh karena itu, di tengah kisruh defisit anggaran BPJS saat ini, seyogyanya kampanye gaya hidup sehat dengan memanfaatkan kearifan lokal perlu digiatkan oleh pemerintah. Mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?

Opini ini ditulis oleh Nurrahmi Dewi Fajarningsih, M. Biotech (Adv.). Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu Biologi, Fakultas Biologi UGM

 

Add Comment